
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran-Nya.
Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali berbicara tanpa terlalu memikirkan dampak dari setiap kata yang keluar dari mulut kita. Sering kali, kata-kata yang tidak bijak atau tidak terjaga dapat menyakiti perasaan orang lain, menimbulkan permusuhan, atau bahkan menciptakan dosa yang besar. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, mari kita renungkan pentingnya menjaga mulut atau lisan kita, agar Allah SWT menjaga kita dengan rahmat-Nya.
Keutamaan Menjaga Lisan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr (15:14-15)
> “Dan jika Kami turunkan kepadanya (Muhammad) sebuah ayat, mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah mukjizat yang lebih besar dari pada itu?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui di mana Dia menempatkan wahyu-Nya.'”
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kita bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang ada dalam hati dan lisan kita. Setiap kata yang keluar dari mulut kita adalah amanah dari Allah yang harus kita pertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam berbicara.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
> “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini jelas menunjukkan bahwa kata-kata yang baik, yang mendatangkan manfaat dan kebaikan, adalah pilihan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebaliknya, berbicara tanpa berpikir atau mengucapkan kata-kata yang tidak baik hanya akan membawa kerugian bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Tips Menjaga Lisan Agar Allah
- Berbicara dengan Niat yang Baik
Setiap kata yang keluar dari mulut kita haruslah memiliki niat yang baik dan positif. Jika niat kita untuk memberi nasihat, memperbaiki keadaan, atau menyemangati orang lain, maka kata-kata kita akan menjadi amalan yang mulia. Namun, jika niat kita hanya untuk mencela atau merendahkan orang lain, maka kata-kata tersebut akan menjadi dosa.
Allah berfirman dalam surat Al-Isra (17:53)
> “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Oleh karena itu, niatkan setiap kata yang kita ucapkan untuk kebaikan, bukan untuk merusak atau menyakiti.
- Berhati-Hati dengan Ghibah (Menggunjing)
Salah satu dosa besar yang sering tidak kita sadari adalah ghibah, yaitu berbicara buruk tentang orang lain di belakang mereka. Rasulullah SAW bersabda:
> “Ghibah itu lebih buruk daripada zina. Seseorang yang berzina akan bertobat kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya. Tetapi orang yang berghibah tidak akan diampuni kecuali orang yang dizhalimi itu memaafkannya.” (HR. Abu Dawood)
Jadi, mari kita jaga lisan kita agar tidak terjerumus dalam perbuatan ghibah. Jika kita tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan, lebih baik kita diam.
- Tegur Diri Ketika Hendak Mengeluarkan Kata-Kata Kasar
Terkadang emosi bisa menguasai kita, terutama saat kita marah atau frustrasi. Dalam keadaan seperti ini, lisan kita bisa mengucapkan kata-kata kasar yang dapat menyakiti orang lain atau bahkan menjauhkan kita dari rahmat Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
> “Sesungguhnya seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, padahal pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)
Saat kita marah atau kesal, berhentilah sejenak, kontrol diri, dan ingatlah bahwa kata-kata kasar atau menghina hanya akan menambah masalah. Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar dan bisa mengendalikan diri, bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun.
- Diam Itu Emas
Dalam beberapa situasi, lebih baik diam daripada berbicara. Diam bukan berarti kita tidak peduli, tetapi kadang-kadang kata-kata kita bisa memperburuk keadaan atau menambah konflik. Rasulullah SAW mengajarkan kita:
> “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Diam dalam situasi tertentu, seperti saat tidak ada yang bermanfaat dari berbicara atau saat kita ragu dengan kata-kata kita, bisa jadi pilihan terbaik.
Kisah Sahabat yang Menjaga Lisan
- Kisah Abu Hurairah R.A.
Abu Hurairah r.a. dikenal sebagai salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat menjaga perkataannya dan hanya mengucapkan yang baik. Bahkan, ketika beliau duduk bersama orang-orang, ia lebih memilih untuk diam dan mendengarkan, kecuali jika ada yang bertanya atau membutuhkannya.
- Kisah Aisyah R.A.
Istri Rasulullah, Aisyah r.a., juga dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga lisannya. Ketika ada yang mencoba membicarakan orang lain di hadapannya, ia selalu menasihati untuk berbicara dengan baik dan menjauhi ghibah.
Penutup
Saudaraku, lisan adalah anugerah Allah yang sangat besar, tetapi juga bisa menjadi sumber petaka jika tidak kita jaga dengan baik. Setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk menjaga mulut kita, berbicara hanya yang baik, dan diam ketika tidak ada yang bermanfaat untuk dikatakan. Jika kita bisa menjaga lisan, insyaAllah Allah akan menjaga kita dalam setiap aspek kehidupan.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjaga mulut kita dan selalu berkata yang baik. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.




