
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Jama’ah online yang dimuliakan Allah,
Jika kita melihat dunia hari ini, kita hidup di era di mana kecerdasan teknis manusia sedang berada di puncaknya. Manusia mampu merancang infrastruktur yang luar biasa, membangun gedung pencakar langit, dan menciptakan mesin serta alat-alat berat yang mampu meratakan bukit dan mengubah bentang alam. Kemajuan teknis ini sangat mengagumkan.
Namun, ada sebuah fenomena yang berulang sepanjang sejarah manusia, kemajuan fisik dan teknologi sering kali melahirkan arogansi atau kesombongan batin. Ketika manusia merasa sudah mampu menaklukkan alam dengan tangannya sendiri, mereka mulai merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Mereka mulai melanggar batas-batas agama dengan dalih kemajuan zaman.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun yang lalu, kesombongan atas pencapaian teknis dan infrastruktur ini pernah menghancurkan sebuah peradaban besar, yaitu kaum Tsamud, umat dari Nabi Saleh ‘alaihissalam.
Kaum Tsamud adalah peradaban yang sangat maju dalam bidang rekayasa dan konstruksi di masanya. Mereka memahat gunung-gunung batu menjadi rumah-rumah dan istana yang megah. Mereka merasa aman di dalam benteng-benteng batu tersebut dan merasa tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghancurkan mereka. Kesombongan ini membuat mereka menolak dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Saleh AS.
Mereka menantang Nabi Saleh untuk mengeluarkan seekor unta betina yang sedang hamil dari dalam bongkahan batu karang yang keras. Atas izin Allah, batu itu terbelah dan keluarlah unta betina sesuai permintaan mereka. Ini adalah mukjizat fisik yang secara logika menghancurkan keangkuhan ilmu mereka.
Nabi Saleh AS tidak meminta harta kepada mereka, beliau hanya menetapkan satu aturan operasional dari Allah terkait unta tersebut: bergiliran mengambil air di sumber air, dan jangan pernah melukai unta tersebut. Jika aturan itu dilanggar, sistem kehidupan mereka akan hancur.
Seruan dan peringatan tegas dari Nabi Saleh ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 73:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمْ ءَايَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِىٓ أَرْضِ ٱللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Yang artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu menyakitinya dengan keburukan apa pun, yang karenanya kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.'”
Mari kita ambil pesan utama dari ayat ini. Unta betina ini melambangkan “batas suci” atau “aturan main” (syariat) dari Allah SWT. Kaum Tsamud diberikan kebebasan menikmati kekayaan alam dan infrastruktur mereka, asalkan mereka tidak melewati batas yang satu ini.
Namun, kesombongan mengalahkan akal sehat. Merasa terganggu dan ingin menunjukkan kekuatan otoriternya, sembilan orang pemuda Tsamud yang paling sombong menyembelih unta tersebut. Mereka melanggar batas keselamatan yang telah ditetapkan. Akibatnya, tiga hari kemudian, bukan musuh dari luar yang menghancurkan mereka, melainkan suara gemuruh dari langit dan gempa bumi yang meluluhlantakkan rumah-rumah batu mereka hingga mereka mati bergelimpangan. Istana batu yang mereka banggakan tidak bisa melindungi mereka dari ketetapan Allah.
Mari kita jadikan kisah kaum Tsamud ini sebagai cermin di masa sekarang.
Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa, di usia muda ini, kalian dianugerahi fisik yang bugar, kecerdasan, dan kebebasan mengakses dunia melalui genggaman teknologi. Kadang-kadang, deretan prestasi akademik, kepandaian berlogika, atau popularitas followers di media sosial membuat seorang anak muda merasa angkuh. Kita mulai meremehkan nasihat orang tua, menganggap ibadah itu buang-buang waktu, atau merasa aturan agama itu kuno dan mengekang kebebasan berekspresi.
Nah, “unta betina” dalam kehidupan modern kita adalah SOP dari Sang Pencipta, yaitu aturan halal dan haram. Sehebat apa pun ilmu teknis kita, semahir apa pun kita mengoperasikan sistem yang rumit, jika kita melanggar batas-batas Allah—misalnya dengan mencurangi takaran, bekerja dengan cara yang haram, meninggalkan shalat karena sibuk bekerja, atau memakan riba—maka sistem kehidupan kita akan error dan hancur. Jangan sampai kecerdasan dan keterampilan teknis yang kita pelajari membuat kita angkuh dan merasa kebal dari azab Allah.
Kekayaan, rumah yang megah, atau karir yang mapan adalah anugerah dari Allah. Nikmatilah semua itu (biarkanlah ia makan di bumi Allah), namun jangan sampai kita “menyembelih” rasa syukur kita. Jangan menyakiti orang lemah, jangan merampas hak orang lain demi melanggengkan kekuasaan. Benteng beton setebal apa pun di dunia ini tidak akan sanggup menahan guncangan jika Allah sudah mencabut keberkahan hidup dari keluarga kita.
Oleh karena itu, di tengah hiruk-pikuk kemajuan zaman ini, mari kita jaga batas-batas syariat Allah. Jangan pernah merasa lebih besar dari aturan Tuhan, betapapun tingginya pendidikan dan harta yang kita capai. Jadikanlah setiap ilmu dan pekerjaan kita sebagai jalan pengabdian, bukan jalan kesombongan.
Mari kita tutup majelis ini dengan menundukkan hati, bermunajat kepada Allah SWT.
Ya Allah, Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Memiliki segala ilmu. Karuniakanlah kepada kami akal yang cerdas namun hati yang senantiasa tunduk kepada-Mu. Jauhkanlah kami dari kesombongan kaum Tsamud, yang tertipu oleh kemegahan duniawi hingga melupakan kekuatan-Mu. Bimbinglah langkah kami, para pemuda dan umat ini, agar senantiasa menjaga syariat-Mu, sehingga kehidupan kami di dunia ini senantiasa berada dalam keselamatan dan keberkahan.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




