Senyum adalah Jaringnya Hati

Pernahkah anda melihat burung, ketika dia terperangkap dalam jaring pemburu? sehingga dia terperangkap jaring pemburu itu.
Demikian halnya hati, jaring atau jala hati adalah senyuman, ketika anda terjatuh dalam jaring itu maka akan menjadi tawanan dari si pemburu. Senyum adalah sarana yang mudah untuk menjaring hati orang lain. Anda tidak perlu melakukan apapun kecuali tersenyum dengan tenang dan ikhlas. Karakter manusia itu tertarik kepada orang yang menebar senyum kepada orang lain dengan ikhlas. Dia akan lari dari orang yang bermuka masam lagi cemberut. Ingatlah kata-kata mutiara bagaimana mungkin aku membenci seseorang yang tersenyum kepadaku. Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu berkata “wajah berseri adalah kehidupan yang penuh dengan cinta”.
Stewart bertutur, hal apa saja yang ingin anda dapatkan dengan intimidasi, sebenarnya akan mudah anda dapatkan dengan menggunakan senyuman. Muller berkata, ”Senyum adalah jalan terdekat menuju hati”. Shakespeare berujar, ”Tempuhlah jalan anda dengan senyuman, karena itu lebih baik daripada anda membunuh dengan pedang”. Seseorang yang senantiasa tersenyum memiliki pengaruh positif dan daya tarik khusus.
Senyum adalah harta yang tersembunyi di dalam diri, kita semua memilikinya, akan tetapi sebagian besar dari kita tidak mengetahui efektivitas dan pengaruhnya terhadap orang lain. Senyum adalah mata yang terbaik yang berlaku dikalangan manusia dalam rangka mendekatkan perbedaan pandangan serta melangsungkan interaksi secara duniawai. Lebih dari itu, senyum juga dianggap sebagai paspor saat berpergian saat berpergian menuju kehati orang lain. Prof. Muhammad Quthub berkata, ”Uang saja tidak cukup mempertautkan hati manusia, demikian pula dengan sistem ekonomi peraturan material lainya. Semua itu harus disempurnakan dan dibungkus dengan ruhani yang transparan dan bersandar pada ruh Allah, yakni cinta. Cintalah yang memunculkan senyum dari dalam lubuk hati. Lantas melapangkan dada dan melonggarkan berbagai pertikian sehingga seseorang dapat menjumpai wajah yang berseri-seri. DR. Aidh al Qarni mendiskripsikan senyum nabi Muhammad dengan tuturnya, beliau tersenyum seperti bulan purnama, dengan wajah yang lebih indah daripada matahari, dahi yang lebih elok daripada purnama, mulut yang lebih bersih daripada bunga daisy, akhlak yang lebih basah dari pada kebun, cinta yang lebih lembut daripada angin sepoi-sepoi, senang bercanda tetapi tidak berkata tentang sesuatu kecuali tentang kebenaran. Nabi pernah bercanda kepada nenek yang sudah tua renta. Wanita ini mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya memohon untuk didoakan supaya masuk surga. “Ya Rasulullah, kami mohon agar kau berkenan mendoakan kami supaya Allah memasukkan kami ke surga-Nya Alloh SWT.” Rasul kemudian menjawab, “Mbah, di surga itu tidak ada nenek-nenek tua renta seperti Anda ini.” Mendengar penjelasan Rasul, sang nenek kaget. Hatinya kalut. Ia lalu berpaling dari Nabi, kemudian berjalan pulang dengan isakan tangis penuh deraian air mata yang mengalir melewati kedua pipi keriputnya. Rasul melihat kejadian itu. Baru kemudian setelah berjalan beberapa langkah, Nabi kemudian bersabda kepada sahabat supaya menyampaikan kepada wanita yang dimaksud “Tolong sampaikan kepadanya. Dia tidak akan masuk surga sedang ia dalam keadaan masih tua renta. Sebab sebagaimana firman Allah
إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءٗ فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا
artinya Kami menciptakan bidadari secara langsung. Saya jadikan mereka perawan-perawan. (Qur’an Surat Al-Waqiah ayat 35-36)
Jawaban Nabi bahwa tidak ada orang tua renta di surga adalah untuk menyampaikan bahwa di dalam surga, setiap orang akan kembali muda dan sempurna. Sehingga candanya yang menyentuh ruh para sahabatnya itu lebih menyenangkan daripada tetesan air yang mengenai makhluk yang sangat kehausan, lebih lembut daripada tangan ibu yang penyayang saat mengusap kepala anak lelakinya yang terpercaya.dia mencandai mereka lalu membangkitkan ruhani mereka, melapangkan dada mereka, memunculkan rahasia wajah mereka.
Maka demi Allah mereka tidak mengginginkan harta yang berlimpah berupa emas atau perak dalam ucapan lemah-lembut dan terpercaya yang terpancar dari kata-katanya. Alloh Berfirman Qur’an surat Ali Imran ayat 159
فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
Allah lalu memberi tuntunan secara khusus dengan menyebutkan karuniaNya kepada Nabi Muhammad. Maka berkat rahmat yang besar dari Allah, engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka yang melakukan pelanggaran dalam Perang Uhud. Sekiranya engkau bersikap keras, buruk perangai, dan berhati kasar, tidak toleran dan tidak peka terhadap kondisi dan situasi orang lain, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah, hapuslah kesalahan-kesalahan mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, yakni urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah, maka bertawakallah kepada Allah, dan akuilah kelemahan dirimu di hadapan Allah setelah melakukan usaha secara maksimal. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. Jika kita menempatkan adab, adil, etika, dan cinta sebagai tangga moralitas manusia, maka akan terlihat bahwa kehidupan manusia dalam mengejar makna hidup yang hakiki sesungguhnya bermuara pada tingkatan cinta.
- Adab sebagai Pondasi Moralitas
Adab adalah tata krama, sikap, dan penghormatan. Ia menjadi pintu masuk seseorang untuk dipandang layak dalam pergaulan sosial dan spiritual. Tanpa adab, ilmu tak berfaedah, amal tak bercahaya. Adab mengajarkan bagaimana manusia menjaga dirinya dan orang lain dengan hormat dan penuh kelembutan.
- Adil sebagai Pilar Keseimbangan
Setelah beradab, manusia naik pada tingkatan adil. Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberi hak sesuai porsi, tidak berat sebelah, tidak zalim. Inilah tahap di mana manusia mulai menegakkan nilai-nilai universal agar kehidupan bersama terjaga dengan harmonis.
- Etika – Kesadaran Rasional dan Sosial
Etika lebih tinggi lagi. Ia bukan sekadar aturan luar, tetapi refleksi dari kesadaran batin. Etika membuat manusia mampu menimbang baik-buruk, pantas-tidak pantas, bukan hanya karena aturan, tapi karena nuraninya sudah terasah. Etika menjadi jembatan antara hukum lahir dan nilai batin.
- Cinta – Puncak Moralitas
Etika lebih tinggi lagi. Ia bukan sekadar aturan luar, tetapi refleksi dari kesadaran batin. Etika membuat manusia mampu menimbang baik-buruk, pantas-tidak pantas, bukan hanya karena aturan, tapi karena nuraninya sudah terasah. Etika menjadi jembatan antara hukum lahir dan nilai batin.
- Cinta – Puncak Moralitas
Pada akhirnya, manusia sampai pada tingkatan cinta. Inilah derajat tertinggi moralitas. Cinta membuat semua amal tidak kering dari ruh. Cinta melampaui adab, adil, dan etika, karena ia adalah energi Ilahi yang menggerakkan semuanya.
Jika posisi manusia dalam mengejar arti hidup yang hakiki adalah pada tingkatan cinta, maka di sanalah manusia menemukan dirinya yang sejati, menjadi hamba Allah yang penuh kasih, mencintai sesama ciptaan dan memandang hidup bukan sekadar kewajiban melainkan ibadah yang diliputi rasa cinta.
Senyum dapat menghilangkan dosa karena:
- Senyum sebagai bentuk kebaikan, senyum dapat dianggap sebagai bentuk kebaikan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil.
- Senyum sebagai ekspresi kasih sayang, senyum dapat menunjukkan kasih sayang dan empati kepada orang lain, yang dapat membantu menghapus dosa-dosa.
- Senyum sebagai refleksi hati yang baik, senyum dapat mencerminkan hati yang baik dan niat yang positif, yang dapat membantu menghapus dosa-dosa.
Dalam Islam, senyum dianggap sebagai salah satu bentuk sedekah yang dapat membantu menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW bersabda
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)
Waalalhu alam bisawab
Oleh : Ely Sukasih , MA (Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM jawa tengah di Banjarnegara 2025)




