Amanah Sebagai Tanggung Jawab Orang Beriman
Oleh : Rio Fauzan (Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jateng Banjarnegara)

Amanah Sebagai Tanggung Jawab Orang Beriman
Secara harfiah, Amanah berarti titipan atau kepercayaan. Dalam konteks agama, amanah adalah segala sesuatu yang dibebankan kepada manusia, baik itu hak-hak Allah (seperti ibadah) maupun hak-hak sesama manusia (seperti janji, titipan harta, atau rahasia).
Amanah adalah perkara yang sangat berat. Begitu beratnya, hingga gunung dan langit pun enggan memikulnya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 72:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Ada tiga poin penting yang perlu kita pahami tentang amanah:
Pertama, Amanah adalah Tolok Ukur Keimanan. Keimanan seseorang tidak hanya diukur dari panjangnya shalat atau seringnya puasa, tapi dari kejujurannya dalam menjaga amanah. Rasulullah SAW bersabda dengan tegas:
لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.” (HR. Ahmad)
Kedua, Amanah itu Luas Cakupannya. Banyak orang mengira amanah hanya soal tidak mencuri uang kantor atau mengembalikan pinjaman. Padahal, amanah mencakup hal yang lebih luas yaitu waktu bekerja sesuai jam yang telah disepakati adalah amanah, jabatan menjadi pemimpin, ketua RT, atau kepala keluarga adalah amanah, tubuh kita seperti mata, telinga, dan lisan kita adalah amanah yang kelak akan ditanya: “Untuk apa kau gunakan?”
Ketiga, bahaya mengkhianati amanah. Khianat adalah ciri utama kemunafikan. Jika kita sering mengingkari janji dan merusak kepercayaan orang lain, maka sifat nifaq telah meresap ke dalam hati kita. Rasulullah SAW bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari & Muslim)
Setiap dari kita adalah pemimpin, minimal bagi diri kita sendiri. Dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Mari kita mulai memperbaiki diri dengan menjaga setiap ucapan dan kepercayaan yang dititipkan kepada kita. Ingatlah, kepercayaan itu ibarat kaca; sekali ia retak atau pecah, sulit untuk kembali menjadi utuh seperti semula.
Semoga Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba yang Al-Amin, yang mampu menunaikan amanah hingga akhir hayat, sehingga kita bisa menghadap-Nya dengan wajah yang tegak.




