BeritaDinamika PesyarikatanDinamika Tabligh

PWM Jateng Ikuti Diklat Moderasi Beragama, Angkat Tema Udar Asumsi & Membangun Perspektif

Semarang – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melalui utusannya, Muh Andi Sulaiman (Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jateng) dan Galuh Andi Luxmana (Anggota Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah) turut ambil bagian dalam Diklat Penguatan Moderasi Beragama yang digelar oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Bakesbangpol Provinsi Jawa Tengah selama tiga hari Selasa-Kamis 26-28 Agustus 2025 di Aula Bakesbangpol Prov. Jateng. Pada kesempatan itu, para peserta mendapatkan materi penting dari salah satu narasumber yaitu Ibu Dr. Mayadina Rohmi Musfiroh yang membawakan tema “Udar Asumsi, Membangun Perspektif.”

Dalam penyampaian materi, beliau menegaskan bahwa sering kali cara pandang kita terhadap realitas tidak sepenuhnya mencerminkan kebenaran. Hal ini digambarkan melalui istilah “the map is not the territory” yang berarti peta bukanlah wilayah itu sendiri. Peta hanya sekadar representasi dari sebuah kenyataan, bukan kenyataan itu secara utuh. Demikian pula persepsi manusia terhadap agama, kehidupan, dan perbedaan, sering kali terbatas dan dipengaruhi pengalaman masing-masing. Oleh sebab itu, dibutuhkan sikap rendah hati untuk tidak cepat menganggap pandangan pribadi sebagai satu-satunya kebenaran.

Lebih lanjut, Ibu Mayadina memperkenalkan konsep Ladder of Inference atau tangga penyimpulan. Konsep ini menggambarkan bagaimana manusia mengambil keputusan dalam kehidupannya. Prosesnya dimulai dari selected data yakni pemilihan data yang sesuai dengan perhatian atau pengalaman seseorang, kemudian added meaning yaitu menambahkan makna pribadi terhadap data tersebut. Setelah itu, seseorang membuat assumption atau asumsi, lalu melangkah ke conclusion atau kesimpulan. Dari kesimpulan lahir beliefs atau keyakinan, yang pada akhirnya mendorong action atau tindakan. Proses ini sering berjalan cepat tanpa disadari, sehingga rentan menghasilkan kesalahan berpikir. Oleh karena itu diperlukan reflective learning, yakni belajar secara reflektif dari pengalaman, serta reflexive loop, yaitu memeriksa ulang proses berpikir kita sebelum mengambil tindakan.

Selain itu, peserta diajak mewaspadai adanya bias kognitif atau kecenderungan berpikir yang menyesatkan. Ada enam jenis bias yang dijelaskan. Pertama, egocentric memory, yaitu kecenderungan hanya mengingat hal-hal yang mendukung pandangan diri sendiri. Kedua, egocentric myopia, yaitu melihat persoalan dengan pandangan sempit tanpa mempertimbangkan konteks luas. Ketiga, egocentric righteousness, yakni merasa diri selalu paling benar. Keempat, egocentric hypocrisy, yaitu sikap tidak konsisten antara ucapan dan tindakan. Kelima, egocentric oversimplification, yakni kecenderungan menyederhanakan masalah yang sebenarnya kompleks. Dan keenam, egocentric blindness, yaitu menutup mata dari fakta-fakta yang tidak sesuai dengan pandangan diri. Keenam bias ini jika dibiarkan akan menjebak manusia dalam sikap kaku, sulit menerima perbedaan, dan menjauhkan dari semangat moderasi beragama.

Dalam menghadapi situasi kehidupan, setiap individu maupun kelompok memiliki pola kebiasaan tertentu. Ada yang memilih proses N, yaitu cenderung mengulang kebiasaan lama, menyangkal perubahan, serta terjebak dalam pikiran, hati, dan tekad yang tertutup (closed mind, closed heart, and closed will). Sebaliknya, ada yang memilih proses U, yakni keberanian untuk membuka pikiran, hati, dan tekad (opened mind, opened heart, and opened will) agar mampu melihat realitas dengan jernih. Namun dalam proses U ini sering muncul tantangan berupa suara-suara batin atau inner voices yang menghambat. Ada tiga jenis suara yang perlu diwaspadai: voice of judgement yaitu suara yang mudah menghakimi, voice of cynicism yaitu suara sinis yang meragukan niat baik orang lain, dan voice of fear yakni suara ketakutan yang membuat orang tidak berani melangkah. Menyadari keberadaan suara-suara ini adalah langkah awal untuk mengatasinya.

Menurut Andi Sulaiman, diklat ini menjadi momentum penting bagi kader dan tokoh agama untuk terus memperkuat wawasan moderasi beragama. “Moderasi beragama tidak hanya tampak dari sikap luar, tetapi juga dari bagaimana kita mengelola cara berpikir. Moderasi beragama juga tidak hanya dimaknai sebagai toleransi dalam arti formal, melainkan harus dimulai dari cara berpikir yang sehat, jernih, dan reflektif. Dengan mengudar asumsi, mewaspadai bias, serta berani membuka pikiran, hati, dan tekad, agama benar-benar akan hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.” ungkapnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan para agen moderasi beragama yang siap menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, menebarkan kedamaian, serta membangun kerukunan di tengah masyarakat.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button