Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Jangan Sampai Sibuk Mengejar Dunia, Lupa Mempersiapkan Akhirat

Khutbah Jum'at Edisi Ke-3 Bulan Agustus 2026

Mukadimah

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ مَمَرٍّ، وَالْآخِرَةَ دَارَ مَقَرٍّ وَقَرَارٍ. نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada hari Jumat yang mulia dan penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian. Marilah kita senantiasa memelihara dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Ketakwaan inilah yang akan menjadi penyeimbang hidup kita, menjaga kita agar tidak tenggelam dalam pusaran kefanaan dunia, dan menjadi bekal terbaik kita untuk pulang menuju kampung akhirat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita sejenak merenungkan rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Sejak matahari terbit hingga terbenam, bahkan terkadang hingga larut malam, tubuh dan pikiran kita terus dipacu. Kita bangun pagi-pagi buta menembus kemacetan, bekerja memeras keringat, menghitung untung rugi, merencanakan karier, dan membangun rumah yang megah. Semua itu kita lakukan demi sebuah kata: kesuksesan dunia.

Namun, di tengah kesibukan yang seolah tiada henti itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah bekal akhiratku sudah cukup?”

Fenomena yang terjadi hari ini sangatlah memprihatinkan. Banyak orang rela mengurangi waktu tidurnya demi mengejar target pekerjaan, tetapi merasa sangat berat bangun sepuluh menit lebih awal untuk mendirikan shalat tahajud atau sekadar shalat subuh tepat waktu. Banyak yang sangat teliti menghitung saldo rekening dan keuntungan bisnisnya, tetapi lupa menghitung berapa banyak sedekah dan zakat yang seharusnya dikeluarkan. Inilah penyakit umat modern: sibuk mengejar dunia, hingga lupa mempersiapkan akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, agama yang sempurna dan seimbang. Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, atau menikmati perhiasan dunia yang halal. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa sebaik-baik harta yang saleh adalah yang berada di tangan orang yang saleh. Harta, jabatan, dan kedudukan dalam pandangan Islam adalah wasilah (alat atau kendaraan), bukan ghayah (tujuan akhir).

Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah ketika manusia memutarbalikkan kenyataan ini. Dunia dijadikan sebagai tujuan utama, sementara akhirat hanya dijadikan urusan sisa-sisa. Kita memberikan waktu terbaik, tenaga terbaik, dan pikiran terbaik untuk urusan dunia, lalu memberikan sisa waktu, sisa tenaga yang sudah lelah, untuk beribadah kepada Allah. Inilah bentuk kerugian yang sesungguhnya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mengingatkan kita tentang kecenderungan manusia yang sering kali tertipu oleh pesona dunia ini.

Q.S. Al-A’la: 16-17

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (١٦) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (١٧)

Artinya: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Dalam ayat ini, Allah menyindir keras tabiat manusia yang lebih mengutamakan (tu’tsirun) kehidupan duniawi. Kita sering kali memilih sesuatu yang tunai dan terlihat saat ini, meskipun ia fana dan akan hancur, dibandingkan kenikmatan akhirat yang tertunda namun sifatnya kekal dan jauh lebih baik. Ayat ini menjadi pengingat praktis agar dalam setiap pengambilan keputusan, kita selalu menimbang: apakah ini membawa kebaikan di akhirat atau hanya kesenangan semu di dunia?

Lalu, bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap? Apakah harus meninggalkan dunia sepenuhnya? Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat indah.

Q.S. Al-Qashash: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Tafsir dari ayat ini sangatlah seimbang. Allah memerintahkan kita untuk menjadikan segala anugerah, harta, ilmu, jabatan, kesehatan, sebagai modal untuk mencari kebahagiaan di akhirat. Jadikan harta untuk bersedekah, jabatan untuk menegakkan keadilan, dan ilmu untuk berdakwah. Namun, Allah juga berpesan: “jangan lupakan bagianmu di dunia”. Bekerjalah yang giat, nikmatilah makanan yang halal, bahagiakanlah keluarga, pakailah pakaian yang pantas. Dunia di tangan, akhirat di hati.

Hakikat kehidupan dunia ini kembali dipertegas oleh Allah agar kita tidak tertipu.

Q.S. Al-‘Ankabut: 64

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Ayat ini menyadarkan kita bahwa segala permusuhan, persaingan harta, dan perebutan tahta di dunia ini hanyalah sebatas “permainan” yang akan segera berakhir ketika malaikat maut datang menjemput. Kehidupan yang sejati (al-hayawan) adalah kehidupan setelah kematian. Sungguh merugi jika kita mengorbankan kehidupan yang sejati demi sebuah permainan yang sementara.

Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai nilai dunia dibandingkan dengan akhirat, agar akal kita mampu mencernanya dengan baik.

Hadis Riwayat Muslim

مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

 

Artinya: Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat. (HR. Muslim)

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu, dengan derajat sahih. Syarah (penjelasan) dari hadis ini sungguh menyentuh logika kita. Air lautan yang maha luas, yang tidak bertepi, itulah perumpamaan keabadian akhirat. Sedangkan air yang menempel di ujung jari saat diangkat—yang hanya setetes dan akan segera mengering—itulah perumpamaan dunia beserta seluruh isinya: jabatannya, hartanya, popularitasnya. Akankah orang yang berakal menukar lautan yang luas demi memperebutkan setetes air di ujung jari?

Lalu, bagaimana dengan hati yang senantiasa sibuk memikirkan dunia? Nabi ﷺ memberikan jaminan yang luar biasa terkait niat dan cita-cita seseorang.

Hadis Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

 

Artinya: Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niat (tujuan) utamanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai niat (tujuan) utamanya, maka Allah akan meletakkan kefakiran di antara kedua matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar yang telah ditetapkan baginya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ini berderajat sahih dan menjadi kunci manajemen kehidupan. Jika kita berorientasi akhirat, mencari ridha Allah dalam berdagang dan bekerja, Allah akan mendatangkan dunia kepada kita tanpa kita harus menghamba kepadanya. Sebaliknya, jika hidup hanya demi uang dan gengsi, Allah cabut rasa cukup dari hatinya. Ia akan terus merasa miskin meski hartanya berlimpah, dan hatinya selalu diliputi kecemasan.

Oleh karena itu, bagi seorang mukmin, dunia memiliki batasan aturan.

Hadis Riwayat Muslim

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Artinya: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Hadis sahih riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini menjelaskan bahwa di dunia ini, seorang mukmin tidak bisa berbuat semaunya. Ada batasan halal dan haram, ada perintah shalat, ada larangan riba dan korupsi. Kebebasan sejati seorang mukmin baru akan ia rasakan kelak di surga Allah.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Mengapa hari ini banyak dari kita yang terjebak pada kesibukan dunia dan melupakan akhirat? Akar persoalannya adalah hubbud dunya (cinta dunia) dan tulul amal (panjang angan-angan). Kita hidup seolah-olah tidak akan pernah mati.

Faktor eksternal seperti media sosial juga memperparah keadaan ini. Kita melihat pencapaian materi orang lain, lalu hati kita merasa iri dan panas. Kita memacu diri berlebihan hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia. Akibatnya, kita mulai mengorbankan hak Allah. Waktu shalat ditunda-tunda karena rapat yang belum selesai. Menghalalkan segala cara dalam berbisnis demi mengejar keuntungan. Bahkan yang lebih menyedihkan, waktu untuk keluarga, untuk mendidik anak-anak mengenal Allah, habis tak tersisa. Rumah berubah hanya menjadi tempat singgah untuk tidur.

Jika cara berpikir seperti ini dibiarkan, risiko yang akan kita hadapi sangatlah besar. Iman menjadi gersang, kehidupan keluarga menjadi hampa karena tidak ada keberkahan, kepedulian terhadap tetangga mati, dan kelak di akhirat kita akan datang menghadap Allah dengan tangan kosong yang penuh penyesalan.

Islam tidak membiarkan kita terjebak tanpa jalan keluar. Berikut adalah beberapa langkah praktis agar kita mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat:

Pertama, luruskan kembali niat (tajdidun niyat). Mulai hari ini, niatkan setiap tetes keringat saat bekerja untuk mencari nafkah halal demi menjaga kehormatan keluarga dan agar bisa beribadah kepada Allah. Pekerjaan duniawi yang diniatkan dengan benar akan dicatat sebagai amal ibadah (jihad di jalan Allah).

Kedua, jadikan shalat sebagai poros waktu kehidupan. Jangan mengatur shalat di sela-sela kesibukan kerja, tetapi aturlah kesibukan kerja di sela-sela waktu shalat. Apabila azan telah berkumandang, berhentilah sejenak. Penuhilah panggilan Allah. Waktu 10-15 menit untuk shalat tidak akan membuat Anda miskin atau kehilangan jabatan, justru di situlah letak turunnya keberkahan rezeki.

Ketiga, alokasikan waktu harian khusus untuk akhirat. Sesibuk apa pun kita, paksakan diri untuk membaca Al-Qur’an meski hanya satu halaman sehari. Lakukan zikir pagi dan petang. Sempatkan membaca istighfar di sela-sela perjalanan menuju tempat kerja.

Keempat, keluarkan hak harta melalui zakat dan sedekah. Jangan tunda bersedekah menunggu kaya. Sedekah inilah yang akan membersihkan harta kita dari kotoran syubhat sekaligus menjadi penolong kita di hari kiamat.

Kelima, jaga keseimbangan kewajiban keluarga. Sesukses apa pun Anda di tempat kerja, Anda tidak akan disebut sukses jika gagal mendidik anak dan istri mengenal Allah. Luangkan waktu berkualitas untuk menanamkan akidah dan akhlak di dalam rumah.

Jamaah sekalian, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Rahmat Allah sangat luas, dan pintu taubat senantiasa terbuka. Tidak mengapa jika hari ini kita lelah dan berkeringat untuk urusan dunia, asalkan kelelahan itu menjadi sarana penebus dosa dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.

Jadikanlah keberhasilan dunia Anda sebagai alat untuk menebar manfaat sosial. Jika Anda kaya, jadilah orang kaya yang menyantuni anak yatim, membangun masjid, dan membantu tetangga yang kelaparan. Jika Anda memiliki jabatan, gunakan jabatan itu untuk memudahkan urusan umat Islam dan menegakkan keadilan. Kesalehan individual harus memancar menjadi kesalehan sosial. Jangan biarkan ada tetangga kita yang tertidur dalam keadaan lapar, sementara kita sibuk menghitung tumpukan harta.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sebagai penutup khutbah pertama ini, mari kita hadirkan pertanyaan di dalam lubuk hati kita yang paling dalam: Kelak, ketika napas telah sampai di tenggorokan, ketika keluarga hanya bisa menangisi kepergian kita, dan ketika tubuh kita yang dulu dibanggakan dibungkus dengan kain kafan putih yang murah, apa yang akan kita bawa?

Rumah mewah akan ditinggalkan. Kendaraan mahal akan diwariskan. Rekening tabungan tidak akan bisa menyuap malaikat Munkar dan Nakir. Satu-satunya yang akan menemani kita di alam kubur yang gelap dan sempit hanyalah sujud kita, sedekah kita, puasa kita, bakti kita kepada orang tua, dan kejujuran kita dalam mencari rezeki.

Oleh karena itu, sepulang dari masjid ini, mari kita ubah cara pandang kita. Berhentilah mengorbankan hal-hal yang abadi demi hal-hal yang akan hancur. Mari kita persiapkan bekal sebaik-baiknya sebelum masanya habis.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala senantiasa membimbing hati kita untuk tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai mempersiapkan bekal untuk negeri akhirat. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, maka ambillah pelajaran darinya.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَافِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Melalui khutbah hari ini, kita telah diingatkan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup kita. Dunia hanyalah ladang tempat kita menanam, sedangkan akhirat adalah tempat kita memanen hasilnya. Kesalahan terbesar yang harus kita hindari adalah mengorbankan kewajiban agama, mengorbankan kejujuran, dan mengabaikan keluarga hanya demi ambisi materi yang tidak akan pernah ada ujungnya.

Mari kita segera bertindak dan melakukan perubahan. Mulailah hari ini dengan menjaga dan menyempurnakan ibadah wajib kita. Sisihkan sebagian rezeki yang baru saja kita terima untuk mereka yang membutuhkan. Pulanglah ke rumah, peluklah anak dan istri kita, dan pastikan kita membimbing mereka menuju jalan ketaatan kepada Allah. Jadikanlah setiap sisa usia yang Allah berikan ini sebagai pundi-pundi kebaikan yang akan memberatkan timbangan amal kelak di hari kiamat.

Sebelum kita mengakhiri perjumpaan pada khutbah Jumat kali ini, marilah kita menundukkan kepala dan hati, memanjatkan doa kepada Allah yang Maha Mendengar, serta bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

أَقِمِ الصَّلَاة

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd

(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button