Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin online yang semoga dimuliakan Allah Swt,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri fenomena kejatuhan yang menyakitkan. Ada seseorang yang dikhianati oleh rekan bisnis kepercayaannya hingga jatuh bangkrut. Ada anak muda yang menjadi korban bullying (perundungan), disingkirkan oleh teman-temannya sendiri hingga merasa masa depannya hancur. Atau mungkin, ada perselisihan hebat antar-saudara kandung hanya karena masalah warisan atau kecemburuan kasih sayang orang tua.
Ketika pengkhianatan dan musibah itu datang dari orang-orang terdekat, rasa sakitnya luar biasa. Seolah-olah kita dilemparkan ke dalam dasar sumur yang gelap, sendirian, kedinginan, dan kehilangan harapan. Namun, tahukah kita bahwa perasaan terbuang itu pernah dialami secara nyata oleh salah satu Nabi paling mulia?
Beliau adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Perjalanan hidup Nabi Yusuf as adalah salah satu rollercoaster emosi yang paling dramatis dalam Al-Qur’an. Bayangkan, di usia yang masih sangat belia, beliau dikhianati bukan oleh musuh, melainkan oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. Beliau dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita.
Tidak berhenti di situ, beliau dijual sebagai budak dengan harga murah. Ketika beliau tumbuh dewasa dan bekerja di istana, beliau difitnah oleh istri Al-Aziz dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara bertahun-tahun untuk sebuah kejahatan yang tidak pernah beliau lakukan. Dari sumur, ke perbudakan, lalu ke penjara. Jika diukur dengan logika manusia biasa, masa depan Nabi Yusuf as sudah hancur lebur.
Namun, bagaimana akhir dari kisah ini? Skenario Allah Swt bekerja dengan sangat indah. Dari balik jeruji besi, Allah Swt mengangkat derajat Nabi Yusuf hingga akhirnya beliau dipercaya menduduki kursi bendahara negara, setara dengan perdana menteri di Mesir. Beliau duduk di atas singgasana kekuasaan.
Puncak dari perjalanan emosional ini terjadi ketika saudara-saudara yang dulu membuangnya datang ke Mesir untuk meminta bantuan pangan, tanpa menyadari bahwa sang penguasa di hadapan mereka adalah Nabi Yusuf. Saat identitasnya terbongkar, Nabi Yusuf tidak marah, tidak memaki, dan tidak membalas dendam.
Nabi Yusuf mengucapkan kalimat bersejarah yang direkam oleh Allah SWT dalam QS. Yusuf [12] ayat 90:
قَالُوٓا۟ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِى ۖ قَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Qālū a’innaka la’anta yūsuf(u), qāla anā yūsufu wa hāżā akhī, qad mannallāhu ‘alainā, innahū may yattaqi wa yaṣbir fa innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn.
Yang artinya: “Mereka berkata, ‘Apakah engkau sungguh Yusuf?’ Dia (Yusuf) menjawab, ‘Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.'”
Hadirin online rahimakumullah,
Mari kita garis bawahi pesan utama dari ayat ini. Nabi Yusuf merangkum seluruh rahasia kebangkitannya dari dasar sumur menuju singgasana Mesir hanya dalam dua kata kunci: Taqwa (yattaqi) dan Sabar (yaṣbir).
Beliau bertakwa saat digoda oleh istri Al-Aziz, memilih penjara daripada bermaksiat kepada Allah Swt. Dan beliau bersabar atas segala penderitaan beruntun yang menimpanya. Lebih dari itu, kesabaran Nabi Yusuf membuahkan sifat pemaaf yang luar biasa. Beliau membuktikan bahwa balasan terbaik bagi orang yang menyakiti kita bukanlah dendam, melainkan pembuktian bahwa kita bisa sukses dan tetap berbuat baik kepada mereka.
Bagaimana kita mengaplikasikan mentalitas Nabi Yusuf ini dalam keseharian kita?
Bagi teman-teman muda; mungkin saat ini jalan kalian terasa berat. Mungkin ada yang meremehkan impian kalian, atau kalian sedang menghadapi kegagalan yang membuat kalian merasa berada di “sumur yang gelap”. Ingatlah resep Nabi Yusuf: Taqwa dan Sabar. Tetaplah berada di jalan yang benar, jangan gunakan cara curang dalam ujian atau kompetisi, dan bersabarlah dalam proses belajar. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan keringat dan air mata hamba-Nya yang berbuat baik.
Kisah ini adalah teguran keras bagi kita tentang hubungan persaudaraan (silaturahmi). Terkadang, hanya karena salah paham kecil atau urusan harta warisan, kakak beradik tidak saling sapa bertahun-tahun. Padahal, saudara-saudara Nabi Yusuf telah mencoba membunuhnya, membuangnya, dan memisahkannya dari ayahnya selama puluhan tahun! Namun, ketika memiliki kekuasaan penuh untuk membalas, Nabi Yusuf justru memaafkan mereka tanpa syarat.
Jika Nabi Yusuf bisa memaafkan kesalahan sebesar itu, mengapa kita sangat sulit memaafkan kesalahan kecil kerabat, tetangga, atau rekan kerja kita? Mari kita buang gengsi kita. Kemuliaan tidak terletak pada seberapa kuat kita membalas dendam, melainkan pada seberapa lapang dada kita memaafkan.
Oleh karena itu, jamaah online sekalian, apa pun masalah dan keterpurukan yang sedang menimpa kita hari ini, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah Swt. Jadikan ketaqwaan sebagai pakaian kita, kesabaran sebagai perisai kita, dan sifat pemaaf sebagai perhiasan hati kita.
Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kekuatan dari Allah SWT.
Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan keadaan. Karuniakanlah kepada kami keteguhan iman dan ketaqwaan seperti yang Engkau berikan kepada Nabi Yusuf. Jika saat ini kami sedang berada di ‘sumur’ kesedihan, kegagalan, atau kesulitan ekonomi, angkatlah derajat kami, ya Allah. Lembutkanlah hati kami agar mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan satukanlah kembali tali persaudaraan kami yang sempat terputus.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





