Khutbah Jum’at : Penyakit Qaswatul Qalb, Ketika Hati Menjadi Lebih Keras dari Batu
Oleh : Abdul Azis, S.Hum., M.Pd. (Anggota Majelis Tabligh PCM Kajen)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْقُلُوبَ مَحَلَّ الْهِدَايَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
قال الله تعالى:. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,
Mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan yang sebenar-benarnya takwa, yang tidak hanya terucap di lisan, tidak hanya terlihat dalam gerakan badan, namun berurat akar di dalam qalb (hati) kita.
Sesungguhnya, pusat komando dari seluruh amal perbuatan manusia berada di dalam hatinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Ada satu penyakit mematikan yang tidak menyerang fisik, melainkan menyerang spiritual kita. Penyakit itu bernama Qaswatul Qalb, atau kekerasan hati. Hati yang keras adalah hati yang tidak lagi bergetar ketika asma Allah disebut, tidak lagi menangis ketika ayat-ayat azab dibacakan, dan tidak lagi merasa bersalah ketika dosa dikerjakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan yang sangat menakutkan tentang hati yang keras ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 74:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٧٤
“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim) menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai celaan dan kecaman terhadap Bani Israil atas sikap mereka setelah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kemampuan-Nya dalam menghidupkan orang yang sudah mati. Setelah mereka melihat berbagai mukjizat secara langsung hati mereka justru tidak melembut, melainkan mengeras. Ibnu Katsir menekankan bahwa Allah menyandingkan hati mereka dengan batu, bukan dengan besi atau gunung. Mengapa? Karena besi bisa dilebur dengan api, sedangkan batu tidak bisa dilunakkan.
Lebih menakjubkan lagi, Ibnu Katsir menukil riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang menegaskan bahwa batu sesungguhnya memiliki sifat tunduk (khashyah) atau takut kepada Allah. Ada batu yang memancarkan air menjadi sungai, ada yang terbelah mengeluarkan mata air kehidupan, dan ada batu yang runtuh dari atas tebing murni karena rasa takutnya kepada Allah. Namun, hati manusia yang terkena penyakit qaswatul qalb lebih buruk dari batu, karena ia membatu dan tidak meneteskan satu pun kebaikan atau rasa takut kepada Rabb-nya.
Jamaah rahimakumullah,
Menurut Ibnu Jarir dalam penafsiran ayat di atas bahwa sebagian hati mereka keras seperti batu dan sebagian lainnya lebih keras lagi dari batu. Lantas apa yang menyebabkan hati ini menjadi lebih keras dari batu? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita tentang hal-hal yang memicu kekerasan hati. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda:
لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“anganlah kalian banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara tanpa mengingat Allah mengeraskan hati. Dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Zuhud No. 2411).
Di samping lalai dari mengingat Allah, kemaksiatan yang dilakukan terus-menerus adalah debu yang menumpuk hingga menjadi kerak di dalam hati.
Seorang ulama Tabi’in yang agung, Malik bin Dinar rahimahullah, pernah menyampaikan sebuah perkataan yang patut kita renungkan: “Tidaklah seorang hamba dihukum dengan suatu hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras. Dan tidaklah Allah marah kepada suatu kaum, melainkan Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari hati mereka.”
Jamaa’ah Rahimakumullah
Lantas, bagaimana jika kita merasa hati kita mulai mengeras? Susah menangis karena dosa, malas beribadah, dan enggan menerima nasihat?
Islam memberikan solusi yang aplikatif. Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah mengeluhkan tentang hatinya yang keras. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan resep yang luar biasa:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad No. 7576, dihasankan oleh Al-Albani).
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabil ash-Shayyib juga menambahkan bahwa ada dua hal yang bisa menghancurkan kekerasan hati, yaitu: Mengingat kematian (Dzikrul maut) dan memperbanyak Zikir serta Tilawah Al-Qur’an.
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram.” [ar-Ra’d: 28]
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melembutkan hati kita, menjadikannya hati yang salim (bersih), yang mudah menerima kebenaran, dan bergetar karena takut dan cinta kepada-Nya.
بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ،. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ اكْفِنا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.




