
Sering kali kita beralasan, “Saya sibuk.”
Sibuk kerja. Sibuk urusan rumah. Sibuk tugas-tugas.
Cobalah kita jujur pada diri sendiri
Jangan-jangan bukan sibuk alasan utama tidak ada waktu baca Al-Qur’an.
Sebab di luar sana, ada orang-orang yang jauh lebih sibuk dari kita.
Tanggung jawab mereka lebih berat, waktunya lebih sempit, urusannya lebih padat.
Namun anehnya, Al-Qur’an tetap punya tempat di hidup mereka.
Tetap rutin baca. Bahkan menghafalnya. Ia tetap ada banyak waktu buat berduaan dengan Al-Qur’an.
Maka mungkin masalahnya bukan pada tidak ada waktu.
Mungkin masalahnya ada pada hati.
Bisa jadi yang menghalangi kita dari membaca Al-Qur’an bukan kesibukan,
tetapi dosa dan maksiat yang sudah semakin tebal.
Dosa yang menumpuk tanpa dibasuh taubat.
Maksiat yang dilakukan diam-diam lalu dilupakan tanpa menyesal.
Al-Qur’an bukan kalam biasa.
Ia adalah kalam suci Allah, firman Tuhan semesta alam.
Tidak semua hati diberi kemudahan untuk dekat dengannya.
Tidak semua lisan dipilih untuk melafazkannya.
Tidak semua mata diberi cahaya untuk menatap ayat-ayat-Nya.
Tidak semua telinga dilembutkan untuk mendengarnya.
Tidak semua tangan dimuliakan untuk menyentuh mushaf-Nya.
Al-Qur’an adalah kemuliaan.
Dan kemuliaan hanya diberikan kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Yang dipilih.
Maka ketika suatu hari kita merasa berat membuka mushaf,
ketika ayat-ayat terasa jauh,
ketika Al-Qur’an seperti tidak lagi memanggil kita,
jangan buru-buru menyalahkan waktu.
Berhentilah sejenak.
Tundukkan kepala.
Dan ucapkan istighfar.
“Ya Allah, ampunilah aku.
Jangan-jangan gelapnya dosaku telah menghalangiku dari cahaya firman-Mu.”
Karena terhalang dari Al-Qur’an bukanlah perkara kecil.
Ia berarti terhalang dari banyak kebaikan.
Terhalang dari nasihat.
Terhalang dari penenang jiwa.
Terhalang dari petunjuk.
Terhalang dari cahaya yang menuntun hidup.
Al-Qur’an tidak pernah menjauh.
Kitalah yang sering mundur pelan-pelan,
hingga akhirnya merasa asing dengan firman Tuhan sendiri.
Maka jika hari ini Al-Qur’an terasa jauh,
itu bukan saatnya mencari alasan,
tetapi saatnya kembali.
Dengan taubat.
Dengan istighfar.
Dengan hati yang merendah.
Sebab ketika Allah kembali mengizinkan Al-Qur’an hadir di hidup kita,
itu bukan karena kita hebat,
tetapi karena Dia masih mencintai kita.
Cilacap, 16 Desember 2025




