Artikel

Merasa Paling Benar, Jalan Sunyi Menuju Kehancuran Iman

Oleh : Yudi Kodarto

Merasa paling benar itu memuaskan, tapi sering menjadi awal runtuhnya iman. Agama ini dibangun dengan ilmu dan adab, bukan dengan vonis dan amarah.

Ketika Mudah Mengkafirkan Menjadi Penyakit Hati Di zaman ini, mengucapkan “kafir” terasa semakin ringan.

Perbedaan pendapat dianggap penyimpangan,
perbedaan manhaj dicap kesesatan,
dan perbedaan ijtihad diperlakukan seperti kekufuran.

Padahal, lidah yang paling berbahaya bukan yang berdusta, tetapi yang merasa paling suci.
Ketika Kebenaran Dikuasai Nafsu
Merasa benar adalah fitrah.

Namun merasa paling benar adalah awal petaka.

Banyak orang tidak lagi sibuk memperbaiki diri,
tetapi sibuk mengukur iman orang lain. Seakan-akan surga telah dibagikan, dan neraka sudah diwakilkan.

Allah ﷻ mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Merasa diri paling benar seringkali bukan tanda kuatnya iman, melainkan lemahnya kejujuran hati.

Mudah Mengkafirkan: Dosa yang Kembali
Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras:
“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”

Ini bukan perkara ringan.
Vonis iman dan kufur bukan wilayah emosi,
melainkan urusan besar yang hanya boleh dilakukan dengan ilmu, kehati-hatian, dan wewenang yang sah.

Banyak yang lupa, bahwa kesalahan dalam menahan vonis lebih selamat daripada kesalahan dalam menjatuhkan vonis.
Perbedaan Bukan Selalu Penyimpangan
Tidak semua perbedaan adalah kesesatan.
Tidak semua yang tidak sama dengan kita
berarti menyimpang dari kebenaran.
Para ulama sejak dahulu berbeda pendapat
namun saling menjaga adab, karena mereka tahu:
kebenaran tidak pernah membutuhkan kebencian untuk berdiri.

Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)

Ilmu melahirkan kehati-hatian.
Kebodohan melahirkan keberanian tanpa batas.
Akar Masalah: Hati yang Ingin Menang
Seringkali, yang dipertahankan bukan kebenaran, melainkan ego.

Bukan karena dalil lebih kuat,
tetapi karena tidak siap salah.

Bukan karena membela agama,
tetapi karena ingin diakui sebagai yang paling lurus.

Padahal agama ini tidak membutuhkan pembela yang melukai sesama muslim.

Penutup
Jika hari ini kita mudah menyalahkan,
cepat menyesatkan, dan ringan mengkafirkan,
maka barangkali yang perlu diperiksa bukan orang lain— tetapi hati sendiri.
Sebab orang yang benar-benar takut kepada Allah akan lebih sibuk berkata:
“Apakah aku sudah selamat?”
daripada sibuk memastikan orang lain binasa.

yudi

manusia fakir,haus akan ilmu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button