Artikel

Menyukai Seseorang Dalam Doa: Cinta yang Dijaga oleh Allah

Oleh: Nisa Alya Rohmah (Mahasiswa Sekolah Tabligh Banjarnegara)

📅 Ahad, 12 April 2026 | 24 Syawal 1447 H

Ada rasa yang tidak perlu diumumkan kepada dunia, tidak perlu dipertontonkan dalam cerita, dan tidak perlu dibuktikan dengan kata-kata. Rasa itu cukup dijaga dalam hati, lalu disampaikan dalam doa kepada Allah. Sebab ada cinta yang tidak ingin dimiliki, tetapi ingin dijaga arah tujuannya : ada rindu yang tidak dituntut balasannya, tetapi hanya ingin dijauhkan dari dosa dan mendekat pada kebaikan.

Dalam Islam, menyukai seseorang adalah fitrah. Tetapi cara menjaga rasa itulah yang membedakan antara cinta yang memberatkan dan cinta yang mengangkat derajat. Cinta yang tumbuh dalam batasan iman membuat seseorang tidak sibuk mencari perhatian manusia, tetapi justru mencari rida Allah untuk menuntun hati.

Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa cinta adalah anugerah, bukan celaan dan bukan beban. Tetapi ketenteraman cinta hanya nyata ketika ia diatur oleh Allah. Maka, ketika rasa itu datang sebelum waktunya, tempat terbaik untuk menitipkannya adalah dalam doa, bukan dalam perbuatan yang melanggar batas.

Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang indah tentang rasa cinta. Beliau bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan bahwa ia mencintainya.”
(HR. Tirmidzi)

Meski hadits ini umum tentang cinta sesama muslim, para ulama menjelaskan bahwa bentuk paling halus dari kasih sayang adalah ketika seseorang mendoakan orang yang ia cintai tanpa sepengetahuannya. Sebab doa adalah bukti cinta yang paling tulus, tidak menuntut apa pun, hanya memohon kebaikan bagi orang itu.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,
“Wahai Rasulullah, aku mencintai seseorang karena Allah.”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Beritahukan kepadanya.”
(HR. Ahmad)

Cinta yang karena Allah tidak selalu berbentuk kepemilikan. Kadang bentuk terbaik dari cinta adalah menjaga jarak, mengawasi dari jauh, dan memohon agar Allah memperbaiki takdir masing-masing dengan sebaik-baiknya skenario.

Salah satu kisah sahabat yang menggambarkan ketulusan perasaan adalah kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ia pernah menyukai Fatimah sebelum menikahinya, tetapi ia tidak memberitahukan kepada siapa pun. Ia hanya membawa rasa itu kepada Allah. Ali hidup dengan kesederhanaan materi bahkan tidak punya apa-apa selain baju besi. Namun cintanya ia jaga dengan malu dan hormat. Ketika akhirnya ia memberanikan diri meminang, hal pertama yang ia lakukan adalah berdoa agar hatinya ditenangkan dan langkahnya diridai.

Ketika Rasulullah ﷺ menerima pinangan itu, Ali menangis bukan karena bahagia semata, tetapi karena ia merasa bahwa cinta yang dijaganya dengan doa akhirnya dipilih oleh Allah sebagai takdir. Dari kisah ini, kita belajar bahwa cinta yang dijaga dengan keshalihan akan menemukan jalannya dengan cara yang paling mulia.

Begitu pula doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan kepada seseorang ketika mencintai orang lain:
“Ya Allah, satukanlah hati kami dalam kebaikan, jauhkanlah kami dari keburukan, dan berkahilah hubungan kami jika itu baik di sisi-Mu.”

Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan seseorang untuk membawa rasa cinta kepada Allah terlebih dahulu sebelum kepada makhluk. Seseorang boleh menyukai, merindukan, atau mengharapkan, tetapi semuanya berada di bawah naungan doa.

Doa melegakan hati, karena ia tidak memaksa. Doa menenangkan, karena ia tidak menuntut balasan. Doa memuliakan cinta, karena ia menyerahkan seluruh arah dan hasil kepada Allah, Sang Pembolak-balik Hati.

Terkadang orang yang kita doakan tidak menjadi jodoh kita. Tetapi doa itu tetap menjadi amal yang tidak sia-sia. Doa tidak pernah kembali tanpa manfaat. Ia mungkin kembali pada kita dalam bentuk ketenangan, dalam bentuk perlindungan dari takdir yang buruk, atau dalam bentuk dipertemukan dengan orang yang lebih baik di masa depan.

Menyukai seseorang dalam doa adalah bentuk cinta paling lembut dan paling dewasa. Sebab ia tidak menjadikan rasa sebagai pemilik, tetapi sebagai titipan yang harus dijaga. Ia tidak memaksa Allah mengikuti kehendaknya, tetapi memohon agar Allah menuntun hatinya. Dan itulah cinta yang diberkahi, tidak melukai, dan tidak menodai iman.

Pada akhirnya, kembalikanlah segala rasa kepada Allah. Jika ia baik, Allah akan mendekatkan. Jika ia buruk, Allah akan menjauhkan. Dan jika ia memang takdir, Allah akan menyempurnakannya dengan waktu yang paling indah. Allahu A’lam Bishoab.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button