KhutbahKhutbah Jum'at

Khutbah Jum’at : Rezeki Halal dan Berkah, Tantangan Muslim di Era Modern

Oleh : M. Lutfi Maulana, M.Pd. (Guru ISMUBA SMK Muhammadiyah Kajen)

Rezeki Halal dan Berkah: Tantangan Muslim di Era Modern

Oleh : M. Lutfi Maulana, M.Pd.

(Guru ISMUBA SMK Muhammadiyah Kajen)

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفٰى بِاللَّهِ شَهِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Pada khutbah Jumat hari ini, marilah kita senantiasa meningkat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Karena hanya dengan bekal iman dan taqwa, kita akan mendapatkan nikmat bahagia di dunia dan akhirat.

Salawat beriring salam, semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw. Semoga limpahan rahmatnya tercurah kepada keluarga, para sahabat dan kita semua selaku umatnya, hingga hari akhir nanti.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, persoalan rezeki menjadi salah satu ujian paling nyata bagi umat Islam. Kemajuan teknologi dan globalisasi ekonomi telah membuka begitu banyak peluang usaha dan pekerjaan. Tetapi pada saat yang sama juga membuka pintu bagi praktik-praktik yang menyimpang dari nilai-nilai Islam. Masyarakat kini hidup dalam tatanan gaya hidup konsumtif, tuntutan finansial yang tinggi, serta standar sosial yang semakin materialistis. Akibatnya, tidak sedikit orang yang tergelincir dalam cara-cara hidup yang tidak halal demi memenuhi kebutuhan atau mengejar kemewahan; Praktik riba dianggap biasa, suap disamarkan sebagai ‘uang pelicin’, korupsi dibungkus dengan istilah loyalitas, jual beli barang haram atau syubhat dianggap sesuatu yang lumrah selama laku di pasaran. Dalam dunia digital, manipulasi data keuangan, penipuan online, hingga konten haram yang menghasilkan uang semakin sulit dibendung. Ini semua menunjukkan bahwa tantangan umat Islam hari ini bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi memastikan bahwa nafkah yang diperoleh itu bersumber dari jalan yang halal dan diberkahi Allah swt. Padahal, dalam ajaran Islam. Rezeki halal bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari ketaqwaan dan keberkahan hidup. Al-Quran secara eksplisit memerintahkan umat manusia untuk mencari makan dari rezeki yang halal dan thayyib (baik), sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al-Baqarah : 172,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Rezeki yang halal, meskipun sedikit, akan membawa pada ketenangan jiwa, kesehatan hati, dan ketenteraman rumah tangga. Sebaliknya, rezeki yang haram, meskipun tampak melimpah, sesungguhnya akan membawa pada kegelisahan, menjauhkan doa dari penerimaan, dan menumbuhkan daging-daging haram yang lebih layak dibakar api neraka, sebagaimana sabda Nabi saw, “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (H.R. Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal mencari rezeki. Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, ibadah dan muamalah. Justru dalam ajaran Islam, mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ibadah; Bekerja, berdagang, bertani, menjadi pegawai, berbisnis, bahkan profesi-profesi abad ini seperti programmer, desainer, maupun content creator. Selama dilakukan dengan niat yang benar dan melalui cara yang halal, semua itu akan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya, “Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban (ibadah).” (H.R. Thabrani). Artinya, setelah menunaikan kewajiban-kewajiban agama seperti salat dan puasa, seseorang juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya dengan cara yang diridhai oleh Allah swt. Bahkan, para sahabat Nabi sangat meneladani semangat ini. Mereka bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pekerja keras dan pencari nafkah yang jujur. Sebutlah Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang berhijrah ke Madinah tanpa membawa harta apa pun, lalu menjadi pengusaha suskes berkat kejujuran dan kerja kerasnya. Ketika ditawari bantuan oleh sahabat Anshar, beliau menjawab, “Tunjukkan kepadaku di mana pasar.” Ini menunjukkan bahwa bekerja bukanlah beban, tetapi kehormatan. Dan jika dilakukan dengan kejujuran dan amanah, ia menjadi bagian dari jihad. Rasulullah saw bersabda, “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para Syuhada” (H.R. Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Rezeki yang tidak halal, baik diperoleh melalui riba, suap, korupsi, menipu atau melakukan jual beli yang diharamkan. Semuanya bukan hanya sekadar kesalahan moral atau pelanggaran hukum agama, tetapi juga racun yang dapat merusak keberkahan hidup seorang Muslim, baik di dunia maupun di akhirat. Islam memandang bahwa harta bukan sekadar alat tukar atau pemuas kebutuhan, melainkan amanah yang harus diperoleh dengan cara yang bersih, digunakan untuk tujuan yang benar, dan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Ketika seseorang memperoleh harta dari jalan yang haram, meskipun ia tampak sukses secara duniawi, pada hakikatnya ia sedang menggali kehancurannya sendiri, mulai dari rusaknya hati, tertolaknya doa, kerasnya jiwa, sampai sulitnya mendapat hidayah. Bahkan Nabi saw pernah menceritakan seorang laki-laki yang bersusah payah dalam ibadah; Pakaiannya compang-camping, tubuhnya berdebu, ia mengangkat tangannya ke langit dan memohon kepada Allah swt, tetapi ternyata, kata Nabi, “Makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana bisa doanya dikabulkan?.” (H.R. Muslim).

Itulah dampak yang paling serius dari rezeki yang haram; Tertolaknya doa. Padahal doa adalah senjata orang mukmin, penghubung hati dengan langit, dan jalan datangnya rahmat Allah swt. Namun, jika seseorang mengisi perutnya dengan yang haram, bahkan ibadahnya bisa tidak bernilai di sisi Allah swt, sebagaimana dijelaskan oleh imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin: “Makanan haram dapat memadamkan cahaya hati dan menjauhkan seseorang dari kedekatan dengan Allah swt.” Tidak hanya itu, rezeki haram juga membawa dampak sosial dan keluarga yang merusak. Anak-anak yang dibesarkan dari makanan haram, akan tumbuh dengan hati yang keras, sulit menerima nasihat, dan cenderung pada maksiat. Dalam banyak kasus, orang tua mengeluh anak-anaknya durhaka, ibadahnya dan akhlaknya rusak, padahal bisa jadi sumber masalahnya bukan pada metode pendidikan, melainkan pada sumber nafkah yang bersih.

Dampak lainnya adalah hilangnya keberkahan. Harta haram, meskipun banyak, namun tidak akan memberi rasa cukup. Seperti air laut, semakin diminum, maka akan semakin haus. Maka jangan heran, jika orang yang hidup dari harta haram akan merasa terus gelisah, selalu merasa kurang, dan hidupnya tidak tenang. ia mungkin bisa membeli apa saja yang diinginkan, tetapi sesungguhnya ia tidak dapat membeli ketenangan. Inilah yang disebut oleh Al-Quran sebagai “mataa’un qalīl, tsumma ma’wāhum jahannam”; Ketengan yang sedikit, kemudian tempatnya kembali ke neraka”. (Q.S. Ali-Imron : 197).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ اْلقُرأنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الاٰيَاتِ وَالذِّكْرَ اْلحَكِيْمِ، وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الَسمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Marilah kita merenungi tantangan yang dihadapi kaum Muslim dalam menjaga rezeki halal di zaman ini. Kebutuhan hidup yang tinggi, persaingan kerja yang ketat, dan tekanan sosial yang besar sering membuat sebagian orang menghalalkan segala cara. Namun, orang yang beriman meyakini bahwa: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

اَلَّلهُمَ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاِء مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ  مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَاقَاضِيَ اْلحَاجَاتِ.اَلَّلهُمَ إِنَّانَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنىَ.

رَبَّناَ هَبْ لَناَ مِنْ أَزْوَاجِناَ وَذُرَّيَّاتِناَ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَاماً. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ.

رَبَّناَاٰتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِى اْلأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعَزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلىَ اْلمُرْسَلِيْنَ، وَاْلحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button