
Halaman 2 — Ishlah dan Ukhuwah: Adab Menghadapi Konflik
Analisis linguistik singkat
Pada Al-Hujurat ayat 9–10, kata yang menonjol adalah فَأَصْلِحُوا (fa-aṣliḥū), perintah untuk melakukan iṣlāḥ, yakni memperbaiki keadaan dan memulihkan hubungan. Ayat 9 juga menambahkan بِالْعَدْلِ dan وَأَقْسِطُوا, yang menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keadilan. Pada ayat 10, ungkapan إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ memakai bentuk pembatasan innamā: hubungan orang beriman ditempatkan dalam kerangka persaudaraan yang memiliki konsekuensi sosial.
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَـٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ٩
“Jika dua kelompok orang beriman berselisih keras, usahakanlah perdamaian di antara keduanya. Jika salah satunya melampaui batas terhadap yang lain, hentikan kezaliman itu sampai kembali kepada ketentuan Allah. Apabila telah kembali, damaikan keduanya dengan adil dan berlaku lurus. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang menegakkan keadilan.” QS. Al-Hujurat [49]: 9.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١٠
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, perbaikilah hubungan antara saudara-saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kalian memperoleh rahmat.” QS. Al-Hujurat [49]: 10.
Penjelasan: damai bukan berarti membiarkan ketidakadilan
Al-Qur’an tidak mengajarkan perdamaian semu. Islah harus berjalan bersama keadilan. Ketika terjadi perselisihan, pihak ketiga tidak seharusnya memperkeruh suasana dengan membawa gosip baru, memihak karena kedekatan, atau menjadikan konflik sebagai tontonan. Tugas moralnya adalah menurunkan ketegangan, mengembalikan persoalan kepada fakta, mencegah tindakan zalim, dan mencari jalan keluar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ayat 10 kemudian memberi fondasi emosional dan spiritual: ukhuwah. Persaudaraan tidak berarti selalu sepakat. Orang yang bersaudara dapat berbeda pendapat, tetapi tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan, menyebarkan aib, atau memutus komunikasi tanpa alasan yang benar. Ukhuwah menuntut kemampuan untuk berbeda dengan tetap menjaga martabat.
Tujuan penyelesaian konflik bukan memenangkan ego salah satu pihak, melainkan mengembalikan hubungan kepada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan.
Penerapan dalam keseharian
- Jika dua teman berselisih, jangan menjadi “kurir emosi” yang membawa ucapan panas dari satu pihak kepada pihak lain.
- Dalam rapat, bedakan kritik terhadap gagasan dari serangan terhadap pribadi.
- Berikan kesempatan yang seimbang kepada pihak yang berselisih untuk menjelaskan duduk perkara.
- Jika kita sendiri bersalah, keberanian meminta maaf merupakan bagian dari ishlah.
- Jika ada kezaliman, hentikan dengan cara yang aman, adil, proporsional, dan sesuai aturan; jangan menyamakan perdamaian dengan membiarkan pihak yang dirugikan terus dirugikan.




