ArtikelBerita

Ilmu Falak sebagai Jembatan Tradisi dan Kemajuan Peradaban

ALICIA 2026 di UIN Walisongo Semarang Mempertemukan Warisan Intelektual Islam, Sains Modern, dan Kecerdasan Buatan dalam Pengamalan Syariat

Rabu Wage, 14 Oktober 2026 3 Jumadilawal 1448 H

Perkembangan ilmu pengetahuan Islam memperlihatkan bahwa warisan intelektual masa lalu tidak harus berhadapan dengan kemajuan teknologi modern. Keduanya justru dapat saling melengkapi dalam upaya memahami ayat-ayat kauniyah dan menghadirkan kemudahan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat.

Semangat tersebut tercermin dalam Annual International Conference on Islamic Astronomy (ALICIA) 2026, yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada 14 Oktober 2026, dengan keterlibatan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo serta ACIS Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Dari 45 judul makalah terlihat keluasan kajian astronomi Islam: mulai dari pemikiran ulama klasik, manuskrip astronomi Melayu, metodologi fikih, penentuan arah kiblat, observasi hilal, kalender Hijriah, hingga pengembangan perangkat lunak berbasis algoritma astronomi dan kecerdasan buatan.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa ilmu falak bukan sekadar kegiatan menghitung posisi Matahari dan Bulan. Ilmu ini memiliki hubungan langsung dengan praktik ibadah, kepastian waktu, ketertiban sosial, serta perkembangan peradaban Islam.

Menghidupkan Kitab Turats dalam Perspektif Sains Kontemporer

Salah satu kekuatan intelektual yang tercermin dalam tema-tema ALICIA 2026 ialah perhatian terhadap kitab turats atau khazanah keilmuan klasik Islam.

Kajian mengenai pemikiran astronomi Al-Biruni, manuskrip astronomi Melayu MSS 812, konsep al-ḍaḥwah al-kubrā, serta pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah, uṣūl al-fiqh, dan qawā‘id fiqhiyyah memperlihatkan bahwa pemikiran ulama terdahulu tetap memiliki relevansi dalam menghadapi persoalan astronomi masa kini.

Warisan tersebut tidak cukup hanya dibaca sebagai dokumen sejarah. Konsep-konsep astronomi klasik perlu dipahami konteksnya, diuji secara matematis, dibandingkan dengan pengamatan, dan dikaji kesesuaiannya dengan perkembangan pengetahuan.

Pendekatan demikian memungkinkan berlangsungnya dialog antara otoritas keilmuan tradisional dan metode ilmiah modern. Kitab turats tetap dihormati sebagai sumber pengetahuan, sementara perhitungan dan pengamatan kontemporer dipergunakan untuk menguji serta mengembangkan penerapannya.

Dengan demikian, digitalisasi ilmu falak bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperluas manfaat tradisi melalui instrumen penelitian yang lebih maju.

Dari Pengamatan Langit hingga Instrumentasi Astronomi Modern

Berbagai judul makalah juga menunjukkan perkembangan metode pengamatan astronomi yang semakin beragam.

Metode tradisional penentuan kiblat masyarakat Melayu, penggunaan bayangan Matahari, dan pengamatan hilal dengan mata manusia kini berdampingan dengan fotogrametri digital, pengolahan citra, sensor optik, serta perangkat berbasis Arduino.

Kajian mengenai atmosfer, refraksi, kecerlangan langit, kontras hilal, dan pemrosesan sinyal menunjukkan pentingnya memahami bahwa keberhasilan pengamatan astronomi tidak hanya ditentukan oleh perhitungan geometris.

Kondisi atmosfer, kualitas instrumen, kemampuan pengamat, serta karakteristik citra digital turut memengaruhi hasil observasi.

Penggunaan teknologi pengolahan gambar dan kecerdasan buatan menawarkan peluang untuk meningkatkan kualitas dokumentasi dan analisis pengamatan hilal. Namun, teknologi juga menghadirkan persoalan ilmiah yang harus diperhatikan, khususnya kemungkinan kesalahan deteksi, gangguan sinyal, atau penafsiran citra yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Karena itu, kemajuan instrumentasi perlu disertai standar pengujian, validasi independen, dan keterbukaan metodologi agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan.

Kecerdasan Buatan dan Fikih: Menjaga Otoritas Ilmu dan Syariat

ALICIA 2026 juga menampilkan kajian mengenai hubungan antara kecerdasan buatan dan hukum Islam, terutama berkaitan dengan kesaksian rukyatulhilal serta keabsahan informasi astronomi yang dihasilkan mesin.

Tema-tema mengenai AI-assisted rukyatulhilal, machine vision, status pembuktian citra digital, dan integrasi metodologi fikih klasik memperlihatkan bahwa inovasi teknologi perlu berjalan bersama pertimbangan epistemologis dan normatif.

Kecerdasan buatan dapat membantu mendeteksi objek, menganalisis citra, mengolah data, serta mempercepat pencarian informasi. Akan tetapi, hasil algoritma tidak dengan sendirinya memiliki kedudukan yang sama dengan kesaksian manusia atau keputusan hukum yang sah.

Pertanyaan mengenai siapa yang berwenang menetapkan awal bulan Hijriah, bagaimana hasil observasi diverifikasi, dan sejauh mana bukti digital dapat diterima merupakan persoalan penting yang membutuhkan dialog antara ahli astronomi, ulama fikih, pengembang teknologi, dan lembaga keagamaan.

Di sinilah tampak pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab keagamaan.

Aplikasi Digital: Membawa Ilmu Falak ke Kehidupan Masyarakat

Dimensi aplikatif semakin jelas melalui berbagai makalah tentang pengembangan perangkat lunak astronomi Islam.

Judul-judul mengenai ASTRODIGILAB, pemanfaatan Skyfield dan ephemeris JPL DE440, visualisasi Stellarium, pustaka JavaScript/TypeScript Jauza, pemetaan langit tiga dimensi, hingga bot WhatsApp berbantuan AI menggambarkan arah transformasi ilmu falak menuju layanan digital yang semakin mudah diakses.

Salah satu makalah (Kasmui) yang mengangkat pendekatan tersebut berjudul “Integrating Unified Hijri Calendar Criteria into Automated Celestial-Mechanics Algorithms: Development of KHGT Times Software.”

Makalah ini menempatkan pengembangan KHGT Times dalam konteks integrasi kriteria kalender Hijriah dengan algoritma mekanika benda langit secara otomatis.

Pengembangan aplikasi semacam ini memiliki potensi untuk membantu perhitungan kalender, analisis posisi Matahari dan Bulan, penentuan arah kiblat, serta penyajian informasi astronomi kepada masyarakat secara lebih sistematis.

Meskipun demikian, perangkat lunak ilmiah harus tetap mengutamakan ketepatan algoritma, kejelasan parameter, keterlacakan sumber data, dan pengujian hasil. Kemudahan penggunaan tidak boleh menggantikan ketelitian ilmiah.

Menjadikan Sains sebagai Sarana Pelaksanaan Syariat

Beragam tema ALICIA 2026 akhirnya bertemu pada satu tujuan besar, yaitu menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam.

Ketepatan arah kiblat berhubungan dengan pelaksanaan salat. Penentuan waktu ibadah membutuhkan pemahaman tentang gerak semu Matahari. Perhitungan awal bulan Hijriah berkaitan dengan Ramadan, Syawal, Zulhijah, serta penyelenggaraan ibadah dan kegiatan sosial keagamaan.

Sementara itu, perbedaan metode hisab, rukyat, dan kriteria kalender mengingatkan bahwa persoalan astronomi Islam tidak selalu berhenti pada hasil numerik. Terdapat pula dimensi fikih, otoritas kelembagaan, penerimaan masyarakat, dan kebutuhan akan kepastian bersama.

Oleh karena itu, pengembangan teknologi perlu diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan aplikasi yang semakin canggih, melainkan juga membangun literasi astronomi, keterbukaan ilmiah, serta pemahaman keagamaan yang bertanggung jawab.

Penutup: Merawat Tradisi, Mengembangkan Inovasi, Mewujudkan Kemaslahatan

Keberagaman 45 judul makalah ALICIA 2026 menggambarkan luasnya peluang pengembangan astronomi Islam melalui perjumpaan kitab turats, penelitian observasional, pemikiran fikih, komputasi ilmiah, dan teknologi digital.

Sebagai forum akademik, ALICIA 2026 memperlihatkan semangat untuk menjadikan ilmu falak sebagai disiplin yang terus berkembang, tanpa tercerabut dari akar keilmuan Islam.

Kitab turats memberikan fondasi intelektual, sains menyediakan metode pengujian, teknologi digital memperluas akses pengetahuan, dan nilai-nilai syariat memberikan orientasi kemaslahatan.

Perpaduan keempatnya merupakan salah satu jalan untuk membangun peradaban Islam yang menghargai tradisi sekaligus terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Dengan semangat tersebut, ilmu falak diharapkan semakin hadir bukan hanya di ruang penelitian dan seminar akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Islam sebagai sarana beribadah secara tepat, berilmu secara mendalam, dan beragama secara bertanggung jawab.

Sumber Rujukan

  • Daftar judul makalah dan pemakalah Annual International Conference on Islamic Astronomy (ALICIA) 2026, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang dan ACIS UiTM Malaysia, empat halaman.
  • Surat undangan presentasi ALICIA 2026, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Nomor B-8731/Un.10.0/D/PP.00.9/10/2026, 8 Oktober 2026.

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/. --- HP: 0818294312, Email: kasmui@mail.unnes.ac.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button