
Lailatul qadar lebih bagus dari 1000 bulan (QS al-Qadar/97: 3). Maknanya sulit diketahui karena memang merupakan ayat mutasyabihat. Itulah sebabnya tafsir tentang ayat ini berbeda- antara ulama yang satu dengan lainnya. Secara global dapat dinyatakan bahwa kebaikan lailatul qadar tidak bisa diukur oleh manusia. Maka, jika seseorang memperoleh lailatul qadar, berarti ia memperoleh kebaikan yang tidak terukur.
Karena begitu bagusnya, maka setiap kaum muslimin yang berilmu dan taat tentu mendambakan lailatul qadar. Kapan lailatul qadar terjadi? Rahasia Allah. Itulah yang pasti. Anjura unntuk menjemput lailatul qadar sangat bervarian tentang kapannya:
- Yang penting di malam bulan Ramadhan: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (Barangsiapa melakukan qiyamullail, tidak ada selingan tidur, pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah berlalu – HR Nasaai: 2192).
- Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (Rasulullah saw berti’tikaf pada 10 hari malam terakhir bulan ramadhan(HR Bukhari 1880).
- Tujuh hari yang terakhir, berarti mulai tanggal 23 Ramadhan
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ (Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir – HR Malik: 613, Abu Dawud: 1177).
- Malam tanggal 27 Ramadhan: قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ (Beliau bersabda: Lailatul qadr adalah malam ke duapuluh tujuh (HR Bukhari: 1882, 4110, 6476).
- Malam ke 7, 9, atau 5: الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ (Intailah (lailatul qodar) itu pada hari yang ketujuh, enam dan Lima (HR. Bukhari, 47, 1883, 5589).
- Malam tanggal 22 atau 23:
يَسْأَلُونَكَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ كَمْ اللَّيْلَةُ فَقُلْتُ اثْنَتَانِ وَعِشْرُونَ قَالَ هِيَ اللَّيْلَةُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ أَوْ الْقَابِلَةُ يُرِيدُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ (Beliau bertanya; “Tanggal berapakah malam ini? jawabku’ Malam ke dua puluh dua. Beliau bersabda: Pada malam inilah lailatul qadr terjadi. Kemudian beliau kembali dan bersabda, atau malam berikutnya. Yang beliau maksud adalah malam ke dua puluh tiga (HR Abu Dawud: 1171).
- Malam ganjil 10 hari terakhir
قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ وِتْرٍ وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَسَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَتِسْعٍ وَعِشْرِينَ وَآخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda raihlah lailatul qadar pada malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan dua puluh sembilan serta malam terakhir bulan Ramadlan (HR Turmuzi: 722, Bukhari: 1878, 1895).
Karena Rasulullah tidak tahu kepastian kapan lailatul qadar turun, maka beliau sendiri juga berusaha sebulan penuh, meskipun biasa tertidur, memperoleh lailatul qadar dalam bentuk mimpi, kemudian lupa seperti apa diperlihatkannya (HR: Darimi: 1716, 1717).
- Tidak tidur malam selama sebulan penuh. Itulah yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Secara logika pasti memperoleh lailatul qadar.
- Ada yang i’tikaf 10 hari terakhir
- Ada yang hanya tanggal 22 dan atau 23
- Ada yang tanggal 25, 27, 29, malam terakhir
- Ada yang hanya tanggal 27
- Ada yang tanggal 5, 7, 9
Varian-varian mencadong lailatul qadar ditentukan oleh banyak faktor, antara lain kemauan kuat, kesehatan, dan kekuatan fisik. Betapapun terbatas kekuatan seseorang, berusaha memperoleh lailatul qadar merupakan tindakan bijak dalam melengkapi amalan puasa. Jangan sampai masa bodoh dengan lailatul qadar. Nabi cukup tegas terhadap orang yang cuek terhadap lailatul qadar:
لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan kebaikan apapun- HR Nasai: 2108, Ahmad: 7148).
Panduan menjemput lalilatul qadar hanyalah i’tikaf (berdiam diri di masjid) sambil berdoa sebanyak-banyaknya: قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (Beliau mengatakan, Ucapkan; Allâhumma innaka ‘afuwwun karîm tuḩibbul ‘afwa fa’fu ‘annî (HR Turmuzi: 3435), atau اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (Allâhumma innaka ‘afuwwun tuḩibbul ‘afwa fa’fu ‘annî – HR Ibnu Majah: 2840). Tentu, ibadah lain seperti tadarrus al-Qur’an, diskusi keagamaan, dan ta’lim juga sangat utama.




