Artikel

Amalan Penangkal Kemunafikan

Oleh : M. Abdurrasyid

📅 Sabtu, 15 Maret 2026 | 25 Ramadan 1447 H

Amalan Penangkal Kemunafikan

Kemunafikan adalah musuh dalam selimut keimanan seseorang. Ia bersembunyi di balik rapuhnya jiwa manusia yang rakus akan pengakuan. Membenarkan berbagai cara  sebagai dukungan eksistensi di dunia. Ia manis di muka tapi menggerogoti nilai diri di mata Sang Pencipta.

Bahkan saking rendahnya kemunafikan, Allah SWT berjanji akan memasukkan penyintasnya ke dasar neraka Jahannam.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS. An-nisa 145)

Sedangkan sikap rasulullah SAW terhadap para penyintas kemunafikan sangatlah jelas. Beliau enggan untuk bergaul dengan mereka meskipun tak mau pula untuk melabeli mereka secara terang-terangan saat masih hidup di dunia. Semua terkuak ketika mereka meninggal dunia, beliau pasti menolak untuk menyolatinya.

Namun demikian, dalam kehidupan modern saat ini, kemunafikan kadang menjadi sebuah alat penyelamat diri dalam karir dan pekerjaan. Membungkus kepalsuan demi sebuah kesuksesan semu yang sekian lama didambakan.

Secara tegas Rasulullah SWT menyebutkan ada tiga ciri orang yang disebut sebagai munafik dan kita mungkin sudah sangat hafal.

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: Ciri orang munafik ada tiga, (yaitu): Apabila bicara, dusta; apabila berjanji, ingkar, dan apabila dipercaya, khianat. (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Dari ketiga ciri itu, bukankah kita sangat mudah menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari? Dari level terdekat hingga para elit pejabat. Padahal mereka tetap melakukan puasa dan shalat. Hal ini persis seperti termaktub dalam hadis nabi berikut ini:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

“Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)

Untuk membentengi diri dari kemunafikan, perlu proses panjang pendidikan dan pembiasan dari madrasah ula bernama keluarga. Namun, apabila madrasah itu juga tidak kuasa maka selain konsistensi dalam berdoa juga harus diimbangi dengan amalan yang nyata.

Adapun amalan itu adalah dengan melaksanakan shalat Arba’in. Shalat ini sangat masyhur di kalangan jamaah haji dan umrah. Tetapi berdasarkan hadis yang bersanad maqbul menyebutkan bahwa shalat Arba’in bukan sekadar di Makkah dan Madinah. Tetapi bisa dilakukan di masjid sekitar rumah.

Shalat Arba’in sendiri adalah shalat berjamaah di masjid tanpa terlewatkannya takbirotul iikhram sang imam dalam tempo 40 hari berturut-turut. Selain itu, dasar mengerjakannya juga harus sepenuhnya lillahi ta’ala. Dan justru di sini lah letak tantangan amalan tersebut.

Shalat Arba’in memang merupakan tantangan berat dengan “reward” luar biasa. Oleh karena itu bagi mereka yang tengah meneguhkan niat menjalaninya, akan banyak halangan dan rintangan dalam bentuk aneka rupa. Dan yang paling menjebak biasanya adalah tergelincirnya lisan untuk berkata dusta. Dusta di sini tidak hanya terhadap manusia saja, termasuk di dalamnya terhadap hewan dan tumbuhan yang intens kita berinteraksi dengannya.

Di sisi lain, dengan beratnya tantangan yang ada, Allah juga menganugrahkan hati kita untuk selalu siaga dan menanti adzan berkumandang setiap waktu. Membuat hati kita dengan sigap meninggalkan perkara dunia demi bermunajat kepadaNya. Ini adalah karunia yang luar biasa meskipun tampak sederhana.

Adapun dalil shalat Arba’in bersumber dari hadis nabi yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

“Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan.”

Melaksanakan shalat Arba’in sebagai ikhtiar membebaskan diri dari belenggu kemunafikan mungkin terlihat bombastis. Akan tetapi jangan pernah meremehkan perkara tersebut karena di dalamnya akan ada banyak hikmah tersembunyi melebihi ganjaran yang termaktub pada hadis di atas.

Bayangkan, bila suara adzan menggema, jiwa secara otomatis menjadi terpanggil dan bersegera menuju masjid dalam keadaan sudah bersuci. Menyatakan diri siap mengistirahatkan jiwa dari hiruk pikuk dunia. Kemudian kembali bercengkerama secara personal dengan Rabb Yang Maha Kuasa. Saatnya meneguhkan idealisme, bahwa shalat  di awal waktu adalah komitmen nyata. Hanya berlandaskan cinta dan tunduk kepadaNya.

Duh, betapa indahnya…

Apalagi ini semua bisa dilakukan oleh kalangan pemuda.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button