
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Hari ini, kita hidup di sebuah zaman di mana informasi mengalir lebih cepat dari kedipan mata. Melalui layar smartphone di genggaman, kita terhubung dengan dunia. Hanya dengan satu sentuhan jari, sebuah berita, foto, atau video bisa tersebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan ini sering kali tidak diimbangi dengan kedewasaan dalam menyaring informasi.
Sering kali kita menjumpai fenomena di grup WhatsApp keluarga atau di lini masa Instagram dan TikTok, seseorang dengan mudahnya membagikan sebuah berita yang provokatif, mengejutkan, atau mengundang amarah, padahal berita tersebut belum tentu benar. Budaya “yang penting share dulu, urusan benar atau salah belakangan” telah menjadi kebiasaan yang sangat membahayakan. Akibatnya, fitnah merajalela, nama baik seseorang hancur, dan persaudaraan terputus hanya karena informasi bohong (hoaks).
Islam adalah agama yang sangat visioner dan sempurna. Jauh sebelum ada internet dan media sosial, Al-Qur’an telah memberikan panduan emas tentang literasi informasi. Islam mengajarkan sebuah prinsip kehati-hatian yang disebut dengan Tabayyun, yang artinya mencari kejelasan, memeriksa dengan teliti, dan melakukan klarifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu berita.
Allah SWT secara tegas memerintahkan hal ini dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Pesan utama dari ayat ini sangatlah jelas dan logis. Allah mengingatkan bahwa menerima berita tanpa verifikasi bisa menyebabkan kita menjatuhkan vonis, menyakiti hati, atau menimpakan musibah kepada orang yang tidak bersalah. Ketika kebenaran akhirnya terungkap dan kita menyadari berita itu palsu, yang tersisa hanyalah penyesalan (nadimin). Dan ingatlah, jejak digital sangat sulit dihapus. Satu hoaks yang kita sebar mungkin akan terus beredar meski kita sudah menghapusnya dari handphone kita, dan dosa jariyah pun bisa terus mengalir.
Bagaimana kita mempraktikkan tabayyun dalam kehidupan sehari-hari?
Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa, kalian adalah generasi yang paling melek teknologi. Jadilah agen literasi Islami. Saat kalian melihat informasi yang sedang viral, tren yang memojokkan seseorang, atau potongan video yang mengundang amarah, tahan dulu jari kalian. Jangan mudah terpancing emosi untuk ikut berkomentar buruk atau membagikannya. Cari tahu konteks aslinya, periksa sumber beritanya apakah dari media yang kredibel. Ingat prinsipnya: Saring sebelum sharing.
Bagi Bapak/Ibu, jika menerima pesan berantai ( broadcast ) yang berisi informasi kesehatan yang tidak jelas sumber medisnya, isu-isu politik yang memecah belah, atau aib seseorang, berhentilah di handphone Bapak/Ibu. Jangan biarkan jempol kita lebih cepat dari akal sehat kita. Jika kita tidak yakin akan kebenaran sebuah berita, diam adalah pilihan yang jauh lebih menyelamatkan.
Lisan kita di era digital ini telah menjelma menjadi jari-jemari kita. Apa yang kita ketik dan bagikan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang pahala untuk menyebarkan ilmu, kedamaian, dan ayat-ayat Allah, bukan sebagai tempat menyemai fitnah dan permusuhan. Putuslah rantai hoaks di tangan kita.
Mari kita akhiri tulisan ini dengan berdoa memohon bimbingan dan penjagaan dari Allah SWT
Ya Allah, Yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi. Karuniakanlah kepada kami kejernihan hati dan pikiran dalam menerima setiap informasi. Jauhkanlah kami dari sifat tergesa-gesa. Lindungilah lisan dan jari-jemari kami dari menyebarkan kebohongan, fitnah, dan hal-hal yang menyakiti saudara kami. Jadikanlah kami umat yang membawa kedamaian, bukan kerusakan.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




