Artikel

Inspirasi Qurays: Suku Pilihan Allah, Tempat Rasulullah SAW Dilahirkan

Seri 4 – Sirah Nabi yang Menggembirakan

Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3)

Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ selalu mengingatkan kita pada berbagai tradisi perayaan Maulid Nabi. Namun, pernahkah kita bertanya di keluarga dan suku seperti apakah manusia pilihan Allah itu dilahirkan?

Mengenal kelahiran Nabi ﷺ tidak cukup hanya dengan mengetahui tanggal dan tempat kelahirannya. Kita juga perlu mengenal nasab dan lingkungan sosial tempat beliau tumbuh, sebab Allah memilihkan bagi Rasul-Nya sebuah nasab yang mulia. Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dalam suku Qurays.

Dari Suku Terbaik dan Keturunan Para Nabi (dari jalur Ismail As.)

Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah, sekitar tahun 570 M, dari Bani Hasyim yang merupakan bagian dari suku Qurays. Nabi ﷺ sendiri bersabda bahwa Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, kemudian memilih Qurays dari Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim dari Qurays, dan memilih beliau dari Bani Hasyim. Hadis ini memberikan gambaran bahwa kemuliaan nasab Nabi ﷺ merupakan bagian dari pilihan Allah dalam sejarah kenabian.

Pernah diremehkan Orang Yahudi
Nabi terakhir yang selama ini dinantikan oleh sebagian Ahlul Kitab ternyata tidak lahir dari keturunan Nabi Ishaq ‘alaihissalam sebagaimana yang mereka harapkan, tetapi dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam, melalui bangsa Arab. Al-Qur’an bahkan menggambarkan bahwa sebagian orang yang telah diberi Kitab mengenali Nabi Muhammad sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri, tetapi sebagian mereka justru menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui. Kejadian ini juga diceritakan dalam Surah Al-Baqarah ayat 89.

Orang keturunan Ismail ketika itu memang hidup di gurun pasir. Banyak atau bahkan dikenal sebagai suku yang tidak berpendidikan. Hal ini karena banyak yang tidak bisa baca-tulis, termasuk Nabi Muhammad ﷺ. Karena ini juga orang ahlu kitab meremehkan kelahiran Rasulullah. Namun, Allah telah memilih keturunan Ismail sebagai lahirnya Nabi dan Rasul yang menjadi penutup para Nabi dan memberikan kesempurnaan untuk semua umat manusia hingga kiamat.

Maka, kelahiran Muhammad ﷺ dari keturunan Ismail bukan sekadar persoalan nasab. Ia menjadi bagian dari ketetapan Allah yang menunjukkan bahwa kenabian bukanlah hak eksklusif suatu bangsa atau garis keturunan tertentu. Dari Makkah, dari keturunan Ismail, dari suku Qurays, Allah menghadirkan Rasul terakhir untuk seluruh manusia.

Keunikan Sifat dan Nama Qurays

Syaikh Syafiyyurrahman Mubarakfury mengatakan suku Qurays memiliki sifat-sifat unggul, yang melekat dalam diri dan kebudayaan hidup mereka. Diantaranya: 1) kedermawanan; 2) memenuhi janji; 3) kemuliaan jiwa, keengganan menerima kehinaan dan kelaliman; 4) pantang mundur; 5) lemah lembut dan suka menolong orang lain; 6) kesederhanaan pola badui.

Nama Qurays juga memiliki kisah yang menarik. Salah satu pendapat yang dikenal dalam literatur sirah mengaitkan nama Qurays dengan Fihr bin Malik, salah seorang leluhur Nabi Muhammad ﷺ yang dalam sebagian riwayat disebut mendapat julukan Qurays. Julukan ini dihubungkan dengan kata qirsh, yaitu hiu, sebagai simbol kekuatan dan kemampuan menguasai keadaan. Dalam kajian kebahasaan, Qurays (قُرَيْش) merupakan bentuk taṣghīr (bentuk pengecilan/penyifatan) dari kata qirsh (قِرْش), yang dalam bahasa Arab klasik digunakan untuk menyebut hiu atau ikan laut pemangsa.

Para ahli sejarah dan nasab memiliki beberapa penjelasan mengenai asal-usul nama ini, sehingga memang kita tidak perlu menjadikan satu pendapat sebagai satu-satunya kepastian. Yang menarik adalah bahwa nama tersebut kemudian menjadi identitas sebuah suku yang memiliki posisi sangat kuat di Jazirah Arab.

Surah Qurays: Ketika Allah Mengingatkan Nikmat kepada Qurays

Keistimewaan Qurays semakin menarik karena Allah mengabadikan nama mereka secara langsung dalam Al-Qur’an melalui Surah Qurays. Allah berfirman, “Li-īlāfi Qurays, īlāfihim riḥlatasy-syitā’i waṣ-ṣaif”—karena kebiasaan orang-orang Qurays, yaitu kebiasaan mereka melakukan perjalanan pada musim dingin dan musim panas. Surah ini mengingatkan Qurays terhadap berbagai nikmat yang Allah berikan kepada mereka: keamanan, kemampuan melakukan perjalanan perdagangan, dan tersedianya makanan.

Pada akhirnya Allah mengarahkan mereka agar menyembah Rabb pemilik rumah ini, yaitu Ka‘bah. Pesan ini menarik untuk direnungkan: Qurays memiliki kekuatan ekonomi dan kedudukan sosial, tetapi semua itu pada akhirnya harus mengantarkan mereka kepada pengenalan terhadap Allah. Dengan demikian, Surah Qurays bukan hanya berbicara tentang perdagangan dan perjalanan, tetapi juga tentang nikmat, keamanan, Ka‘bah, dan kewajiban bersyukur kepada Allah.

Poin-Poin Rangkuman Sifta Baik Qurays yang bisa menjadi inspirasi bagi kita:

  1. Menjaga amanah, seperti Qurays yang menjaga Ka‘bah dan kehormatan Makkah;
  2. Membangun keamanan, sehingga keberadaan kita membuat orang lain merasa nyaman dan terlindungi;
  3. Ulet dan pekerja keras, sebagaimana Qurays dikenal melalui perjalanan dagang mereka pada musim dingin dan musim panas;
  4. Membangun jaringan dan hubungan yang luas, sehingga kebaikan dapat tersebar lebih jauh;
  5. Menghargai tempat dan tradisi yang baik, serta menjaga sesuatu yang telah diwariskan dengan penuh tanggung jawab;
  6. Bersyukur atas nikmat Allah, karena kekuatan, rezeki, dan kedudukan bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk mendekat kepada Allah;
  7. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, sebab dari tengah Qurays akhirnya lahir manusia terbaik, Nabi Muhammad ﷺ, yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Daru Nurdianna, M.Pd.

Lahir di Karanganyar-Solo. Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3. Alumnus Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Dosen MKDU AIK di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA-SOLO).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button