AkhlaqAqidahArtikelBuletin
Trending

Keteguhan Nabi Musa AS: Perjuangan Panjang Menghadapi Kediktatoran Firaun

Kisah Teladan para Nabi dan Rasul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jama’ah online yang dimuliakan Allah,

Dalam perjalanan hidup ini, sadar atau tidak, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang membuat kita merasa “terjepit” atau terintimidasi. Mungkin itu berupa tekanan sistem di tempat kerja yang memaksa kita berkompromi dengan hal yang haram, lingkungan pergaulan yang memaksa anak muda untuk ikut-ikutan tren yang merusak, atau kesulitan ekonomi yang seolah tidak ada jalan keluarnya.

Ketika kita mencoba untuk tetap idealis, tetap memegang teguh kejujuran dan syariat agama, kita justru dimusuhi, dipinggirkan, atau ditertawakan. Situasi seperti ini sering membuat kita merasa seolah berada di jalan buntu. Namun, jika kita menengok sejarah, perasaan terjepit karena mempertahankan kebenaran ini pernah dialami secara nyata, dan dalam skala yang jauh lebih mengerikan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

Nabi Musa AS tidak berhadapan dengan masalah biasa. Beliau berhadapan dengan Firaun, sebuah simbol kediktatoran mutlak yang otoriter, tiran, bahkan dengan sombongnya memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Firaun memiliki segalanya, berupa harta tak berseri, militer yang tak terkalahkan, dan kekuasaan absolut.

Perjuangan Nabi Musa bukanlah perjuangan semalam. Beliau harus berdakwah secara lisan dengan lembut, memperlihatkan mukjizat, hingga puncaknya, beliau dan Bani Israil harus menempuh perjalanan eksodus melarikan diri dari Mesir. Dan di sinilah momen paling mendebarkan itu terjadi. Di depan mereka membentang Laut Merah yang tak tertembus, sementara di belakang mereka, debu mengepul dari pasukan kavaleri Firaun yang siap membantai.

Secara kalkulasi matematika manusia, itu adalah akhir segalanya. Tidak ada kapal, tidak ada jembatan, tidak ada jalan memutar. Kaum Bani Israil panik luar biasa. Mereka mulai menyalahkan Nabi Musa.

Momen kepanikan massa yang berbenturan dengan keteguhan iman seorang utusan Allah Swt ini direkam dengan sangat dramatis dalam QS. Asy-Syu’ara [26] ayat 61-62:

فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ

Fa lammā tarā’al-jam’āni qāla aṣḥābu mūsā innā lamudrakūn(a). Qāla kallā, inna ma’iya rabbī sayahdīn(i).

Yang artinya: “Maka ketika kedua golongan itu telah saling melihat, pengikut-pengikut Musa berkata, ‘Kita benar-benar akan tersusul.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'”

Mari kita resapi pesan utama dari ayat ini. Perhatikan jawaban Nabi Musa. Beliau tidak berkata, “Tunggu, biar saya pikirkan strateginya,” atau “Ayo kita menyerah saja.” Beliau menjawab dengan satu kata yang sangat tegas yaitu “Kallā!” (Sekali-kali tidak!).

Dari mana datangnya keyakinan sekuat itu di tengah jalan buntu? Jawabannya ada pada kalimat berikutnya “Inna ma’iya rabbī” (Sesungguhnya Tuhanku bersamaku). Inilah puncak dari keteguhan tauhid. Nabi Musa mengajarkan kepada kita bahwa logika manusia memiliki batas, tetapi kekuasaan Allah Swt tanpa batas. Ketika kita berjuang di jalan Allah Swt dan berpegang teguh pada syariat-Nya, Allah Swt tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya hancur. Keteguhan inilah yang kemudian mendatangkan keajaiban, Allah Swt memerintahkan Nabi Musa memukul tongkatnya, dan laut pun terbelah.

Lalu, bagaimana kita mengaplikasikan keteguhan mental Nabi Musa ini dalam kehidupan kita sekarang? Tentu kita tidak akan dikejar Firaun, dan kita tidak perlu membelah laut. Namun, kita menghadapi “Firaun-Firaun kecil” dan “Laut Merah” dalam bentuk lain.

Bagi rekan-rekan remaja, terkadang “Firaun kecil” itu berupa budaya mencontek massal atau pergaulan bebas yang mendominasi. Jika kalian menolak ikut, kalian di-bully, dijauhi, dan seolah berada di “jalan buntu” secara sosial. Saat kepanikan melanda batin kalian, ingatlah kata Nabi Musa: “Kallā!” Jangan pernah berkompromi dengan keburukan. Yakinlah, “Tuhanku bersamaku.” Allah akan membimbing dan menyelamatkan masa depan kalian dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Bagi Bapak/Ibu sekalian, mungkin “Laut Merah” itu berupa kondisi ekonomi yang terjepit. Di satu sisi utang menumpuk, di sisi lain ada tawaran pekerjaan haram, suap, korupsi, atau pinjaman riba yang seolah menjadi satu-satunya “jalan keluar”. Iblis akan membisikkan kepanikan yang sama seperti kaum Bani Israil: “Kita sudah tamat, ambil saja yang haram itu!”

Di titik kritis itulah tauhid kita diuji. Akankah kita menyerah pada sistem kediktatoran hawa nafsu dan keserakahan, atau kita berdiri tegak seperti Nabi Musa, menolak yang haram, lalu berserah diri memohon jalan keluar dari Allah Swt? Ingatlah, rezeki yang halal, meskipun terlihat buntu, jika dihadapi dengan ketaqwaan, pasti akan dibukakan jalannya oleh Allah Swt, persis seperti terbelahnya lautan.

Oleh karena itu, mari kita tanamkan mental Kallā (sekali-kali tidak untuk kemaksiatan) dalam dada kita. Seberat apa pun tekanan dari sistem yang korup, sekeras apa pun ancaman kehidupan menghimpit kita, jangan pernah gadaikan iman dan prinsip kita. Jadilah pejuang kebenaran yang tangguh di bidangnya masing-masing.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Ya Allah, Yang Maha Menggenggam segala urusan. Karuniakanlah kepada kami keteguhan iman dan keberanian seperti yang Engkau karuniakan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Ya Allah, jika saat ini kami sedang menghadapi ‘jalan buntu’ dalam urusan rezeki, keluarga, atau pendidikan, belahlah kebuntuan kami dengan rahmat-Mu. Kuatkanlah hati kami untuk selalu menolak kebatilan, dan bimbinglah langkah kami menuju cahaya petunjuk-Mu.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tulisan yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button