ArtikelDinamika PesyarikatanDinamika TablighOrganisasiWacana Pemikiran Islam

Muhammadiyah dan Garis Batas Salafi

Islam Berkemajuan sebagai Orientasi Dakwah Muhammadiyah

Muhammadiyah dan Salafi sama-sama menaruh perhatian besar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta memiliki semangat untuk mengajak umat kembali kepada ajaran Islam. Karena itu, dalam praktiknya sering ditemukan titik temu di antara keduanya. Namun, memiliki semangat yang sama tidak berarti keduanya identik. Ada garis batas tertentu yang penting dipahami agar umat tidak mudah menyamakan Muhammadiyah dengan Salafi.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya membawa semangat tajdid, yaitu pemurnian dan pembaruan. Pemurnian diarahkan pada akidah dan ibadah dari berbagai praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat, sedangkan pembaruan diarahkan pada kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemasyarakatan.

Semangat tersebut membuat Muhammadiyah tidak berhenti pada persoalan “mana yang sunnah dan mana yang bid’ah”, tetapi juga bertanya: bagaimana nilai-nilai Islam dapat menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia?

Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Salah satu titik temu Muhammadiyah dengan Salafi adalah perhatian terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam.

Namun, dalam memahami dalil, Muhammadiyah memiliki tradisi keilmuan dan metodologi sendiri yang dikembangkan melalui Manhaj Tarjih. Persoalan keagamaan tidak semata-mata diselesaikan dengan mengutip satu hadis atau pendapat ulama tertentu, tetapi melalui kajian terhadap keseluruhan dalil, pemahaman terhadap maqashid syariah, kemaslahatan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta pertimbangan konteks kehidupan.

Di sinilah salah satu garis batas pentingnya: Muhammadiyah tidak membangun identitasnya sebagai gerakan yang mengikuti satu corak kelompok tertentu, melainkan sebagai gerakan Islam yang mengembangkan manhaj tarjih dan tajdid.

Muhammadiyah Bukan Sekadar Gerakan Anti-Bid’ah

Sering kali Muhammadiyah dipahami hanya dari isu-isu seperti tahlilan, qunut, ziarah kubur, atau berbagai persoalan khilafiyah lainnya. Padahal, Muhammadiyah jauh lebih luas daripada perdebatan tersebut.

Muhammadiyah mendirikan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga sosial, dan berbagai amal usaha sebagai bentuk nyata dakwah Islam.

Dengan demikian, tajdid Muhammadiyah tidak hanya berbentuk kritik terhadap praktik keagamaan yang dianggap tidak memiliki landasan kuat, tetapi juga menghadirkan alternatif kehidupan Islam yang maju, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Garis Batas: Cara Menyikapi Perbedaan

Perbedaan antara Muhammadiyah dan kelompok Salafi juga dapat terlihat dalam cara menyikapi persoalan khilafiyah.

Muhammadiyah memiliki prinsip bahwa persoalan yang masih berada dalam wilayah ijtihad tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyesatkan, apalagi memutuskan persaudaraan.

Perbedaan dalam persoalan cabang agama merupakan bagian dari dinamika tradisi keilmuan Islam. Karena itu, seseorang boleh meyakini pendapat yang dianggap paling kuat berdasarkan dalil dan metodologi yang diyakininya, tetapi tetap menghormati orang lain yang memiliki dasar ilmiah berbeda.

Dalam konteks ini, penting membedakan antara “berbeda pendapat” dan “berbeda iman”. Tidak semua perbedaan fikih harus berubah menjadi perbedaan identitas dan permusuhan.

Muhammadiyah dan Semangat Islam Berkemajuan

Muhammadiyah memiliki karakter yang kuat sebagai gerakan Islam berkemajuan. Islam tidak hanya dipahami sebagai seperangkat ritual personal, tetapi juga sebagai kekuatan untuk membangun peradaban.

Karena itu, seorang warga Muhammadiyah idealnya tidak hanya sibuk memperdebatkan persoalan cabang ibadah, tetapi juga peduli terhadap pendidikan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, teknologi, ekonomi umat, ketahanan keluarga, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Inilah salah satu karakter penting Muhammadiyah: agama harus melahirkan amal.

Ilmu harus melahirkan amal, iman harus melahirkan kepedulian, dan dakwah harus melahirkan perubahan yang nyata.

Jangan Menjadikan Perbedaan sebagai Tembok

Memahami garis batas bukan berarti membangun tembok permusuhan.

Muhammadiyah dapat mengambil manfaat dari berbagai tradisi keilmuan Islam selama sesuai dengan prinsip Al-Qur’an, Sunnah, dan manhaj yang digunakan. Begitu pula, perbedaan dengan kelompok lain tidak seharusnya membuat seorang Muslim kehilangan sikap adil dan akhlak dalam berdakwah.

Allah mengingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Maka, memahami perbedaan Muhammadiyah dan Salafi seharusnya bukan untuk mencari siapa yang paling benar secara kelompok, tetapi untuk memahami manhaj, karakter, dan orientasi dakwah masing-masing.

Pada akhirnya, garis batas yang sehat bukanlah garis yang melahirkan kebencian, tetapi garis yang membuat seseorang memiliki identitas keilmuan yang jelas sekaligus tetap mampu menghormati perbedaan.

Muhammadiyah memiliki jalan tajdidnya sendiri: kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menggunakan ilmu dan ijtihad, menghindari fanatisme kelompok, serta menerjemahkan ajaran Islam dalam amal nyata untuk kemajuan umat dan kemanusiaan.

Sebab, menjadi Muhammadiyah bukan sekadar berbeda dalam beberapa praktik ibadah. Menjadi Muhammadiyah berarti mengambil bagian dalam sebuah gerakan yang berusaha menjadikan Islam sebagai agama yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menghadirkan kemaslahatan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Nurul Adam Arifin, S.Pd., M.Pd, Gr.

Nurul Adam Arifin, S.Pd., M.Pd., Gr., CDAI., CITQ., CLQ., CPPS. adalah seorang pendakwah yang mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan keindahan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Lahir dan dibesarkan di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai agama, akrab disapa UAR (Ustadz Adam Arifin) ini mengemban misi mulia: membawa umat lebih dekat kepada Allah SWT dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW. dengan prinsip bahagia Dunia dan Akhirat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button