Lisan yang Berkah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sobat Muslim yang dirahmati Allah, mari kita buka hati dan pikiran untuk merenungkan salah satu nikmat Allah yang sering kita lupakan, yaitu LIDAH. Dengan sepotong daging yang kecil ini, nasib kita di dunia dan akhirat bisa berubah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?”
(QS. Al-Balad [90]: 8-9)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa lisan adalah bagian dari nikmat besar yang harus kita syukuri dengan cara menggunakannya untuk ketaatan.
1. Dalil tentang Keutamaan Berkata Baik dan Dakwah
Lisan yang paling mulia adalah lisan yang digunakan untuk menyeru kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'”
(QS. Fussilat [41]: 33)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Ini adalah peluang besar! Saat kita mengajak seseorang untuk shalat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an, kita mendapat pahala yang sama dengan mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
2. Dalil tentang Lisan sebagai Sedekah dan Pemberat Timbangan Kebaikan
Kata-kata baik itu ringan diucapkan, tetapi berat di timbangan amal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
اَلْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Ucapan yang baik adalah sedekah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Dan kata-kata yang baik adalah sedekah.”
(Dalam riwayat lain)
Bayangkan, setiap “Alhamdulillah”, “Subhanallah”, “Jazakallahu Khairan”, bahkan “Maasyaallah” yang kita ucapkan dengan ikhlas, bisa bernilai sedekah. Ini adalah cara termudah untuk menjadi dermawan setiap hari.
3. Dalil tentang Menjaga Silaturahim dan Mendamaikan
Lisan adalah alat terbaik untuk merekatkan persaudaraan.
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.”
(QS. Al-Anfal [8]: 1)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ ؟ قَالُوا : بَلَى . قَالَ : إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang lebih utama dari derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Para sahabat berkata, “Tentu.” Beliau bersabda, “Mendamaikan hubungan yang rusak.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)
Dengan kata-kata yang bijak dan niat yang tulus, kita bisa menjadi penyebab terciptanya kedamaian, dan itu lebih utama dari amal-amal sunnah lainnya.
4. Dalil tentang Dzikir sebagai Bukti Keimanan
Lisan seorang mukmin seharusnya tidak pernah kering dari mengingat Allah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 41-42)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
الْمَيِّتُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّمَا يَتْبَعُهُ قَلْبُهُ وَعَيْنَاهُ وَأَهْلُهُ وَمَالُهُ وَوَلَدُهُ ، فَإِذَا انْصَرَفُوا بَقِيَ مَعَهُ عَمَلُهُ : صَلَاتُهُ وَصِيَامُهُ وَزَكَاتُهُ وَحَجُّهُ وَعُمْرَتُهُ وَصَدَقَتُهُ وَمَا وَالاَهَا ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ – يَعْنِي مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ …
(Dalam hadits yang panjang tentang alam kubur, Nabi menjelaskan bahwa amal yang pertama kali ditanyakan adalah PERKATAAN kita tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam).
(Sumber:HR. Al-Hakim, disahihkan Al-Albani)
Ini menunjukkan betapa perkataan dan keyakinan yang diucapkan oleh lisan akan menjadi penolong utama kita di alam kubur.
Kesimpulan dan Penutup
Saudaraku, dari dalil-dalil yang begitu jelas ini, kita memahami bahwa:
1. Lisan adalah Amanah. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata yang kita ucapkan.
2. Lisan adalah Ladang Amal. Setiap kata baik adalah sedekah dan investasi untuk akhirat kita.
3. Lisan adalah Cermin Iman. Orang yang beriman akan menjaga lisannya dari perkataan yang sia-sia dan bathil.
Mari kita biasakan lisan kita dengan:
· Kalimat Thayyibah (Tahmid, Tasbih, Takbir, Tahlil, Hauqalah)
· Dakwah bil-Lisan dengan hikmah dan nasihat yang baik.
· Kata-kata yang Membangun dan memperkuat ukhuwah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah pedoman utama kita. Jika tidak bisa berkata baik, maka diam adalah emas.
Semoga Allah menjadikan lisan kita senantiasa basah dengan dzikir kepada-Nya, penuh dengan kata-kata kebenaran, dan menjadi sebab mengalirnya pahala jariyah untuk kita.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.




