Khutbah Jum’at : Hati yang Terkunci Mati: Mengapa Nasihat Sulit Masuk?
Oleh : Abdul Azis, S.Hum., M.Pd. (Majelis Tablig PCM Kajen)

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله . اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya, terutama nikmat iman dan Islam. Sehingga dengan kenikmatan tersebut Allah Ta’ala masih kuatkan langkah kaki kita untuk menuju masjid dalam memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslim dalam keadaaan sehat. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sesungguhnya Allah befirman:
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga)”
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita merasa begitu hambar ketika meaksanakan shalat. Pernahkan kita merasa hampa ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an? Pernahkah kita duduk di majelis ilmu, mendengarkan nasihat tentang kematian, surga, dan neraka, namun air mata kita tak menetes sedikit pun dan hati kita tak bergetar? Nasihat itu masuk ke telinga kanan, dan menguap begitu saja lewat telinga kiri.
Pertanyaannya, apakah nasihatnya yang salah? Ataukah penyampainya yang kurang fasih dan jelas? Seringkali, masalahnya bukan pada benih nasihatnya, melainkan pada “tanah” tempat benih itu jatuh, yakni hati kita. Tanah itu mungkin telah mengeras, atau bahkan tertutup rapat, sehingga cahaya hidayah tak lagi bisa menembusnya.
Jamaah yang dirahmati Allah Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan fenomena kelam ini dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Muthaffifin ayat 14:
كَلَّا بَلْࣝ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).
Dalam ayat ini, Allah menggunakan istilah Ar-Raan (penutup/karat). Mengapa hati bisa tertutup karat sehingga nasihat sulit masuk?
Para ulama ahli tafsir dan hadis telah memberikan penjelasan yang sangat benderang mengenai ayat ini. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim membawakan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَالَ : ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ {كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} ” .
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Ketika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Jika ia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hatinya akan bersih. Namun jika (dosa) itu bertambah, maka (titik hitam) itu pun bertambah. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Tetapi pada hati mereka ada ran (penutup dosa dan perbuatan jahat) yang mereka peroleh. (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: Hasan Shahih).
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Tafsir dari lisan manusia termulia ini menjawab pertanyaan kita. Nasihat sulit masuk bukan karena kita kurang cerdas, melainkan karena tumpukan dosa dan maksiat yang kita lakukan baik dosa mata, lisan, maupun perbuatan telah berubah menjadi noda hitam. Jika dibiarkan tanpa istighfar dan taubat, noda itu berkerak, menjadi Ar-Raan.
Seorang ulama Tabi’in yang agung, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata: “Itu adalah dosa di atas dosa, yang terus menumpuk hingga membuat hati menjadi buta dan mati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya).
Ketika hati sudah tertutup rapat oleh noda dosa, ia akan mengalami disorientasi parah. Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menggambarkan hati yang penuh dosa ini seperti cangkir yang terbalik (kuzan mujawwakhan). Bayangkan sebuah cangkir yang ditengkurapkan, seberapa banyak pun air jernih dituangkan ke atasnya, tidak akan ada satu tetes pun yang masuk.
Hati yang terbalik tidak lagi mengenal mana yang ma’ruf (baik) dan tidak bisa lagi mengingkari yang munkar (buruk), kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya. Inilah hukuman terberat di dunia; Allah biarkan fisiknya sehat, hartanya melimpah, namun hatinya terkunci dari petunjuk.
Maka, sebelum Ar-Raan itu benar-benar mengunci mati hati kita selamanya, marilah kita bersihkan karat-karat tersebut. Obat dari hati yang berkarat hanyalah taubat yang nasuha (sungguh-sungguh), memperbanyak istighfar, menyesali dosa, serta menyibukkan lisan dan hati dengan dzikrullah (mengingat Allah).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan titik-titik hitam yang terlanjur mengotori hati kita, sehingga hati ini kembali menjadi tanah yang subur untuk menerima benih-benih hidayah.
بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ .اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ .رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




