Jejak Manusia Pertama: Dua Pelajaran Berharga dari Kisah Nabi Adam
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Jamaah online sekalian yang dirahmati Allah.
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di majelis ilmu online yang insyaAllah penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Jamaah online rahimakumullah,
Mari kita sejenak menengok kembali sejarah asal-usul kita. Bukan sekadar sejarah biologis, melainkan sejarah spiritual kita sebagai umat manusia. Kita akan mengingat kembali kisah penciptaan manusia pertama, yaitu kakek moyang kita, Nabi Adam ‘alaihissalam, dan pelajaran berharga yang bisa kita bawa dari kisah beliau selama berada di Surga.
Kisah ini dimulai dari sebuah pengumuman besar di hadapan para malaikat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً
Wa idz qala rabbuka lil-mala-ikati inni ja’ilun fil-ardhi khalifah… Yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi’…”
Ayat ini memberikan pelajaran pertama yang sangat mendasar: Kita diciptakan dengan sebuah tujuan besar, yaitu menjadi khalifah atau pemimpin, pengelola, dan pemakmur di muka bumi. Allah tidak menciptakan manusia secara kebetulan. Baik kita yang saat ini berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun tokoh masyarakat, kita semua membawa amanah “khalifah” ini. Amanah untuk menebar kebaikan, menjaga kerukunan, dan tidak membuat kerusakan di bumi Allah.
Namun, sebelum diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas tersebut, Allah menempatkan Nabi Adam di Surga. Di sinilah terjadi peristiwa bersejarah ketika Nabi Adam tergelincir oleh godaan Iblis sehingga melanggar larangan Allah.
Dari peristiwa di Surga ini, kita mendapatkan pelajaran kedua yang sangat berharga. Saat Iblis berbuat salah karena kesombongannya menolak sujud kepada Adam, Iblis justru menyalahkan takdir dan tidak mau meminta maaf. Namun, apa yang dilakukan oleh Nabi Adam ketika menyadari kesalahannya? Beliau segera memohon ampun.
Doa Nabi Adam ini diabadikan dengan indah dalam QS. Al-A’raf ayat 23:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
Qala rabbana dhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal-khasirin. Yang artinya: “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi’.”
Pelajaran dari Surga ini sangat jelas: Manusia tempatnya salah dan lupa. Kesalahan tidak lantas membuat kita hina selamanya di mata Allah, asalkan kita mau mengakui kesalahan tersebut dan bertaubat, bukan malah bersikap sombong dan mencari-cari alasan seperti Iblis.
Jamaah Online yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam masyarakat kita yang menjunjung tinggi adab dan unggah-ungguh, pesan ini sangat relevan.
Misalnya, bagi adik-adik mahasiswa atau pelajar. Ketika kita melakukan kesalahan dalam tugas, terlambat datang, atau berselisih paham dengan kawan, apa reaksi pertama kita? Apakah kita sibuk mencari alasan dan menyalahkan orang lain? Ataukah kita berani berjiwa besar mengatakan, “Mohon maaf, saya yang salah, saya akan perbaiki”?
Bagi kita di masyarakat luas, jika ada kekhilafan dalam berucap kepada tetangga, sikap Nabi Adam mengajarkan kita untuk rendah hati. Mengakui kesalahan (dhalamna anfusana) adalah sifat manusia penghuni Surga. Sebaliknya, kesombongan dan keengganan untuk meminta maaf adalah sifat Iblis.
Oleh karena itu, jamaah online sekalian, mari kita bawa pulang dua pesan utama ini. Pertama, mari jalankan peran kita sebagai khalifah dengan sebaik-baiknya di bidang kita masing-masing. Kedua, jangan pernah menunda taubat dan permintaan maaf bila kita berbuat salah, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Mari kita tutup tulisan ini dengan berdoa, memohon agar kita senantiasa dibimbing di jalan yang lurus. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat. Ampunilah segala dosa dan kekhilafan kami sebagaimana Engkau mengampuni kakek kami, Nabi Adam. Jadikanlah kami khalifah yang membawa rahmat bagi lingkungan sekitar kami, dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Nashrun minallahi wa fathun qariib. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





