
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ آلعمران: ١٩١
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imron: 191)
Dalam ayat di atas, Allah menyebut karakter ulul albab (orang yang memiliki kecerdasan) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memadukan antara dzikir (olah daya ruhaniyah) dan fikir (olah daya nalar). Diantara dzikir adalah ibadah (shalat) kepada Allah dengan cara berdiri, duduk, dan berbaring. Dan duduk menjadi bagian dari rukun shalat yang dilakukan oleh seorang muslim.
A. Makna Duduk
Duduk dalam Alqur’an paling tidak ada dua kata yang sering digunakan yaitu julus kemudian menjadi kata majalis seperti tercantum dalam QS al-Mujadilah: 11 dan qu’ud seperti yang tercantum dalam QS Ali Imron: 191. Dalam Islam, duduk dalam ibadah menempati posisi rukun shalat, yang tidak boleh ditinggalkan. Dan duduk memiliki makna yang sangat penting, baik dari sisi hukum fikih maupun makna spiritual (tasawuf). Duduk ini tidak hanya merupakan posisi fisik, tetapi juga mencerminkan sikap seorang hamba yang rendah hati, kekhusyuk, tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Berikut penjelasan makna duduk dalam ibadah, yaitu 1) tunduk dan patuh. Duduk menunjukkan kondisi seorang hamba yang tenang, rendah hati, dan menerima takdir Allah. 2) Simbol kehambaan. Duduk seperti ini mengingatkan manusia pada statusnya sebagai makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta. 3) Kesederhanaan. Tidak ada keangkuhan dalam duduk saat ibadah; justru menunjukkan ketenangan dan kesadaran spiritual. 4) Tadabbur. Saat duduk tasyahud, seorang Muslim melakukan perenungan tentang tauhid, kerasulan, dan doa-doa yang dibaca.
B. Dalil Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Duduk merupakan posisi yang diperbolehkan dalam bermajelis, berdzikir dan beribadah. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat dan kemudahan dalam mengingat Allah. Dan di dalam Alquran dan sunnah, banyak disebutkan yang menunjukan urgensi duduk dalam ibadah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ المجادلة: ١١
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Mujadilah: 11)
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring. (QS. Ali Imran: 191)
Kedua ayat di atas, menyebutkan kata duduk dengan istilah yang berbeda. QS al-Mujadilah ayat 11, menyebut kata al-majalis merupakan kata bentuk jamak dari kata majlis. Ayat ini bermajlis (duduk) untuk kepentingan keilmuan seperti halaqah ilmiah, belajar mengajar, pengajian, dan lainya. sehingga duduk merupakan cara terbaik dalam pembelajaran ilmu. Hal ini ditegaskan dengan hadis Umar Ibn khathab yang meyaksikan majelisnya Rasulullah saat kedatangan malaikat Jibril yang duduk bersimpuh di hadapan Nabi SAW saat bertanya tentang iman, islam dan ihsan. Adapun QS Ali Imron ayat 191 menggunakan kata qu’ud untuk duduk dalam rangka untuk berzikir dan beribadah kepada Allah SWT.
عن عمران بن الحصين فال كانَتْ بي بَواسِيرُ، فَسَأَلْتُ النبيَّ ﷺ عَنِ الصَّلاةِ، فَقالَ: صَلِّ قائِمًا، فإنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقاعِدًا، فإنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلى جَنْبٍ. البخاري (١١١٧) • [صحيح] • أخرجه أبو داود (٩٥٢)، والترمذي (٣٧٢)، وابن ماجه (١٢٢٣).”
Dari Imran ibnul Hushoin berkata: Aku mengalami sakit wasir, kemudian aku bertanya kepada tentang shalat. Maka beliau bersabda: Shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu maka duduk, dan jika tidak mampu juga maka berbaring.“(HR. Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah)
Hadis ini memberikan penjelasan bahwa duduk menjadi rukhsah (keringanan syar’i) dalam kondisi tertentu. Orang yang tidak mampu berdiri dapat shalat sambil duduk, bahkan sambil berbaring jika tidak mampu duduk.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ وَيَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ
Dari Aisyah RA berkata: adalah Rasulullah SAW saat makan seperti makanya seorang hamba, dan saat duduk maka seperti duduknya seorang hamba. (HR. Abu Ya’la dan Ahmad, hasan)
Hadis ini memberikan pengertian bahwa Rasulullah duduk seperti duduknya seorang hamba, menunjukkan sifat tawadhu’ dan kehambaan yang dalam ketika beribadah dan dalam kehidupan sehari-hari.
C. Ragam Duduk
Duduk dalam ibadah, ada beberapa yaitu duduk iftrasy dan duduk tawaruk. Kedua duduk ini adalah duduk ini bagian dari rukun shalat. Selain kedua duduk ini, ada juga duduk iq’a dan duduk tarabbu’. Kedua duduk hanya dilakukan dalam keadaan dharurat, kondisi badan tidak bisa melakukan duduk iftrasy atau tawaruk.
1) Duduk Iftirasy (الافـتـراش)
Duduk iftirasy adalah cara duduk dimana posisi pantat bertumpu di kaki kiri yang dihamparkan, sementara kaki kanan ditegakkan. Hal ini sebagaimana hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh sabahat Abu Humaid.
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلاَةِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى، وَنَصَبَ الْيُمْنَى.
Dari Abu Humaid al-Sa’idi berkata: Nabi SAW apabila duduk dalam shalat, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam shalat, duduk iftrasy ini dilakukan saat duduk antara dua sujud, duduk istirahat sebelum berdiri dari sujud, dan duduk tasyahud awal.
2) Duduk Tawarruk (التَّوَرُّك)
Duduk tawaruk adalah posisi dimana pantat berada di lantai, kaki kiri berada di bawah betis kanan, dan kaki kanan ditegakkan. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Humaid:
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ:فَإِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَةِ الَّتِي يَنْقَضِي فِيهَا التَّشَهُّدُ، أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَنَصَبَ الْيُمْنَى، وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.
Dari Abu Humaid al-Sa’idi berkata: Ketika Rasulullah SAW berada di rakaat yang akhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya ke samping, menegakkan kaki kanannya, dan duduk di atas lantai. (HR. Bukhari)
Dalam shalat, duduk tawaruk ini dilakukan pada saat tasyahud akhir dalam shalat.
3) Duduk Iq’ā’ (الإقعاء)
Duduk dengan kedua kaki ditegakkan, lalu pantat diletakkan di antara kedua tumit yang menempel ke tanah. Mirip seperti posisi jongkok yang sedikit duduk.
عَنْ طَاوُسٍ قَالَ: قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ فِي الإِقْعَاءِ عَلَى الرِّجْلَيْنِ؟ فَقَالَ: هِيَ السُّنَّةُ، فَقُلْنَا: إِنَّهَا جُفَاءٌ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: بَلْ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Thawus berkata: Kami bertanya kepada Ibnu Abbas tentang duduk iq’ā’ di atas kedua tumit, maka beliau menjawab, “Itu adalah sunnah.” Kami berkata, “Itu kasar.” Beliau menjawab, “Bahkan itulah sunnah Nabi kalian ﷺ.” (HR. Muslim no. 536)
Mayoritas ulama membolehkan iq’ā’ hanya dalam duduk antara dua sujud, bukan dalam tasyahud. Ulama Syafi’iyyah memakruhkan jika sering dilakukan, tapi tidak haram. Ulama Hanabilah lebih longgar dan membolehkannya. Duduk ini tidak sama dengan duduk tawarruk atau iftirasy. Duduk ini hanya untuk orang yang kesulitan duduk lainnya karena faktor kesehatan. Dengan ungkapan lain, duduk ini dilakukan ketika dalam keadaan terpaksa, sekiranya seseorang memungkinkan melakukan duduk iftirasy lebih diutamakan.
4) Duduk Tarabbu’ (التربُّع)
Duduk bersila (tarabu’) adalah posisi kaki menyilang dengan telapak kaki saling menumpu, pantat di lantai. Ini adalah duduk yang umum dalam majelis, membaca Al-Qur’an, atau dalam shalat untuk orang yang tidak mampu berdiri atau duduk iftirasy/tawarruk.
Tidak ada hadis shahih yang secara eksplisit menyebut duduk tarabbu’ sebagai bagian dari tata cara duduk dalam shalat Nabi SAW. Namun, ini disebutkan oleh para fuqaha. Imam Nawawi (Mazhab Syafi’i) misalnya, menyebutkan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: “Jika seseorang tidak mampu duduk iftirasy atau tawarruk, maka boleh duduk tarabbu’ (bersila).” Sedangkan Imam Al-Kasani (Mazhab Hanafi) menyatakan: “Tarabbu’ disebutkan sebagai duduk yang sah bagi yang kesulitan duduk syar’i dalam shalat. Dan kapan digunakan duduk ini, yaitu: 1) Shalat, bagi yang sakit atau lemah; 2) I’tikaf, majelis ilmu, berzikir atau membaca Qur’an; 3) Tidak dipakai dalam shalat normal kecuali terpaksa.
D. Duduk yang dilarang
Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa jenis duduk yang dilarang atau dimakruhkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, khususnya dalam konteks shalat dan adab sehari-hari. Larangan ini disampaikan melalui hadits-hadits shahih yang bertujuan menjaga adab, kesehatan tubuh, dan kekhusyukan ibadah.
1) Duduk Seperti Duduknya Syaitan (جلوس الشيطان)
Duduk dengan pantat di lantai dan kedua lutut ditegakkan, sementara tangan menyentuh tanah di antara dua lutut (seperti cara anak-anak duduk saat malas atau bosan). Ini berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan cara shalat Rasulullah SAW:
كَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى، وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ
Rasulullah SAW melakukan duduk iftirasy, dan beliau melarang duduk seperti cara duduk setan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama menafsirkan cara duduk setan ini sebagaimana posisi duduk jongkok, dan kedua tangan diletakkan di tanah sebagai sandaran. Sebagaimana keterangan Imam Ibnu Baz dalam fatwanya. Larangan ini berlaku dalam shalat, karena menghilangkan kekhusyukan dan menyerupai cara duduk syaitan.
2) Duduk Iq’ā’ yang Menyerupai Binatang
Duduk dengan kedua kaki di bawah, dan pantat berada di sela-sela kedua kaki, menyerupai cara anjing duduk.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:”نَهَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ، وَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ، وَالِالْتِفَاتِ كَالْثَعْلَبِ.” رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني
Dari Abu Hurairah berkata: Sahabatku (Rasulullah) melarangku dari sujud seperti burung gagak mematuk, duduk seperti anjing (iq’ā’ al-kalb), dan menoleh seperti rubah. (HR. Ahmad, Abu Dawud; Shahih menurut Al-Albani)
Catatan: 1) Duduk iq’ā’ yang menyerupai binatang ini berbeda dari iq’ā’ yang ringan antara dua sujud yang dibolehkan dalam riwayat Ibnu Abbas; 2) Ulama menyebut iq’ā’ yang dilarang adalah duduk secara terus-menerus seperti binatang, bukan yang sesekali dan tidak menyerupai hewan secara utuh.
3) Duduk Bersandar Ketika Shalat Tanpa Uzur
Duduk bersanndar yaitu duduk yang bersandarkan pada tangan sendiri ataupun bersandarkan pada yang lain dan tidak dalam keadaan uzur, maka tidak diperkenan dilakukan untuk ibadah, terutama ibadah shalat. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Suraid dan Abdullah bin Umar.
عن عبدالله بن عمر أنَّ النَّبيَّ ﷺ نَهى رجلًا وَهوَ جالسٌ معتمِدٌ على يدِهِ اليسرى في الصَّلاةِ وقالَ: إنَّها صلاةُ اليَهودِ. الذهبي، المهذب في اختصار السنن (٢/٥٨٢) • إسناده قوي • أخرجه أبو داود (٩٩٤) والحاكم (١٠٠٧)، والبيهقي (٢٩٢٤) واللفظ لهما
Dari Abdullah bin Umar RA, sesungguhnya Nabi SAW melarang seorang laki-laki yang duduk bersandar pada tangannya yang kiri dalam shalat. Dan beliau bersabda: Ini adalah shalatnya Yahudi. (HR Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baihaqi).
عن الشريد بن سويد الثقفي قال مَرَّ بي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم وأنا جالسٌ هكذا وقد وَضَعْتُ يَدِي اليُسْرَى خلفَ ظهري واتَّكَأْتُ على أَلْيَةِ يَدِي فقال أَتَقْعُدُ قَعْدَةَ المغضوبِ عليهم. الألباني، أصل صفة الصلاة (٣/٨٣٧) • على شرط الشيخين • أخرجه عبد الرزاق () واللفظ له، وأبو داود (٤٨٤٨) ، وأحمد (١٩٤٥٤)
Dari al-Suraid bin Suwaid berkata, Rasulullah SAW melewati saya saat saya sedang duduk seperti ini, yaitu aku meletakan tanganku yang kiri di belakang punggungku kemudian aku bersandar pada tanganku. Kemudian beliau bersabda: Mengapa kamu duduk dengan cara duduk yang dimurkai (oleh Allah).(HR. Abu Dawud, Ahmad, Abdurrazaq). 
Duduk dengan bersandar tanpa uzur dalam shalat menunjukkan kemalasan dan ketidakseriusan, dan main-main.
4) Duduk Ihba’
Duduk Ihba’ (ihtiba’) adalah posisi duduk dimana kedua lutut ditegakan dengan dipeluk oleh kedua tanganya. Hal ini berdasarkan hadis berikut ini:
عن معاذ بن أنس أن النبيَّ ﷺ نهى عن الحَبْوَةِ يومَ الجُمُعةِ والإمامُ يَخْطُبُ. الألباني، صحيح ابن خزيمة (١٨١٥) • حسن • أخرجه الترمذي (٥١٤) واللفظ له، وأخرجه أبو داود (١١١٠)، وأحمد (١٥٦٣٠)
Dari Mu’ad bin Anas sesungguhnya Nabi SAW melarang duduk ihba’ pada hari jum’at pada saat imam sedang berkhutbah. (HR al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad)
Dan duduk ihba’ ini dilarang dilakukan saat mendengarkan khutbah jum’at.




