Perspektif Menjaga lingkungan dalam Islam di Era Digital

Salah satu peran manusia sebagai khalifah di bumi adalah menjaga ciptaan Allah dan dilarang berbuat kerusakan dalam berbagai dimensi. Hal ini dijabarkan dalam tafsir surat Al-Baqarah atau 30 yang dikaitkan dengan surat Al-A’raf ayat 56. Salah satu ciptaan Allah yang wajib dijaga dan dapat menjadi manfaat bagi manusia adalah alam. Namun, pada kenyataannya manusia belum mampu untuk menjaga dan memanfaatkan alam sesuai dengan prinsip islam. Hal ini direpresentasikan dari aktivitas eksploitasi yang cenderung merusak alam daripada mengambil manfaat secukupnya. Selain itu, kemajuan teknologi dalam berbagai bidang ternyata juga memberikan pengaruh pada keadaan alam.
Tanpa kita sadari, aktivitas kita dalam memanfaatkan teknologi memberi pengaruh pada alam di sekitar kita. Bahan baku yang digunakan dalam berbagai perangkat teknologi merupakan hasil dari alam, maka semakin banyak perangkat yang dibuat akan berpotensi menambah kerusakan alam akibat eksploitasi bahan baku untuk membuat perangkat teknologi. Hal ini juga dipicu oleh tren dari berbagai merek yang mengeluarkan perangkat baru setiap tahunnya. Pembaharuan perangkat yang dilakukan setiap tahun berpotensi untuk menambah limbah elektronik (e-waste) yang dapat mencemari lingkungan. Dari kasus ini, sikap yang tepat sebagai seorang muslim adalah menghindari israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Karena sesungguhnya kedua sifat tersebut adalah sifat yang dekan dengan setan dan tidak disukai Allah.
![]()
“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’:27)
Selain kebiasaan berganti perangkat elektronik, kebiasaan lain yang juga memberikan pengaruh pada alam adalah menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara intensif. Tanpa kita sadari, kebiasaan menggunakan AI secara intensif memberikan pengaruh pada alam khususnya berkaitan dengan air bersih. AI yang kita gunakan memelukan air bersih dalam jumlah yang massif untuk mendinginkan perangkat operasi dan servernya. Hal ini berpotensi menimbulkan krisis air bersih di beberapa tempat di bumi, terutama yang di tempat tersebut terdapat server AI yang terus bertambah dan intensif penggunaannya. Oleh sebab itu, paradigma menjaga lingkungan hari ini mulai bergeser. Menjaga lingkungan tidak hanya terbatas pada membuang sampah pada tempatnya atau menjaga air agar tetap bersih. Penggunaan perangkat teknologi dan produk digital dari teknologi turut menentukan rusak tidaknya alam kita.
Allah sesungguhnya sudah memberikan peringatan melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah. Di antara peringatan tersebut terdapat dalam surat Ar-Rum ayat 41.
![]()
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum:41)
Berdasarkan ayat tersebut, kita sebagai khalifah diwajibkan untuk senantiasa memahami dan merubah kebiasaan kita apabila perbuatan kita mulai menyimpang dan merusak alam dan saling mengingatkan di dalamnya. Maka kunci dari menjaga alam bukan berarti kita tidak pernah berbuat kerusakan, tetapi bagaimana memahami kekhilafan kita yang telah atau berpotensi merusak alam kemudian merubah cara dan parakdigma di dalam mengelola alam.




