Membaca Muhammadiyah dari Layar Gawai
Muhammadiyah, Dakwah, dan Amanat Tajdid di Era Digital

Akses https://kasmui.cloud/petajalan/
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Petuah KH Ahmad Dahlan tersebut terasa kian mendesak untuk direnungkan hari ini—saat dunia bergerak dalam akselerasi tinggi, informasi meluap tanpa bendungan, dan agama kerap terjebak dalam sekat-sekat simbol yang kehilangan makna.
Fenomena hari ini menunjukkan paradoks yang nyata: di satu sisi, umat tampak semakin religius secara permukaan (aspek eksoteris). Namun di sisi lain, krisis akidah, degradasi moral, dan ketimpangan sosial justru kian mengakar. Muhammadiyah membaca kenyataan ini bukan sekadar sebagai tantangan sosial, melainkan sebagai tanda zaman—ayat kauniyah—yang menuntut ijtihad baru, bukan sekadar nostalgia romantis masa lalu.
Kesadaran inilah yang mengkristal dalam buku Peta Jalan Persyarikatan Muhammadiyah: Mengurai Problematika dan Tantangan di Era Digital. Sebuah ikhtiar strategis untuk menuntun langkah Persyarikatan agar tetap tegak dan relevan di abad kedua perjuangannya.
Dari Langgar ke Algoritma
Ketika KH Ahmad Dahlan mengajarkan tafsir Al-Ma’un, beliau tidak berhenti pada pengulangan teks. Beliau melontarkan pertanyaan retoris yang menggugah: “Sudahkah kamu mengamalkannya?”
Spirit amali inilah yang menjadi DNA Muhammadiyah: Islam tidak hanya untuk diyakini sebagai dogma, tetapi dihadirkan sebagai solusi konkret. Jika dahulu medan dakwah berada di langgar, pasar, dan sekolah, hari ini medan laga itu telah berpindah ke ruang digital—pada linimasa media sosial, mesin pencari, dan jeratan algoritma.
Buku ini menegaskan bahwa tantangan umat kini kian subtil. Pendangkalan akidah terjadi secara senyap melalui konten hiburan, budaya instan, dan logika viral. Otoritas keilmuan pun terfragmentasi, melahirkan fenomena “ustadz Google” yang sering kali lebih diamini daripada kedalaman ilmu ulama dan institusi resmi.
Ketika Agama Menjadi Konten
Media sosial telah mendisrupsi cara manusia beragama. Ibadah kerap direkam, doa dipamerkan, dan derajat kesalehan sering kali dikuantifikasi melalui jumlah likes. Buku ini menyebutnya sebagai “jebakan ritualistik”—kondisi di mana agama tampak ramai di permukaan, namun kehilangan daya ubah sosialnya yang hakiki.
Padahal, Kyai Dahlan selalu mengingatkan bahwa Islam harus membawa pencerahan (liberasi): “Sedikit bicara, banyak bekerja.” Muhammadiyah dituntut agar tidak larut dalam hiruk-pikuk simbol digital, melainkan tetap setia pada misi amar ma’ruf nahi munkar yang membumi dan berdampak nyata.
Kemiskinan Baru, Mustadh’afin Baru
Salah satu sorotan paling tajam dalam buku ini adalah kemunculan kelas “prekariat”: para pekerja ojek daring, kurir, hingga buruh lepas digital yang hidup dalam kerentanan struktural. Mereka mungkin tidak terlihat miskin secara konvensional, namun mereka rapuh tanpa jaminan kepastian masa depan.
Bagi Muhammadiyah, ini adalah panggilan ideologis. Spirit Al-Ma’un tidak boleh mandek pada level santunan karitatif (filantropi tradisional), tetapi harus bertransformasi menjadi:
- Advokasi kebijakan yang berpihak;
- Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas digital;
- Perlindungan sosial yang relevan dengan dinamika zaman.
Sebagaimana amanat Muktamar ke-48 di Surakarta, Persyarikatan dipanggil untuk “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”—bukan sekadar melalui dakwah lisan, melainkan aksi sosial yang berkeadilan.
Dakwah Berbasis Data, Bukan Sekadar Intuisi
Buku ini juga melontarkan otokritik internal yang sehat. Sebagai organisasi raksasa dengan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Muhammadiyah tidak boleh berjalan tanpa arah yang presisi. Dakwah yang hanya mengandalkan intuisi dianggap tidak lagi memadai dalam menghadapi kompleksitas zaman.
Sejalan dengan Tanfidz Keputusan Muktamar ke-48, transformasi digital dan reformasi organisasi adalah harga mati. Data, teknologi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) harus diposisikan sebagai alat (wasilah) untuk memastikan dakwah menjadi lebih akurat, tepat sasaran, dan inklusif.
Fikih Informasi: Etika di Ruang Siber
Di tengah kepungan hoaks, fitnah, dan polarisasi, Muhammadiyah menawarkan Fikih Informasi sebagai kompas etis. Prinsip tabayyun (verifikasi), menjaga kehormatan sesama, dan mengutamakan kemaslahatan publik ditegaskan sebagai manifestasi iman di jagat digital. Pesannya lugas: berislam tidak berhenti di pintu masjid, tetapi juga harus tercermin pada setiap ketukan di layar gawai.
Menjaga Api Tajdid
KH Ahmad Dahlan pernah berpesan: “Jangan lelah menjadi orang yang memberi terang.”
Buku Peta Jalan Persyarikatan Muhammadiyah adalah upaya untuk menjaga api tajdid (pembaruan) tersebut agar tetap menyala. Ia bukan sekadar dokumen analitis, melainkan kompas ideologis agar Muhammadiyah tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus disrupsi.
Transformasi digital pada akhirnya bukan sekadar soal adopsi aplikasi, melainkan keberanian membaca zaman, kerelaan untuk beradaptasi, dan keteguhan dalam memegang nilai. Jika Islam Berkemajuan berpadu dengan teknologi yang beretika, Muhammadiyah tidak hanya akan bertahan, tetapi akan terus menjadi pelita bagi umat dan kemanusiaan semesta.






