Artikel

Refleksikan Diri Sucikan Hati Jalin Silaturahmi Untuk Saling Berbagi

📅 Sabtu, 07 Maret 2026 | 18 Ramadan 1447 H

Oleh : Ely Sukasih, MA (Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara 2025)

Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh. Segala puji hanya milik Allahhu Rabbi. Segala Zat yang Maha Ghafur, Zat yang Maha Syukur yang telah memberikan beribu-ribu nikmat yang tidak terukur. Nikmat iman, nikmat Islam, sampai nikmat sehat walafiat sehingga kita bisa berkumpul di tempat yang Insyaallah diberkahi Allah Swt. Seandainya lautan yang ada di muka bumi ini, Allah jadikan sebagai tinta.  Lalu pepohonan-pepohonan Allah jadikan pena, dan dedaunan Allah jadikan kertas. Niscaya ia tidak akan cukup untuk menuliskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Solawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhirul zaman, seorang Nabi yang lahirnya saja membuat goncang alam semesta, membuat heboh para malaikat Allah Swt. yang kalau bukan karenanya tidak akan Allah ciptakan alam semesta ini.Siapakah dia, tidak lain dan tidak bukan yaitu Nabi Muhammad saw. Semoga keluarganya, sahabatnya, dan kita selaku umatnya yang mengikuti sunah-sunahnya semoga mendapatkan syafaatnya.”

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ۝١٣٣

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa

Setelah diperintahkan taat kepada Allah dan Nabi Muhammad, umat Islam diperintahkan juga untuk berlomba meningkatkan kualitas ketakwaan. Dan bersegeralah kamu dengan saling mendahului untuk mencari ampunan dari Tuhanmu dengan menyadari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengerjakan amalan-amalan yang diridai Allah untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Mereka adalah orang yang terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan, dan orang-orang yang menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan akan sangat terpuji orang yang mampu berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat salah atau jahat kepadanya, karena Allah mencintai, melimpahkan rahmat-Nya tiada henti kepada orang yang berbuat kebaikan.

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ

اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ

”Orang yang dermawan (al-sakhi) itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang pelit (al-bakhil) itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah ketimbang ahli ibadah yang pelit.” (HR Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Orang yang dermawan jelas akan mendapat banyak keuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Keuntungan di dunia, misalnya, ia akan dekat dengan masyarakat. Hubungan dengan masyarakat akan cair tanpa ada sekat apapun. Di sisi lain, masyarakat juga akan terbantu oleh sikap kedermawanannya.

Orang yang gemar mendermakan hartanya untuk kepentingan masyarakat, juga tidak akan mengalami defisit kekayaan secuilpun. Tak ada sejarahnya, gara-gara gemar berderma, lantas seseorang menjadi miskin, hartanya ludes atau kesulitan makan. Ini sesuai janji Allah SWT:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

”Dan apa saja yang engkau infakkan, maka Allah akan mengganti. Dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi Rezeki.” (QS Saba’: 39).

Dan Allah SWT adalah Dzat yang tak pernah mengingkari janji-Nya. Selain itu, orang yang gemar mendermakan hartanya, juga akan dekat dengan Allah SWT yang berarti dekat dengan surga-Nya dan jauh dari neraka-Nya.

Itulah keuntungan para penderma di akhirat kelak. Karenanya, Rasulullah SAW selalu berwasiat bahwa tangan di atas lebih utama ketimbang tangan di bawah. Dengan ujaran lain, penderma lebih utama ketimbang peminta.

Dalam hadis riwayat Imam Al-Tirmidzi, Rasulullah SAW juga berpesan, umatnya tidak dibenarkan iri kecuali pada dua orang. Salah satunya iri kepada seorang yang diberi harta oleh Allah SWT, maka dengan hartanya ia berderma untuk kepentingan masyarakat, baik pada tengah malam maupun siang hari.

Dan sikap seperti ini banyak ditemukan pada diri para sahabat yang agung, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, maupun Ali bin Abi Thalib. Itulah keuntungan materi dan utamanya nonmateri yang akan diraih para penderma.

Sebaliknya, orang yang pelit justru akan jauh dari Allah SWT, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan malah dekat dengan neraka. Artinya, hanya kerugianlah yang akan didapat orang yang pelit, baik di dunia terlebih kerugian di akhirat nanti.

Ibadah ritual yang bersifat vertikal, kemanfaatannya hanya dirasakan pelakunya. Sedangkan berderma yang bersifat horizontal, kemanfaatannya akan dirasakan pelakunya dan juga masyarakat banyak.

Kaidah fikih menyatakan amal perbuatan yang manfaatnya dirasakan orang banyak lebih utama ketimbang amal perbuatan yang hanya dirasakan pelakunya. Itulah sisi kerahmatan dan kepedulian Islam terhadap nasib sesama.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian saya beritahu siapa orang yang tidak mungkin masuk neraka?” “Siapa ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Neraka itu diharamkan pada orang yang mempunyai 4 sifat, yaitu: hayyin, layyin, qoribin, dan sahlun.”
Lantas, siapa saja golongan manusia yang diharamkan masuk neraka? Berikut penjelasannya.
Golongan yang Diharamkan Masuk Neraka
Empat golongan yang diharamkan masuk neraka adalah orang yang memiliki sifat hayyin, layyin, qoribin, dan sahlun. Dirangkum dari buku Anugerah Bumi karya Ramlan Hidayat dkk dan buku Jangan Pernah Bosan Berdoa karya Risyad Bay, penjelasan dari empat sifat tersebut yaitu:

1. Sifat Hayyin
Sifat hayyin yaitu tenang, tidak mudah panik, dan santai. Hayyin adalah orang yang jika menghadapi masalah tidak mudah emosi. Ia akan tabayyun atau berusaha mencari kejelasan dari sesuatu yang tidak jelas terlebih dahulu.
Ia juga tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan atau menghakimi dan tidak mudah terprovokasi. Sebab, ia memiliki ketenangan lahir dan batin.
Kehadiran orang yang memiliki sifat hayyin ini sangat menenangkan, meneduhkan, dan tidak temperamental. Ia mampu mengontrol pikiran, mengendalikan perasaan, hati, dan sifatnya.

2. Sifat Layyin
Sifat layyin yaitu bersikap lemah lembut, sopan, dan santun. Contoh dari kepemilikan sifat layyin yaitu Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memiliki sifat lemah lembut, bahkan kepada musuh.
Hati Rasulullah SAW sangat penuh dengan rasa sayang kepada umatnya. Orang yang memiliki rasa kasih sayang akan melahirkan kelemahlembutan dan akan melahirkan sikap sopan santun.
“Sesungguhnya api itu hanya bisa dipadamkan dengan air, sesungguhnya kemarahan hanya bisa dipadamkan dengan kelembutan.”
Orang yang memiliki sifat layyin akan menjaga sifatnya. Perkataan dan sikapnya tidak melukai, tidak memojokkan, serta tidak mempermalukan.

3. Sifat Qoribin
Sifat qoribin yaitu mudah dekat dan akrab dengan orang lain, hangat, supel, dan menyenangkan. Orang yang memiliki sifat qoribin tidak memiliki sikap yang membuat orang lain tidak nyaman, terluka, atau tersakiti.
Sifat qoribin ini terlahir dari perilaku tawadhu atau rendah hati. Orang yang tawadhu akan nyaman dengan dirinya, sehingga orang lain pun juga akan merasa nyaman bersamanya.
Hal ini berbeda dengan orang yang tinggi hati, merasa lebih hebat, lebih pintar, atau lebih penting. Mereka yang merasa dirinya tinggi dan melihat orang lain lebih rendah tidak akan nyaman dengan dirinya sendiri. Sebab, mereka selalu menuntut orang lain untuk menghargai, menghormati, serta memperlakukan dirinya secara khusus.
Contoh kepemilikan sifat qoribin juga berasal dari Rasulullah SAW. Keakraban yang dimiliki Rasulullah SAW membuat dirinya sangat dekat dengan musuh.

4. Sifat Sahlun
Sifat sahlun yaitu santai, tidak bertele-tele, tidak mudah dendam ke orang lain, mudah, serta tidak ribet. Orang yang memiliki sifat sahlun ini memperlakukan segala sesuatu secara proporsional.
Sehingga, masalah yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan tidak menduduki pikirannya. Ia akan lebih fokus ke ibadahnya dan tidak memikirkan kendala yang lain.

Namun, bukan berarti memudahkan suatu masalah dan bukan berarti menganggap remeh permasalahan yang penting. Sesuai dengan situasi dan kondisi beserta porsinya, dan yang selalu ada dalam pikirannya adalah solusi.Walahu A’lam. Wassalamu alikum wr.wb.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button