Artikel

Siapa Yang Paling Mulia Dalam Mengerjakan Ibadah?

Oleh : Nita Dwi Astuti (Peserta Sekolah Tabligh di Banjarnegara)

SIAPA YANG PALING MULIA DALAM MENGERJAKAN IBADAH?

Oleh : Nita Dwi Astuti (Peserta Sekolah Tabligh di Banajarnegara)

Al-Qur’an dan hadis merupakan dua hal yang menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Apabila manusia meninggalkan keduanya, dan mengutamakan kehidupan dunia, maka ia akan sengsara di dunia maupun di akhirat.

Seperti firman Allah SWT dalam QS. Thaha ayat 123-124 yang berbunyi

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 123-124)

Petunjuk Allah terdapat dalam kitab dan sunnah RasulNya. Segala bentuk ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah haruslah sesuai dengan ketentuan syariat. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR.Muslim no 1718)

Ibadah bukanlah penyiksaan terhadap diri sendiri, dan penyiksaan terhadap diri sendiri bukanlah ibadah. Kita harus mengerjakan ibadah sesuai syariat tanpa harus melebih-lebihkan suatu ibadah dan amalan. Rasulullah SAW adalah suri tauladan yang paling baik dalam masalah ibadah. Tidak ada satupun manusia yang beranggapan bahwa ibadahnya lebih sempurna dari Rasulullah SAW.

Ada satu hadis yang meceritakan tentang tiga orang datang ke rumah istri nabi untuk bertanya mengenai ibadah Rasulullah. Setelah beliau menjawab, mereka merasa bahwa ibadah mereka selama ini tidak ada apa-apanya.

Salah satu diantara mereka mengatakan:

Dimana posisi kita dibandingkan Rasulullah padahal dosa-dosanya telah mendapat ampunan dari Allah baik yang sudah berlalu maupun yang belum?”

Lalu yang lain pun ikut menjawab

”Mulai sekarang aku akan shalat Qiyamul Lail terus menerus tanpa tidur”

“Aku akan bepuasa terus menerus dan tidak akan berbuka”

”Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya”

 Setelah nabi mendengar semua itu, beliau pun bersabda:

رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُوَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

Dari kisah tersebut, kita dilarang untuk beribadah sepanjang malam tanpa tidur, puasa sepanjang hari tanpa berbuka, dan membujang tanpa menikah. Karena Rasul tidak melakukannya. Lakukan lah segala sesuatu dengan niat Ikhlas karena Allah Ta’ala dan ittiba kepada Rasulullah SAW. Kerjakan apa yang telah disyariatkan tanpa mengada-ngadakan suatu hal yang tidak dicontohkan.

Wallahu ta’ala a’lam bisshowab

  

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button