Artikel

Pola Simetris Al-Qur’an

Kajian Keindahan Sistem Penulisan Mushaf

Halaman 2 — Tevafuk: Kata Allah dan Rabb yang Tersusun Vertikal

Bagian paling menarik dari naskah awal adalah pembahasan tentang tevafuk. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kesesuaian atau pertemuan posisi kata-kata tertentu dalam mushaf. Said Nursi menaruh perhatian pada kata-kata seperti Allah dan Rabb yang, dalam mushaf tertentu, tampak berada tepat di bawah satu sama lain, saling berhadapan pada dua halaman, atau berada pada posisi yang berimpit antara bagian depan dan belakang lembar.

Naskah sumber memberikan beberapa contoh visual. Pada halaman 48 mushaf yang dibahas, kata Rabb disebut tampak tersusun berulang ke bawah. Pada halaman 62 dan 63, kata Allah disebut muncul dalam pola vertikal pada dua halaman yang saling berhadapan. Contoh lain terdapat pada halaman 82–83, ketika beberapa kemunculan kata Allah terlihat saling berhadapan. Pada halaman 259, kata Rabb kembali tampak berjajar dalam satu garis vertikal.

Contoh yang paling kuat secara visual dalam sumber berada pada halaman 422. Di halaman itu, nama Allah disebut muncul sangat banyak dan sebagian kemunculannya berada dalam susunan yang mudah terlihat. Menariknya, pada bagian yang sama terdapat perintah untuk banyak mengingat Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” QS. Al-Ahzab [33]: 41.

Dalam narasi sumber, pertemuan antara isi ayat—perintah memperbanyak zikir—dan banyaknya kemunculan lafaz Allah pada halaman tersebut dipandang sebagai contoh yang sangat mengesankan. Namun cara paling aman membacanya adalah dengan menyebutnya sebagai fenomena tata letak pada mushaf tertentu. Untuk menyimpulkan lebih jauh, posisi kata perlu diperiksa langsung pada edisi yang dimaksud.

2. Nama Para Nabi Juga Membentuk Deretan

Pola serupa tidak hanya dikaitkan dengan lafaz Allah dan Rabb. Naskah awal menunjukkan deretan nama para nabi: Sulaiman dan Daud pada satu halaman, Musa, Harun, dan Ishaq pada halaman lain, serta Ibrahim dan Yusuf pada halaman berbeda. Yang ditonjolkan bukan sekadar pengulangan nama, melainkan posisi pengulangannya yang tampak berada pada garis vertikal yang sama.

Contoh Nabi Yusuf menjadi lebih menarik karena sumber menghubungkannya dengan kata jamīl (“indah”) yang berada pada posisi tertentu di balik halaman. Terlepas dari penafsiran terhadap kebetulan visual tersebut, contoh ini memperlihatkan apa yang dimaksud oleh tema artikel: membaca mushaf juga dapat melibatkan pengamatan terhadap ruang, baris, dan posisi tulisan, bukan hanya membacanya secara linear dari kanan ke kiri.

Catatan metodologis: pola-pola halaman semacam ini tidak boleh langsung dianggap universal. Kajian tentang tevafuk sendiri membahasnya dalam konteks mushaf tertentu yang ditulis dan ditata dengan pola khusus.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button