Artikel
Trending

Rasulullah ﷺ Sang Mediator Agung: Dakwah yang Menyatukan Umat dan Membangun Peradaban

Dakwah, Rasulullah ﷺ, Mediasi, Islah, Kepemimpinan, Muhammadiyah.

I. Pendahuluan
Krisis persatuan umat di era digital.
Polarisasi politik, organisasi, keluarga, dan media sosial.
Mengapa dakwah membutuhkan mediator, bukan hanya komunikator.
Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama penyelesai konflik.

II. Dakwah Bukan Sekadar Ceramah
Makna dakwah menurut Al-Qur’an.
Dakwah sebagai proses membangun manusia.
Konsep islah dalam Islam.
Dalil:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl [16] : 125)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat [49] : 10)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran [3] : 104)

III. Rasulullah ﷺ Sang Mediator Agung
A. Menyelesaikan Sengketa Hajar Aswad
Latar belakang
Sebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi rasul, Ka’bah direnovasi akibat banjir. Saat tiba waktunya meletakkan Hajar Aswad, setiap kabilah Quraisy ingin memperoleh kehormatan tersebut. Perselisihan hampir berubah menjadi peperangan.
Solusi Rasulullah ﷺ
Beliau membentangkan sehelai kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta setiap pemimpin kabilah memegang ujung kain bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Rasulullah ﷺ sendiri meletakkan Hajar Aswad pada posisinya.

Hikmah
Adil kepada semua pihak.
Tidak mencari popularitas.
Mencari solusi yang menguntungkan semua pihak (win-win solution).

B. Mendamaikan Aus dan Khazraj
Latar belakang
Aus dan Khazraj adalah dua suku besar di Madinah yang telah bermusuhan selama puluhan tahun. Puncaknya terjadi Perang Bu’ats, yang menelan banyak korban.
Peran Rasulullah ﷺ
Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan mereka dalam ikatan Islam dan mengingatkan bahwa persaudaraan iman lebih tinggi daripada fanatisme suku.
Dalil:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Hikmah
Persaudaraan mengalahkan permusuhan.
Dakwah membangun ukhuwah

C. Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar
Rekonsiliasi sosial.
Solidaritas ekonomi.
Kepemimpinan berbasis kasih sayang.
Dalil:

Latar belakang :

Kaum Muhajirin meninggalkan seluruh harta di Makkah. Mereka datang ke Madinah dalam keadaan serba kekurangan.
Peran Rasulullah ﷺ
Beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar (mu’ākhāh). Kaum Anshar rela berbagi rumah, kebun, bahkan harta mereka.
Allah memuji mereka:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّا رَ وَا لْاِ يْمَا نَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَا جَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَا جَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَا نَ بِهِمْ خَصَا صَةٌ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr [59] : 9)

Hikmah
Membangun persaudaraan dengan pengorbanan.
Menghapus kecemburuan sosial.

D. Menyusun Piagam Madinah
Konstitusi pertama masyarakat Madinah.
Kehidupan berdampingan.
Hak dan kewajiban warga.

Latar belakang
Penduduk Madinah terdiri dari Muslim, Yahudi, dan berbagai kabilah Arab.
Peran Rasulullah ﷺ
Beliau menyusun Piagam Madinah, yang mengatur:
Hak dan kewajiban semua warga.
Kebebasan menjalankan agama.
Kerja sama menjaga keamanan kota.
Penyelesaian perselisihan secara adil.

Hikmah
Islam menjunjung keadilan.
Perbedaan tidak menghalangi kerja sama dalam urusan kemasyarakatan.

E. Menyelesaikan Konflik Keluarga
Contoh 1: Perselisihan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah
Rasulullah ﷺ tidak memarahi salah satu pihak, tetapi mendatangi Ali dengan penuh kelembutan dan mengajak berdamai.

Contoh 2: Perselisihan Abu Bakar dan Umar
Beliau menasihati keduanya hingga kembali akur.

Contoh 3: Perselisihan antar sahabat
Beliau bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا بَلَى، قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Maukah aku beritahukan amalan yang lebih utama daripada shalat sunnah, puasa sunnah, dan sedekah? Yaitu mendamaikan hubungan di antara manusia.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Hikmah
Mendamaikan manusia termasuk ibadah yang sangat utama.
Konflik harus diselesaikan dengan kelembutan dan keadilan.

IV. Prinsip-prinsip Mediasi Rasulullah ﷺ
Adil.
Mendengar semua pihak.
Tidak memihak.
Mengutamakan maslahat.
Lemah lembut.
Musyawarah.
Menjaga kehormatan semua pihak.
Menghindari mempermalukan orang.
Membangun solusi bersama.
Menanamkan takwa.

V. Rasulullah ﷺ Sebagai Pemimpin Perubahan
Beliau adalah:
Mediator.
Negosiator.
Komunikator.
Konselor.
Motivator.
Visioner.
Reformator masyarakat.

VI. Relevansi bagi Dai Muhammadiyah
Bagaimana mubaligh Muhammadiyah:
Menjadi perekat umat.
Menghindari provokasi.
Menguatkan ukhuwah.
Menjadi penengah konflik keluarga.
Menjadi konsultan masyarakat.
Menghidupkan dakwah pencerahan.
Disertai kutipan pemikiran:
KH. Ahmad Dahlan.
KH. AR Fachruddin.
Nilai-nilai Islam Berkemajuan.

VII. Tantangan Dakwah Era Digital
Hoaks.
Ujaran kebencian.
Polarisasi media sosial.
Fanatisme kelompok.
Peran dai sebagai mediator digital.

 

VIII. Penutup

Hakikat Dakwah Rasulullah ﷺ
Dari berbagai peristiwa tersebut, tampak bahwa Rasulullah ﷺ bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi juga menjadi:
⇒Mediator: mendamaikan pihak yang berselisih.
⇒Negosiator: mencari jalan keluar terbaik tanpa menzalimi siapa pun.
⇒Komunikator: menyampaikan pesan dengan hikmah dan kelembutan.
⇒Konselor: memberikan solusi atas persoalan individu maupun keluarga.
⇒Pemimpin Perubahan: membangun masyarakat yang sebelumnya terpecah menjadi umat yang bersatu.

Pelajaran bagi para dai dan pemimpin.
Seorang dai :

⇒tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia juga perlu mampu:
Menyatukan umat, bukan mempertajam perpecahan.
⇒Menjadi penengah ketika terjadi konflik.
⇒Mengutamakan keadilan daripada kepentingan golongan.
⇒Mengedepankan musyawarah, kasih sayang, dan hikmah dalam menyelesaikan persoalan.

Rujukan Utama
Al-Qur’an
QS. Al-Anbiyā’:107
QS. Ali ‘Imrān:103–104
QS. Al-Hujurāt:9–10
QS. An-Naḥl:125
QS. Al-Hasyr:9
Hadis
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
Ṣaḥīḥ Muslim
Sunan Abū Dāwūd
Jāmi’ At-Tirmiżī
Kitab Sirah
Ibnu Hisyam – As-Sīrah an-Nabawiyyah
Ibnu Katsir – Al-Bidāyah wan Nihāyah
Ṣafiyyur Raḥmān al-Mubārakfūrī – Ar-Raḥīq al-Makhtūm

Referensi Pendukung
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Buya Hamka (Tafsir Al-Azhar)
Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)
Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah

Suratno Abu Musaddad

Pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jumantono, Majelis Tabligh PDM Karanganyar dan Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button