ArtikelDinamika PesyarikatanTuntunan

Muhammadiyah: Gerakan Dīn at-Tanwīr menuju Dīn al-Ḥaḍārah

Menghidupkan Dakwah, Tajdid, Ilmu, dan Amal untuk Kemaslahatan Semesta.

Sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912, Persyarikatan Muhammadiyah mengembangkan dakwah yang tidak berhenti pada ceramah dan ibadah perseorangan. Pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap kaum lemah menjadi ruang nyata pengamalan ajaran Islam. Ikhtiar ini dapat dibaca melalui ungkapan الْإِسْلَامُ دِينُ التَّنْوِيرِ وَالْحَضَارَةِ (Al-Islāmu dīnu at-tanwīri wa al-ḥaḍārah): Islam adalah agama pencerahan dan peradaban.

Ungkapan tersebut merupakan rumusan konseptual, bukan kutipan ayat atau hadis. Dua istilahnya saling berkaitan: dīn at-tanwīr menunjuk proses mencerdaskan, membebaskan dan memberdayakan manusia; sedangkan dīn al-ḥaḍārah menunjuk pembangunan tatanan hidup yang berilmu, berakhlak, adil, dan bermartabat. Dalam kerangka Islam Berkemajuan, Muhammadiyah berikhtiar menghadirkan keduanya secara beriringan.

Dari Pencerahan Iman Menuju Kemajuan Peradaban

Pencerahan dalam Islam bermula dari tauhid yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Namun iman tidak boleh dipisahkan dari akal sehat, tanggung jawab sosial, dan amal. Manusia yang tercerahkan bukan hanya memahami kebenaran, melainkan juga menggunakannya untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, penyakit, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107.

Ayat ini memberikan cakrawala etis bagi setiap gerakan Islam: keberagamaannya harus menghadirkan manfaat yang luas. Karena itulah, keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan keagamaan, tetapi juga dari bertambahnya ilmu, kepedulian, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Rahmat bagi semesta bukan slogan yang meminggirkan akidah, melainkan buah pengamalan iman yang bertanggung jawab.

Pencerahan adalah jalan perubahan; peradaban adalah bentuk kehidupan yang dibangun. Keduanya harus dipandu tauhid, ilmu, akhlak, dan kemaslahatan.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah, Tajdid, Ilmu, dan Amal

Dalam Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48, Muhammadiyah menegaskan orientasi gerakannya melalui dakwah, tajdid, ilmu, dan amal. Karakter Islam Berkemajuan mencakup landasan tauhid, rujukan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, penghidupan ijtihad dan tajdid, pengembangan sikap wasathiyah, serta perwujudan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, pembaruan tidak berarti melepaskan prinsip agama; pembaruan berarti menggunakan pemahaman yang bertanggung jawab untuk menjawab persoalan zaman.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” QS. Āli ‘Imrān [3]: 104.

Ayat ini menjadi salah satu landasan dakwah kolektif. Persyarikatan dapat dipahami sebagai wadah pengorganisasian kebaikan: menyiapkan kader, mengembangkan lembaga pendidikan, menggerakkan pelayanan kesehatan, membina keluarga, dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam kehidupan kontemporer, amar makruf juga menuntut kejujuran publik, literasi digital, disiplin ilmiah, dan keberanian menolak penyalahgunaan kekuasaan.

Ilmu yang menerangi, amal yang mengubah

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim, no. 2699a; penggalan hadis sahih riwayat Abu Hurairah.

Hadis tersebut meneguhkan nilai ikhtiar ilmiah. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup menjadi tempat memperoleh ijazah; keduanya perlu membentuk manusia yang kritis, jujur, berintegritas, dan mampu menghasilkan pengetahuan yang berguna. Penelitian, teknologi tepat guna, pengembangan kesehatan, serta pendidikan yang terbuka bagi kelompok rentan dapat menjadi perwujudan tanwīr yang terukur manfaatnya.

Teologi Al-Mā‘ūn: Ibadah yang Menjadi Kepedulian

Salah satu warisan penting pembaruan K.H. Ahmad Dahlan ialah penekanan pada pengamalan Surah Al-Mā‘ūn. Surat ini mengingatkan bahwa keberagamaan bisa kehilangan maknanya ketika orang mengabaikan yatim dan miskin. Maka ibadah harus melahirkan solidaritas, bukan membenarkan ketidakpedulian.

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” QS. Al-Mā‘ūn [107]: 2–3.

Dalam pengalaman Muhammadiyah, semangat Al-Mā‘ūn menemukan bentuk kelembagaan melalui layanan pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, dan kerja-kerja kemanusiaan. Amal usaha bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana menjembatani ajaran agama dengan kebutuhan masyarakat. Rumah sakit menjadi dakwah ketika pasien dilayani secara bermartabat; sekolah menjadi dakwah ketika ilmu dan kesempatan belajar dibuka secara adil; bantuan sosial menjadi dakwah ketika penerimanya diberdayakan agar semakin mandiri.

Ukuran peradaban yang berkemajuan bukan hanya gedung, angka, atau teknologi, tetapi apakah kemajuan itu menolong manusia hidup lebih adil, sehat, terdidik, dan bermartabat.

Menjawab Tantangan Zaman dengan Etika Pencerahan

Dunia digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, polarisasi sosial, dan ketimpangan ekonomi menuntut dakwah yang lebih cerdas. Muhammadiyah dapat memperkuat tradisi bayānī (pemahaman nash), burhānī (pertimbangan rasional dan bukti), serta ‘irfānī (kepekaan batin dan akhlak). Ketiganya saling menolong agar penggunaan sains dan teknologi tetap berakar pada nilai agama serta mengutamakan kemaslahatan manusia.

Tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran sepanjang hayat, literasi informasi untuk melawan hoaks, riset yang dapat dipertanggungjawabkan, pelayanan sosial yang inklusif, dan tata kelola organisasi yang transparan. Pembaruan yang autentik bukan sekadar mengganti alat lama dengan teknologi baru, melainkan memastikan teknologi memperluas akses pendidikan, mengurangi penderitaan, dan tidak memperlebar kesenjangan.

Lebih jauh, pencerahan harus dimulai dari anggota dan pimpinan sendiri: jujur mengelola amanah, terbuka terhadap koreksi, menolak fanatisme yang menutup dialog, serta bekerja sama dengan siapa pun dalam kebaikan dan kemanusiaan. Keunggulan peradaban lahir ketika nilai luhur menjadi kebiasaan dan sistem yang bertahan, bukan hanya semangat sesaat.

Penutup: Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

Sebagai bagian dari umat Islam dan masyarakat Indonesia, Muhammadiyah bukan pemilik tunggal misi pencerahan dan peradaban, melainkan salah satu gerakan yang berusaha mewujudkannya melalui dakwah, tajdid, ilmu, dan amal. Dīn at-tanwīr menjaga agar agama terus menghadirkan pemahaman dan perubahan yang membebaskan; dīn al-ḥaḍārah mengarahkan perubahan itu menjadi pendidikan, kesehatan, keadilan, budaya ilmu, dan tatanan sosial yang lebih baik.

Dengan demikian, “Islam adalah agama pencerahan dan peradaban” merupakan panggilan untuk menyatukan kesalehan pribadi, kesalehan sosial, dan tanggung jawab membangun masa depan. Semangat Islam Berkemajuan akan hidup selama Persyarikatan bersedia terus belajar, mengoreksi diri, melayani sesama, serta menghadirkan rahmat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sumber Rujukan

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/. --- HP: 0818294312, Email: kasmui@mail.unnes.ac.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button