Artikel

Belajar Esensi Dakwah Dari Para Muallaf

Oleh : M. Abdurrasyid

Banyak orang merasakan bahwa memulai hal yang baru dari titik nol merupakan perjuangan luar biasa. Apalagi jika perjuangan itu harus berseberangan dengan komunitas yang selama ini menjadi lingkaran hidupnya. Belum lagi muncul permusuhan dan alienasi dari keluarga dan kerabat dekat yang ada. Hal yang demikian begitu melekat pada saudara kita yang memutuskan untuk hijrah atau bahkan menjadi muallaf.

Muallaf dalam terminologi islam memang dinisbatkan bagi mereka yang baru mengrikrarkan dua kalimat syahadat ketika sudah dewasa, atau setidaknya yang sudah menginjak usia mukallaf. Latar belakang keputusan mereka pun beragam dan ini kembali pada niat masing-masing individu. Namun demikian, Fahmi Hisyam (2025) menjabarkan setidaknya ada dua pendorong utama mereka mau menjadi muallaf.

Pertama mereka menemukan jawaban atas keresahan spiritual selama hidupnya. Hal semacam ini tidak lepas dari kucuran ilmu Allah lewat berbagai saluran yang mampu melunakkan dan menundukkan hati mereka, sehingga akhirnya bisa menerima kebenaran ajaran agama islam. Sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Hajj 54

وَّلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Agar orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengetahui bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Tuhanmu sehingga mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.

Kedua, menjadi muallaf itu memang panggilan hidayah. Artinya, kekerasan hati mereka sudah “dilunakkan” oleh argumentasi ilahiah nan menggoncang aqidah. Kesempitan hati karena kalah debat argumentasi berubah jadi kelapangan jiwa yang membuka jalan  untuk menampung berbagai ilmu keagamaan. Hal ini begitu relevan dengan kalam Ilahi dalam QS. Az-zumar 22.

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Atau ada kemungkinan ketiga yang menjadikan mereka paling rentan secara aqidah yaitu  apabila seseorang menjadi muallaf karena ingin menikahi seorang pujaan hati yang didambakannya. Ini berlaku bagi siapa pun yang enggan terjebak dalam ikatan pernikahan beda agama tapi hidupnya akan dihiasi dengan kubangan perzinaan.

Dari ketiga alasan tersebut, banyak diantara para muallaf  menjadi manusia yang rentan secara psikologi dan sebagian lainnya bahkan menjalar ke ranah ekonomi. Hal ini menjadi alasan kongkrit mengapa mereka menjadi salah satu mustahiq zakat. Tentu saja bentuk bantuan bagi muallaf bukan sekadar seperdelapan bagian zakat mal saja sebagaimana termaktub dalam QS. Attaubah ayat 60. Dengan alasan tersebut pula tidak sedikit badan amil zakat baik milik pemerintah maupun swasta kemudian dengan berani mengalokasikan dana khusus untuk pembinaan mereka dalam rumah besar bernama Muallaf Center.

Melalui rumah besar tersebut proses pendampingan dan penguatan para muallaf dijalankan secara sistematis agar mereka tetap bisa Istiqomah. Menurut Iskandar Zhang (2025) setidaknya ada tujuh ranah yang mesti menjadi fokus perhatian (madinah) dalam rangka mendampingi para muallaf.

Pertama, madinatul aqidah yang menitik beratkan pada pengokohan prinsip ketauhidan dan memantapkan keyakinan sejati bahwa Allah harus disucikan dari praktik kesyirikan.

Kedua, madinatul ilmi yang mendorong para muallaf menjadi cinta majelis ilmu dimanapun mereka berada. Terutama ilmu BTQ, fiqh thaharah, tafsir lafdziah, dan shalat.

Ketiga, madinatul ibadah yang menekankan bahwa keikhlasan adalah salah satu pilar terpenting dalam ibadah. Selain itu, ibadah tidak hanya urusan hablun minallah tapi justru dalam kehidupan nyata hablumminannas jauh lebih banyak waktunya.

Keempat, madinatul akhlaq yang menekankan pada pribadi islami dalam menjalankan kesehariannya.

Kelima, madinatul muamalah ini juga penting terutama bagi para muallaf yang akhirnya teralienasi dan jatuh ke jurang kemiskinan setelah mereka masuk islam. Namun prinsip utama dalam madinatul muamalah ini adalah pemberdayaan bukan malahan menciptakan ketergantungan.

Keenam, madinatul ukhuwah penting untuk mendorong para muallaf bisa hidup secara ingklusi dan keluar dari zona nyaman sebelumnya.

Ketujuh, madinatul jihad adalah ujung akhir pembinaan muallaf yang sudah kokoh akidah, ilmu, potensi bersosialisasi, dan juga semangat berislam yang lebih maju. Jihad dimanknai sebagai pendorong perubahan ke arah masyarakat islam sejati bukan hanya perang ideologi atau perang fisik.

Bila melihat ketujuh fokus tersebut, sebenarnya juga relevan bagi kita yang bergelut dalam dunia dakwah. Terutama dakwah komunitas yang mewajibkan para dai nya untuk lebih tanggap akan kebutuhan mad’u. Bahkan harus diakui bahwa menyentuh hati para mad’u dalam komunitas tertentu juga perlu kejelian dan kecerdasan tersendiri terutama dalam mengidentifikasi aspek kode etik statis dan dinamis yang berlaku di kalangan mereka. Oleh karena itu ketujuh fokus perhatian di atas merupakan esensi menarik yang perlu kita cermati dan menjadi perhatian bersama. Wallahu a’lam bishowab.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button