AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Batu Kecil yang Mengguncang Dunia: Keberanian Pemuda Menumbangkan Raksasa

Kisah Teladan para Nabi dan Rasul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah Swt,

Dalam mengarungi kehidupan, kita sering kali dihadapkan pada masalah atau tantangan yang secara kasat mata terlihat sangat besar, mengintimidasi, dan mustahil untuk dikalahkan. Tantangan itu menjulang tinggi seperti raksasa. Ketika melihat “raksasa” tersebut, mental kita sering kali sudah kalah sebelum bertanding. Kita merasa kecil, tidak berdaya, kurang fasilitas, dan minim pengalaman.

Perasaan terintimidasi oleh hal yang besar ini adalah sifat manusiawi. Namun, sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa penting yang meruntuhkan logika ketakutan tersebut. Peristiwa ini bukan dongeng kepahlawanan fiktif, melainkan sejarah nyata yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, yaitu kisah seorang pemuda bernama Nabi Daud ‘alaihissalam yang berhadapan dengan raksasa kejam bernama Jalut.

Kisah ini bermula ketika pasukan kaum beriman yang dipimpin oleh Raja Thalut harus berhadapan dengan pasukan musuh yang dipimpin oleh panglima lalim bernama Jalut (Goliath). Jalut bukan manusia sembarangan; tubuhnya raksasa, tenaganya luar biasa, dan ia mengenakan baju besi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat sosok Jalut, nyali pasukan Thalut ciut. Tidak ada satu pun yang berani maju berduel.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, majulah seorang pemuda belia. Ia bukan tentara elit, tidak memakai baju besi zirah, dan tidak memegang pedang besar. Ia adalah Nabi Daud, seorang pemuda penggembala kambing. Senjatanya hanyalah sebuah ali-ali atau ketapel tradisional dan beberapa butir batu kerikil yang ia pungut dari sungai. Secara matematis militer, ini adalah misi bunuh diri. Seorang pemuda tanpa pelindung melawan raksasa berbaju besi.

Namun, pemuda ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh prajurit lainnya, keyakinan mutlak kepada Allah Swt dan keberanian yang menyala.

Momen puncak dari keberanian sang pemuda ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 251:

فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

 

(Fa hazamūhum bi’iżnillāhi wa qatala dāwụda jālụta wa ātāhullāhul-mulka wal-ḥikmata wa ‘allamahụ mimmā yasyā’. Walau lā daf’ullāhin-nāsa ba’ḍahum biba’ḍil lafasadatil-arḍu wa lākinnallāha żū faḍlin ‘alal-‘ālamīn)

Yang artinya: “Maka mereka (tentara Thalut) mengalahkannya (tentara Jalut) dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Daud) kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas seluruh alam.”

Mari kita ambil pesan utama dari kemenangan gemilang ini.

Pertama, perhatikan frasa “bi’iżnillāh” (dengan izin Allah). Kemenangan Daud bukan semata-mata karena ketapelnya hebat, tapi karena pertolongan Allah Swt yang menyertai niat tulusnya.

Kedua, Nabi Daud mengajarkan kepada kita tentang memaksimalkan potensi diri. Saat Raja Thalut menawarinya pedang dan baju besi, Nabi Daud menolaknya karena ia tidak terbiasa menggunakannya. Ia memilih menggunakan ketapel karena itulah yang ia latih setiap hari saat menggembala. Pesannya adalah untuk menumbangkan masalah raksasa, kita tidak perlu menjadi orang lain. Kita hanya perlu memfokuskan skill dan keahlian yang kita miliki, membidiknya dengan presisi di titik kelemahan musuh, dan melepaskannya dengan nama Allah Swt. Nabi Daud membidik tepat ke dahi Jalut—satu-satunya bagian yang tidak tertutup besi—dan raksasa itu pun tumbang seketika.

Bagaimana kita menerjemahkan mentalitas Nabi Daud ini dalam kehidupan kita di zaman modern?

Bagi teman-teman pelajar dan mahasiswa, musuh raksasa kita hari ini mungkin bukan manusia setinggi tiga meter. “Jalut” masa kini bisa berupa tantangan yang terlihat mengintimidasi. Mungkin itu adalah Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang menegangkan, atau ketatnya persaingan seleksi beasiswa studi lanjut seperti LPDP bagi yang ingin mengejar gelar S2.

Bahkan secara harfiah, bagi yang bergelut di pendidikan vokasi atau dunia teknik, raksasa itu bisa berupa keharusan menaklukkan sistem kelistrikan pada unit alat berat. Mesin raksasa berbahan besi itu tampak menakutkan dan rumit bagi pemula. Namun, seperti Nabi Daud yang mengasah keterampilannya dengan ketapel, jika kalian rajin mempelajari product knowledge secara mendetail, berlatih terus-menerus dengan presisi tinggi, patuh pada prosedur keamanan, dan bertawakal, maka raksasa sebesar apa pun pasti tunduk dalam kendali kalian. Jangan pernah merasa insecure (rendah diri) karena kalian masih muda.

Bagi Bapak/Ibu dan kita semua, “Jalut” kita bisa berupa kesulitan ekonomi yang menumpuk, persaingan bisnis yang didominasi oleh perusahaan raksasa, atau ancaman krisis moral di lingkungan kita. Jangan hadapi mereka dengan keluhan. Hadapi dengan apa yang kita miliki di tangan kita hari ini. Jika senjata kita hanyalah kejujuran, kerja keras yang ditekuni bertahun-tahun, dan doa di sepertiga malam, maka gunakan itu! Di hadapan Dzat Yang Maha Besar, tidak ada raksasa duniawi yang tidak bisa ditumbangkan.

Oleh karena itu, mari kita bangkitkan kembali mental juara dalam diri kita dan anak-anak muda kita. Jangan lari saat berhadapan dengan masalah besar. Asah kemampuan kita, luruskan niat kita, dan bidikkan ikhtiar kita dengan penuh keyakinan.

Mari kita tutup majelis ini dengan berdoa memohon keberanian dan pertolongan dari Allah SWT.

Ya Allah, Dzat Yang Maha Perkasa. Karuniakanlah kepada kami keberanian iman sebagaimana yang Engkau anugerahkan kepada Nabi Daud ‘alaihissalam. Jadikanlah kami pemuda-pemudi dan umat yang tangguh, yang tidak gentar menghadapi ujian seberat apa pun. Bantulah kami menumbangkan ‘raksasa-raksasa’ kebodohan, kemiskinan, dan kesulitan di dalam hidup kami dengan kekuatan bi’idznillah-Mu, dan jadikanlah langkah kami membawa kemanfaatan bagi semesta.

 

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.

(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button