
Setiap hari, umat Islam membaca jadwal Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Angka-angka tersebut membantu menjaga kedisiplinan ibadah, tetapi muncul pertanyaan penting: mengapa waktu Subuh di satu kota berbeda dengan kota lain, mengapa Magrib bergeser sepanjang tahun, dan dari mana angka-angka itu diperoleh? Jadwal salat yang baik bukan sekadar daftar jam; di belakangnya terdapat perhitungan posisi Matahari, keadaan geografis, serta pilihan kriteria fikih yang dapat dijelaskan dan diperiksa.
Unduh SalatFalak Android (.apk)
Unduh SalatFalak Windows (.exe)
CATATAN: karena 2 file ini berasal dari sumber ketiga maka dalam instalasi harus diijinkan (TETAP INSTALL) agar dapat di install baik di Windows maupun di Android
Semangat inilah yang melandasi pengenalan SalatFalak, aplikasi hisab untuk Android dan Windows yang menghubungkan jadwal salat dengan informasi astronomi Matahari–Bulan. Dengan memahami dasar penghitungannya, umat tidak hanya mengetahui kapan harus salat, melainkan juga mengapa waktunya demikian serta bagaimana ilmu yang sama membantu mengkaji awal bulan Hijriah.
Waktu Salat Berkaitan dengan Gerak Semu Matahari
Dalam ilmu falak, waktu salat diturunkan dari posisi Matahari terhadap ufuk dan meridian pengamat. Penentu utamanya ialah lintang, bujur, zona waktu, tanggal, deklinasi Matahari, persamaan waktu (equation of time), dan ketinggian lokasi. Karena koordinat serta posisi Matahari berubah, jadwal suatu kota tidak boleh dipindahkan begitu saja ke tempat lain.
- Subuh: berkaitan dengan terbitnya fajar sadik; model aplikasi menggunakan tinggi pusat Matahari −18° di bawah ufuk timur.
- Zuhur: diturunkan dari saat Matahari melintasi meridian setempat (transit atau zawal), dengan koreksi bujur dan persamaan waktu.
- Asar: dihitung melalui geometri panjang bayangan; pilihan bakunya ialah bayangan tambahan sepanjang satu kali tinggi benda setelah bayangan saat kulminasi (pendekatan jumhur).
- Magrib: berkaitan dengan terbenamnya tepi atas Matahari; perhitungan memperhitungkan refraksi atmosfer, semidiameter Matahari, dan kerendahan ufuk karena elevasi.
- Isya: berkaitan dengan hilangnya cahaya senja; model aplikasi memakai tinggi Matahari −18°. Syuruq juga ditampilkan sebagai informasi waktu terbit Matahari dan batas akhir Subuh.
Kriteria Subuh −18° selaras dengan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 734/KEP/I.0/B/2021 tentang hasil Munas XXXI Tarjih. Sementara itu, pilihan kriteria lainnya tetap perlu dipahami sebagai bagian dari metode hisab: dua jadwal bisa berbeda beberapa menit karena lokasi, pembulatan, parameter senja, atau ihtiyat (penambahan waktu kehati-hatian), bukan otomatis karena salah satunya keliru.
Memahami Rumus, Bukan Hanya Membaca Jam
Salah satu inti perhitungan adalah hubungan antara tinggi Matahari (h), lintang pengamat (φ), deklinasi Matahari (δ), dan sudut waktu (H): cos H = (sin h − sin φ sin δ) / (cos φ cos δ). Sudut waktu kemudian dikonversi menjadi selisih waktu terhadap transit Matahari. Adapun transit setempat diperoleh dari hubungan bujur, zona waktu, dan persamaan waktu. Karena itu, mengubah satu parameter geografis dapat mengubah hasil jadwal.
Ketepatan jadwal salat bukanlah soal menampilkan angka hingga menit atau detik, melainkan ketepatan model astronomi, data lokasi, kriteria fikih, serta cara hasil perhitungan diterapkan.
Pada sumber pengembangan SalatFalak versi 1.3.8, perhitungan dihubungkan dengan berkas ephemeris JPL DE440s berformat BSP untuk rentang 2026–2076. Ephemeris menyediakan landasan posisi benda langit; sedangkan pemilihan sudut fajar, metode Asar, serta koreksi ufuk adalah keputusan perhitungan yang tetap harus dinyatakan secara terbuka. Kode juga menyediakan pemilihan kota atau koordinat lokasi dan pengaturan ihtiyat.
Dari Jadwal Salat Menuju Hisab Awal Bulan Hijriah
Hubungan keduanya paling jelas terlihat saat Magrib. Peristiwa Matahari terbenam menjadi waktu penting untuk menghitung posisi Bulan sabit muda. SalatFalak menampilkan waktu konjungsi atau ijtimak (ketika bujur ekliptika Bulan dan Matahari sejajar), tinggi Bulan saat Magrib, dan elongasi, yaitu jarak sudut Bulan–Matahari. Ditampilkan pula tinggi geosentris (dirujuk dari pusat Bumi) serta toposentris (dirujuk dari lokasi pengamat), yang dapat berbeda karena paralaks.
Dalam tabel analisisnya, K0 adalah tanggal lokal saat konjungsi, K1 satu hari sesudahnya, dan K2 dua hari sesudahnya. Umur Bulan dihitung sebagai selisih antara waktu Magrib dan waktu konjungsi. Umur negatif berarti Magrib berlangsung sebelum konjungsi; angka umur atau tinggi Bulan saja tidak otomatis membuktikan hilal dapat terlihat. Pemisahan informasi semacam ini membantu umat membaca data astronomi secara lebih kritis.
Memahami KHGT dan Kriteria 5°–8°
Untuk pengkajian Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), kode aplikasi menerapkan pemeriksaan global: bila pada suatu tempat di dunia saat Matahari terbenam, sebelum pukul 24.00 UTC, tinggi Bulan geosentris mencapai sekurang-kurangnya 5° dan elongasi geosentris sekurang-kurangnya 8°, kriteria jalur utama terpenuhi. Kode juga memuat jalur penyelarasan setelah batas UTC tersebut dengan syarat tambahan terkait daratan Amerika dan waktu ijtimak sebelum fajar di Selandia Baru.
Penting: jadwal salat bersifat lokal, sedangkan keputusan awal bulan menurut KHGT bersifat global. Tabel posisi Bulan di kota pengguna berfungsi untuk belajar dan analisis; penetapan awal bulan tidak boleh hanya disimpulkan dari satu lokasi. Pemindaian global pada kode menggunakan titik sampel sehingga hasilnya perlu dicocokkan dengan keputusan atau layanan KHGT resmi.
Unduh SalatFalak untuk Android dan Windows
Aplikasi ini diperuntukkan bagi pengguna yang ingin membaca jadwal salat sekaligus menelaah parameter hisab, posisi Matahari–Bulan saat Magrib, konjungsi, dan gambaran perhitungan kalender Hijriah. Pilih berkas sesuai perangkat; pastikan tanggal, zona waktu, koordinat, dan elevasi telah benar sebelum menggunakan hasilnya sebagai panduan.
Unduh SalatFalak Android (.apk)
Unduh SalatFalak Windows (.exe)
Dengan belajar dasar astronominya, umat dapat memanfaatkan jadwal salat secara lebih bertanggung jawab sekaligus memahami bahwa perhitungan awal bulan Hijriah menuntut data, metode, dan kriteria yang berbeda. Ilmu falak menjembatani ketepatan ibadah, kecermatan ilmiah, dan literasi waktu dalam kehidupan umat.
Sumber Rujukan
- Kode sumber jadwal_waktu_salat_v1.3.8_DE440s dan berkas ephemeris de440s-2026-2076 sebagai bahan teknis artikel.
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Keputusan Nomor 734/KEP/I.0/B/2021 tentang Kriteria Awal Waktu Subuh.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, penjelasan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dan parameter 5°–8°.




