
Ketika Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan tujuannya memajukan umat melalui dakwah pendidikan, pelayanan sosial. Namun memasuki era global Muhammadiyah menyadari satu hal masalah kemanusiaan tidak lagi hanya mengenal batas negara, perubahan iklim, konflik, kemiskinan hingga ketimpangan pendidikan menjadi tantangan bersama. Karena itulah internasionalisasi menjadi bagian dari strategi Muhammadiyah. Gagasan ini diperkuat sejak Muktamar tahun 2000 dan kemudian ditegaskan kembali pada Muktamar ke-47 2015 silam. Tujuannya bukan membangun cabang di luar negeri semata melainkan membawa nilai Islam berkemajuan agar memberikan manfaat bagi dunia.
Disinilah peran PCIM menjadi sangat penting. PCIM atau Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah bukan hanya tempat berkumpulnya warga Muhammadiyah di luar negeri. Lebih dari itu PCIM menjadi wajah Muhammadiyah sekaligus wajah Islam Indonesia di berbagai negara.
Hingga saat ini PCIM telah hadir di 30 negara, mulai dari Timur Tengah, Eropa, Asia hingga Australia. Menurut mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsudin “Internasionalisasi menunjukkan kematangan Muhammadiyah untuk memberikan kontribusi bagi peradaban global”.
Menarik lagi Muhammadiyah tidak memilih cara dakwah yang hanya berhenti pada ceramah. PCIM mengembangkan apa yang disebut “Dakwah Integratif” artinya dakwah hadir melalui aksi nyata. Contohnya ada di Malaysia, PCIM Malaysia mendirikan Warung Soto Lamongan atau WaSoLa, sekilas hanya sebuah rumah makan tetapi sesungguhnya WaSoLa menjadi tempat berkumpulnya DIASPORA Indonesia, media diplomasi budaya sekaligus sumber pembiayaan kegiatan dakwah.
Di Australia Muhammadiyah mendirikan Muhammadiyah Australia College di Melbourne, sekolah ini menggabungkan kurikulum Australia dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Anak-anak belajar menjadi warga dunia tanpa kehilangan identitas keislaman dan keIndonesiannya. Hal ini membuktikan bahwa dakwah bisa hadir dalam bentuk sekolah, kuliner, pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi. Seperti pepatah yang sering dipegang oleh Muhammadiyah yang berbunyi لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ ( Lisānul ḥāl afṣaḥu min lisānil maqāl ) Tindakan nyata selalu lebih kuat dibanding sekadar ucapan.
Apabila ada yang bertanya apa kekuatan terbesar Muhammadiyah di dunia?
Jawabannya mungkin bukan ceramah, bukan pula retorika tetapi aksi nyata. Muhammadiyah memilih berbicara melalui pendidikan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.. Disinilah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara menjadi wajah Muhammadiyah di dunia Internasional. Ketika gempa melanda Turki, Maroko hingga Taiwan jaringan PCIM bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) ikut hadir memberikan bantuan. Mereka tidak datang membawa identitas untuk dipertontonkan, mereka datang membawa pertolongan. Inilah makna dakwah rahmatan lil alamin bukan sekedar menyampaikan pesan keagamaan tetapi menjadi solusi bagi kemanusiaan. Di bidang pendidikan, Muhammadiyah juga menunjukkan perannya.
Muhammadiyah Australia college menjadi salah satu contoh bagaimana nilai-nilai islam berkemajuan bisa berjalan berdampingan dengan standar pendidikan Internasional. Di Malaysia University Muhammadiyah Malaysia atau UMAM menjadi bukti bahwa Perguruan Tinggi Indonesia mampu hadir dan berkontribusi di luar negeri.
Dari disinilah dunia mengenal Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi Islam terbesar tetapi sebagai gerakan yang melahirkan ilmu mencerdaskan manusia dan membantu sesama, barangkali itulah diplomasi paling kuat.
Ketika orang mengenal Islam melalui keteladanan dan mengenal Indonesia melalui karya nyata Muhammadiyah, lalu apa tantangan Muhammadiyah di masa depan?. Membantu membangun jaringan global tentu bukan tanpa tantangan. Ada tiga pekerjaan besar yang harus terus dijaga oleh PCIM.
Pertama, Regenerasi Kader, banyak pengurus PCIM adalah mahasiswa atau pekerja yang masanya terbatas tinggal di luar negeri artinya proses kaderisasi harus terus berjalan agar estafet dakwah tidak terputus. Kedua, Kemandirian Ekonomi, amal usaha menjadi kunci agar gerakan dakwah tidak selalu bergantung pada bantuan dari tanah air dan yang Ketiga, Memperkuat jejaring antar PCIM di berbagai Negara karena tantangan dunia hari ini tidak bisa diselesaikan sendirian, dibutuhkan kolaborasi, yang menarik Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia juga melihat PCIM sebagai mitra strategis diplomasi publik Indonesia. Artinya apa yang dilakukan PCIM bukan hanya mengharumkan nama Muhammadiyah tetapi juga memperkenalkan wajah Indonesia yang damai, moderat dan peduli pada kemanusiaan. Ke depan transformasi digital, pemberdayaan generasi muda, pengembangan amal usaha, hingga kerja, kerja kemanusiaan akan menjadi agenda besar Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara. Sehingga internasionalisasi Muhammadiyah bukan lagi hanya sekedar cita-cita tetapi menjadi gerakan nyata yang terus bertumbuh.
Bayangkan dari sebuah perserikatan yang lahir di Yogyakarta pada tahun 1912 .Hari ini Muhammadiyah telah memiliki jejaring yang menjangkau ke berbagai belahan dunia, lewat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dakwah tidak hanya berbentuk pengajian tapi hadir dalam wujud sekolah, universitas, aksi kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi hingga dialog lintas budaya. Inilah wajah Islam berkemajuan, Islam yang tumbuh bersama masyarakat, Islam yang memberikan solusi dan Islam yang menghadirkan manfaat bagi semesta. Karena pada akhirnya dakwah terbaik bukan hanya yang didengar, tetapi dirasakan manfaatnya oleh sesama manusia.




