Kabar Gembira Dari Langit
Oleh : Ely Sukasih, MA (Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara)

Surat Fussilat ayat 30 menjelaskan tentang keutamaan istiqomah, yaitu keteguhan dalam memegang pendirian iman kepada Allah. Ayat ini berbunyi:
“إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ”
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” ” (QS. Fushshilat: 30).
Kandungan Surat Fussilat Ayat 30
– Allah memuji orang-orang yang istiqomah.
– Orang yang istiqomah adalah orang yang beriman kepada Allah dan teguh pendirian dalam keimanan, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.
– Malaikat akan turun kepada orang-orang yang istiqomah, khususnya saat menjelang wafat, guna memberikan penguatan dan menyampaikan kabar gembira
Di dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada kita tentang orang yang akan mendapatkan kenikmatan luar biasa. Kabar gembira itu disampaikan melalui para malaikat yang mendatanginya. Bahkan, malaikat yang mendatangi bukan hanya satu atau dua malaikat, tetapi berbondong-bondong datang memberitahukan kabar gembira tersebut. Ayat di atas juga mengandung isyarat bahwa yang akan mendapatkan kabar gembira dari para malaikat memiliki dua ciri utama, yaitu rabbunallah dan istaqamu.
Adapun ciri yang pertama adalah rabbunallah “mereka yang mengakui Allah”. Bukan hanya mengakui akan tetapi juga mengimani rububiyah Allah. Adapun maksud dari rububiyah adalah mengimani bahwa Allah Yang Maha Pencipta, Penguasa, dan Pengatur Alam Semesta. Meyakini ketauhidan Allah dengan cara menafikan sesembahan-sesembahan yang batil. Mengimani bahwa hanya Allah saja Dzat yang berhak diibadahi dan disembah, bukan yang lain. Adapun ciri yang kedua adalah istiqamu “mereka meneguhkan diri.” Imam Hasan Al-Bashri menjelaskan makna dari meneguhkan diri adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dan berusaha menjauhi segala kemaksiatan. Dua ciri tersebut saling terkoneksi. Dimulai dengan mentauhidkan Allah, kemudian tauhid itu dikuatkan dengan mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi kemaksiatan yang ada di sekitarnya. Ketika seorang muslim bisa menjaga 2 syarat ini, maka Allah memberikan kabar gembira dengan menjadikannya merasa tenang, nyaman, dan tidak akan merasa sedih selama-lamanya.
Kabar gembira itu, disampaikan oleh malaikat yang mendatanginya saat seorang muslim itu sedang sakaratul maut. Saat dimana seorang manusia dicabut nyawanya oleh Malaikat, saat itulah kabar gembira menghampirinya. Malaikat datang dan berkata
اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kabar gembira inilah yang menjadikan akhir hayat seorang muslim menjadi khusnul khatimah. Maksud dari “janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih” adalah janganlah kamu takut dengan kehidupan selanjutnya dan janganlah kamu takut dengan apa yang kamu tinggalkan berupa anak, istri, suami, harta, rumah, kendaraan dan lain sebagainya. Kemudian kabar gembira yang paling puncak adalah diberitahukan kalau ia sudah mendapatkan jaminan dari Allah untuk memasuki janah dengan selamat.
selalu menjaga tauhid dan akidah. Juga selalu berupaya meneguhkan keyakinan itu dengan menambah ketaatan kepada Allah dan menjauhi segala kemaksiatan kepada–Nya.
Oleh sebab itu, Rasulullah sangat menganjurkan untuk melazimi doa yang selalu beliau panjatkan
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِك
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”
يَا مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قَلْبِي إِلَى طَاعَتِك
“Wahai Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu.”
Keutamaan Istiqomah
– Keberanian (asy-syaja’ah): Orang yang istiqomah tidak akan takut menghadapi kehidupan masa mendatang di akhirat karena mereka hanya takut kepada Allah.
– Ketenangan (al-ithmi’nan): Mereka yang istiqomah akan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup karena kunci ketenangan adalah dzikir mengingat Allah.
– Optimis (at-tafa’ul): Orang yang istiqomah akan selalu optimis karena keimanan menuntun mereka meyakini bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Allah.
أَقُولُ قَولِي هَذَا وَ اسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفُرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمِ




