
Di antara perkara yang umumnya disukai manusia adalah bercanda, humor, melucu alias membuat orang lain tertawa. Tertawa sendiri dalam batas yang wajar memiliki segudang manfaat kesehatan. Tertawa dipercaya bisa mengurangi stres dan kecemasan. Humor terbukti menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Menurut Mayo Clinic, tertawa dapat memberi efek relaksasi dan mengalihkan pikiran dari kekhawatiran. Humor juga terbukti mampu meningkatkan sistem imun. Tertawa ternyata juga dapat merangsang produksi sel antibodi dan meningkatkan aktivitas sel T, yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ini membuat tubuh lebih tahan terhadap infeksi dan penyakit ringan. Bukan hanya itu, tertawa mampu mengurangi rasa sakit, karena dengan tertawa memicu pelepasan endorfin, zat alami penekan rasa sakit. Dalam kasus migrain atau nyeri ringan, humor dapat menjadi mekanisme pengalihan yang efektif. Tertawa bersama juga dapat memperkuat ikatan sosial. Dengan tertawa bareng dampaknya bisa mempererat hubungan interpersonal dan membangun rasa kebersamaan. Dalam lingkungan kerja, humor meningkatkan produktivitas dan efektivitas komunikasi.
Sungguhpun demikian, membuat tertawa atau lelucon, bercanda atau ndagel hendaknya memperhatikan sejumlah rambu-rambu agar tujuan humor tidak melenceng dari yang semestinya. Rambu-rambu dimaksud seperti :
- Tidak Berdusta dalam Humor
Allah SWT mengingatkan melalui Firman-Nya :
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”
(QS. An-Nahl: 105)
Nabi juga pernah mengingatkan dalam sabdanya:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ
“Celaka bagi orang yang berbicara lalu berbohong agar membuat orang tertawa. Celaka baginya, celaka baginya.”(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim)
Dengan demikian, humor harus jujur dan tidak dibangun di atas kebohongan, meskipun tujuannya menghibur.
- Tidak Menyakiti atau Menghina Orang Lain
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Humor yang merendahkan, mengejek fisik, status sosial, atau latar belakang seseorang bertentangan dengan prinsip karāmah al-insān (menjaga kehormatan manusia).
- Tidak Berlebihan dalam Tertawa
Allah berfirman dalam Alquran :
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا
“Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak…”
(QS. At-Taubah: 82)
Nabi juga pernah mengingatkan :
وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kamu banyak tertawa, karena tertawa yang berlebihan dapat mematikan hati.”
(HR. Tirmidzi)
Jadi, Islam tidak melarang tertawa, tetapi mengingatkan agar tidak berlebihan dalam tertawa hingga melalaikan zikir dan kesadaran spiritual.
- Menjaga Tujuan dan Niat Humor
Humor yang diniatkan untuk mempererat hubungan (ta’līf al-qulūb), meringankan beban jiwa, atau mencairkan suasana adalah mubah, bahkan bisa menjadi sunnah jika membawa maslahat.
Rasulullah ﷺ sendiri sesekali bergurau, namun tetap dalam batas kebenaran dan kelembutan. Contohnya dalam sebuah riwayat berikut ini.
“Aku akan menaikkanmu ke atas punggung anak unta.”
Ketika wanita itu bingung, beliau menjelaskan bahwa semua unta adalah anak dari unta lain.
- Menjaga Adab dan Batasan
Inagtlah bahwa setiap ucapan dan tindakan tidak lepas dari pengawasan Allah dan malaikat.
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(QS. Qaf: 18)
Setiap ucapan, termasuk humor, tercatat dan harus dipertanggungjawabkan. Maka, menjaga adab dalam bercanda adalah bagian dari tanggung jawab lisan.
- Tidak menjadikan SARA sebagai bahan candaan
Di negara kita, persoalan SARA cukup sensitif, sehingga harus berhati-hati. Bercanda terkait SARA apalagi menyangkut agama atau suku lain bisa jadi malah bukan kelucuan yang didapat tapi kemarahan dari kelompok masyarakat lain. Maka dari itu hendaknya bijak dan hati-hati.
Demikian sedikit rambu-rambu dalam membuat tawa, semoga kita dapat hiburan dengan humor dan tawa namun tetap tidak keluar dari batasan yang dibolehkan. Selamat bergembira dengan tertawa.




