AkhlaqArtikelTuntunan

Ambleskan Hati

Oleh : Didi Eko Ristanto

đź“… Rabu, 16 April 2026 | 27 Syawal 1447 H

Salah satu ajaran Islam yang paling memukau sekaligus paling mendasar adalah ajaran tentang rendah hati (tawadhu’). Rendah hati berarti tidak sombong, tidak meninggikan diri, dan tidak merasa lebih dari siapa pun. Dalam bahasa yang sederhana namun sangat dalam maknanya, Islam mengajarkan kita untuk ambleskan hati.
Menjadikannya selalu di bawah, tidak tinggi, tidak merasa pantas untuk dibanggakan.

Hati yang ambles akan selamat.
Hati yang meninggi, cepat atau lambat, akan dijatuhkan.

Sejarah umat manusia telah memberi pelajaran yang sangat jelas.
Lihatlah iblis. Ia bukan makhluk yang miskin ibadah. Puluhan ribu tahun ia beribadah, memiliki kedudukan tinggi di langit, dan pernah berada di barisan para malaikat. Namun ketika hatinya meninggi, ketika ia enggan ambleskan hati di hadapan perintah Allah, seketika itu pula ia terjatuh. Menjadi makhluk yang hina dan terlaknat.

Lihat pula Qarun. Hatinya sombong oleh harta yang melimpah. Ia merasa semua itu hasil kecerdasannya sendiri. Maka Allah benamkan ia ke dalam bumi bersama seluruh kekayaannya.

Dan Fir’aun, yang menyombongkan kerajaan dan kekuasaannya. Ketika hatinya tak mau ditundukkan, Allah hancurkan ia dengan kehinaan yang abadi.

Seolah Allah ingin menegaskan kepada kita:
apa pun yang tidak mau ambleskan hatinya, pasti akan jatuh.

Karena itu, betapa pentingnya bagi kita untuk selalu ambleskan hati, meskipun kita memiliki: banyak prestasi, banyak ibadah, luas ilmu, berlimpah harta,
dan kelebihan yang diakui manusia.

Semua itu tidak boleh membuat hati meninggi. Saya sering mengatakan: Meskipun seandainya para malaikat berjajar-jajar mencium tangan kita, jangan biarkan sedikit pun rasa sombong masuk ke dalam hati. Tetaplah ambleskan hati, rendahkan diri, dan rasakan kefakiran di hadapan Allah.

Sebab Allah tidak memuliakan seseorang karena apa yang ia miliki, tetapi karena kerendahan hatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda, tidaklah seorang hamba bersujud satu sujud karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. Dan dalam hadis yang lain ditegaskan, tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan kedudukannya.

Inilah hukum Allah yang tak pernah berubah:
yang merendah akan diangkat,
yang meninggi akan dijatuhkan.

Maka mari kita jaga hati ini.
Ambleskan sedalam-dalamnya.
Biarkan ia selalu tunduk, selalu merasa kecil, selalu membutuhkan Allah.

Karena hamba yang hatinya selalu sujud dan rendah hati, itulah hamba yang diridhai dan ditinggikan oleh Allah.

Jum’at
Cilacap, 19 Desember 2025

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button