
DI Indonesia kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama, suku, budaya, dan pandangan. Kita bertetangga, bekerja, bersekolah, bahkan saling menolong ketika menghadapi kesulitan. Dalam kehidupan seperti ini, seorang Muslim perlu menjawab dua pertanyaan penting: bagaimana menjaga keteguhan iman dan bagaimana tetap berlaku baik kepada semua orang? Al-Qur’an memberikan arah yang jelas melalui Surah Ali ‘Imran ayat 28.
لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28; terjemahan sesuai naskah sumber).
Menjaga Iman dan Kesetiaan Tanpa Memusuhi Sesama

Kata awliyā’ dalam ayat ini adalah bentuk jamak dari walī. Maknanya dapat mencakup pelindung, penolong, sekutu, atau pihak yang menerima kedekatan dan kesetiaan khusus. Karena itu, maknanya tidak cukup disederhanakan menjadi setiap bentuk pertemanan. Ungkapan min dūni al-mu’minīn menegaskan persoalan loyalitas yang mengesampingkan kaum beriman. Al-Ṭabarī menjelaskan larangan menjadikan pihak yang menentang umat sebagai penopang untuk membantu mereka melawan kaum Muslim.
Pesannya bukan agar kita mencurigai setiap tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja yang berlainan agama. Pesannya ialah agar kesetiaan kepada Allah dan prinsip keimanan tidak ditukar demi kedudukan, keuntungan, ataupun penerimaan sosial. Persaudaraan seiman pun jangan ditelantarkan ketika ada saudara yang membutuhkan pertolongan, nasihat, atau pembelaan terhadap ketidakadilan.
Menjaga iman bukan berarti menutup pintu kebaikan. Seorang Muslim dapat teguh dalam keyakinan sekaligus santun, jujur, dan adil kepada siapa pun.
Berbeda Keyakinan, Tetap Berbuat Baik dan Adil

Kita tidak boleh membaca satu ayat seolah terpisah dari ayat-ayat lain. Dalam QS. al-Mumtaḥanah 60:8–9, Allah membedakan orang yang tidak memerangi kaum Muslim dari pihak yang memerangi dan mengusir mereka. Terhadap kelompok pertama, Allah tidak melarang berbuat baik dan berlaku adil. Dengan demikian, menjalin hubungan sosial, menepati janji, membantu tetangga yang kesulitan, serta bekerja sama dalam urusan kemanusiaan tidak otomatis berarti menyerahkan kesetiaan akidah.
Sebaliknya, ukhuwah Islamiyah menuntut tanggung jawab nyata. QS. at-Taubah 9:71 menggambarkan orang-orang beriman sebagai penolong satu sama lain dalam mengajak kepada kebaikan. Persaudaraan bukan sekadar slogan: kita perlu hadir saat saudara sakit, bersikap jujur dalam usaha, menjaga amanah, dan tidak diam ketika seseorang diperlakukan zalim.
Ayat ini juga memberikan pengecualian ketika seseorang benar-benar menghadapi ancaman dan perlu menjaga keselamatannya (tuqāh). Para mufasir, termasuk al-Qurṭubī, membahasnya dalam kerangka keterpaksaan dan rasa takut yang serius, bukan sebagai izin untuk berdusta atau mempermainkan hubungan sosial demi keuntungan pribadi.
Allah Mengetahui Niat Kita: Pelajaran dari Kata Nafsahu
Pada penutup ayat terdapat ungkapan wa yuḥadzdzirukumullāhu nafsah, yang dalam terjemahan di atas dinyatakan sebagai peringatan Allah terhadap diri (siksa)-Nya. Kata nafsahu tidak semestinya langsung dibayangkan sebagai bentuk jasmani. Dalam konteks ini, al-Ṭabarī dan Ibn Kaṡīr menekankan peringatan terhadap hukuman Allah; al-Qurṭubī juga mencatat pembahasan ungkapan tersebut dalam bahasa Arab. Perbedaan pendekatan ulama terhadap redaksi sifat Allah perlu dihormati, dengan tetap mengingat QS. asy-Syūrā 42:11: tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Peringatan yang serupa muncul lagi pada QS. Ali ‘Imran 3:30, ketika amal setiap manusia dihadapkan kepadanya. Pesannya sangat dekat dengan kehidupan kita: Allah mengetahui bukan hanya pilihan yang terlihat, tetapi juga niat di balik persahabatan, kerja sama, dan keputusan kita. Jangan mengorbankan kebenaran karena takut kehilangan teman; jangan pula menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk berlaku kasar.
Amalkan Mulai Hari Ini
Di rumah, lingkungan kerja, maupun media sosial, mulailah dari hal sederhana:
- dekatkan diri kepada teman yang mengingatkan pada salat dan kejujuran;
- bantu saudara seiman tanpa membenarkan kesalahannya;
- hormati tetangga dan rekan berbeda agama;
- pilih teladan digital berdasarkan akhlak dan manfaatnya, bukan popularitas; serta
- tolak ajakan berbuat zalim, siapa pun yang mengajak.
Ukuran kematangan iman bukan seberapa keras kita membedakan diri dari orang lain, melainkan seberapa setia kita kepada Allah dan seberapa baik akhlak kita ketika hidup bersama mereka.
Pada akhirnya, QS. Ali ‘Imran 3:28 mengajak kita membangun hati yang teguh, persaudaraan yang peduli, dan pergaulan yang berkeadilan. Kita boleh hidup di tengah keberagaman tanpa kehilangan arah. Sebab, sebagaimana penutup ayat itu mengingatkan, kepada Allah-lah tempat kembali. Semoga pilihan dan hubungan kita sehari-hari kelak menjadi bagian dari amal yang diridai-Nya.
Sumber Rujukan
- Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran 3:28 dan 3:30; QS. al-Mumtaḥanah 60:8–9; QS. at-Taubah 9:71; QS. asy-Syūrā 42:11.
- Al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān, tafsir QS. Ali ‘Imran 3:28. Baca sumber.
- Al-Qurṭubī, al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Ali ‘Imran 3:28. Baca sumber.
- Ibn Kaṡīr, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir QS. Ali ‘Imran 3:28 dan 3:30. Baca sumber.




