Khutbah Jum’at: Hidup Sempit bagi yang Berpaling dari Dzikir
Oleh: Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd (Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo)

KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَ ذِكْرَهُ طُمَأْنِينَةً لِلْقُلُوبِ وَشِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُورِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah ﷻ yang telah memberi kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada siang hari ini kita dapat berkumpul di rumah Allah untuk menunaikan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Khatib mewasiatkan kepada diri sendiri dan jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun.
Mengapa Orang Kaya Pun Bisa Gelisah?
Jamaah sekalian, hari ini kita hidup di zaman yang serba mudah. Makanan tersedia, kendaraan nyaman, hiburan ada di genggaman. Namun lihatlah sekeliling kita: berapa banyak orang yang hartanya melimpah tetapi hatinya gelisah? Berapa banyak yang tidur di kasur empuk tetapi matanya tak mau terpejam? Berapa banyak yang tampil tertawa di media sosial tetapi dadanya sesak oleh kecemasan?
Sebaliknya, kita juga menjumpai orang yang hidupnya sederhana, namun wajahnya teduh dan hatinya lapang. Apa rahasianya? Allah ﷻ telah menjawabnya empat belas abad yang lalu dalam firman-Nya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)
Makna “Dzikr” dan “Ma’isyah Dhanka”
Kata dzikri (peringatan-Ku) dalam ayat ini mencakup wahyu yang Allah turunkan, yakni Al-Qur’an dan petunjuk-Nya, juga mencakup mengingat Allah dalam hati, lisan, dan perbuatan. Maka “berpaling dari dzikir” bukan hanya meninggalkan bacaan wirid, tetapi juga berpaling dari petunjuk Allah: tidak mau membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, lalai dari shalat, dan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Adapun ma’isyah dhanka berarti kehidupan yang sempit dan menyesakkan. Para ulama tafsir menjelaskannya dengan beberapa makna. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sisi kesempitan batin di dunia:
فِي الدُّنْيَا، فَلَيْسَ لَهُ طُمَأْنِينَةٌ وَلَا انْشِرَاحٌ لِصَدْرِهِ، بَلْ صَدْرُهُ ضَيِّقٌ حَرَجٌ لِضَلَالِهِ، وَإِنْ تَنَعَّمَ ظَاهِرُهُ، وَلَبِسَ مَا شَاءَ، وَأَكَلَ مَا شَاءَ، وَسَكَنَ حَيْثُ شَاءَ، فَإِنَّ قَلْبَهُ مَا لَمْ يَخْلُصْ إِلَى الْيَقِينِ وَالْهُدَى فَهُوَ فِي قَلَقٍ وَحَيْرَةٍ وَشَكٍّ، فَلَا يَزَالُ فِي رِيبَةٍ يَتَرَدَّدُ، فَهَذَا مِنْ ضَنْكِ الْمَعِيشَةِ
“Yakni di dunia. Ia tidak memiliki ketenangan dan kelapangan dada, bahkan dadanya sempit dan terhimpit karena kesesatannya. Sekalipun secara lahir ia hidup bergelimang nikmat, memakai apa yang ia mau, makan apa yang ia mau, dan tinggal di mana ia mau, selama hatinya belum sampai pada keyakinan dan petunjuk, ia dalam kegelisahan, kebingungan, dan keraguan. Ia terus berada dalam syak yang membuatnya ragu-ragu. Inilah yang termasuk kesempitan hidup.”
Jamaah sekalian, perhatikan: sempitnya hidup di sini bukan soal sedikitnya harta, melainkan sempitnya hati. Berapa banyak istana yang terasa seperti penjara, dan berapa banyak gubuk yang terasa seperti taman.
Penjelasan Para Ulama tentang Rahasia Ketenangan
Allah ﷻ berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ini adalah kebalikan dari ayat yang kita bahas. Yang mengingat Allah hatinya tenteram; yang berpaling dari-Nya hatinya sempit. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan hal ini dengan sangat indah:
قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَفِي الْقَلْبِ شَعَثٌ لَا يَلُمُّهُ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ، وَفِيهِ وَحْشَةٌ لَا يُزِيلُهَا إِلَّا الْأُنْسُ بِهِ فِي خَلْوَتِهِ، وَفِيهِ حُزْنٌ لَا يُذْهِبُهُ إِلَّا السُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ وَصِدْقِ مُعَامَلَتِهِ
“Di dalam hati ada keberantakan yang tidak bisa dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah. Di dalamnya ada rasa asing yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan merasa dekat kepada-Nya di kala sunyi. Di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa dihapus kecuali dengan kebahagiaan mengenal-Nya dan kejujuran dalam beribadah kepada-Nya.” (Madarijus Salikin)
Demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:l,
إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.” (Al-Wabilus Shayyib)
Yang beliau maksudkan adalah surga di hati: ketenangan karena mengenal, mencintai, dan mengingat Allah.
Petunjuk Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ menggambarkan perbedaan orang yang berdzikir dan yang lalai dalam sabdanya:
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari)
Subhanallah! Orang yang lalai dari Allah, meski tubuhnya bergerak, bekerja, dan tertawa, hakikatnya hatinya mati. Pantas jika hidupnya terasa sempit.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan di mana letak kekayaan sejati:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kayanya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama salaf, di antaranya yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, juga menafsirkan ma’isyah dhanka sebagai azab kubur bagi orang yang berpaling dari petunjuk Allah. Maka kesempitan itu bisa dimulai sejak di dunia, berlanjut di alam kubur, dan puncaknya di akhirat, sebagaimana lanjutan ayat: “Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Ketika ia bertanya mengapa dibangkitkan dalam keadaan buta padahal dulu ia melihat, Allah menjawab:
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
“Allah berfirman: Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 126)
Balasan itu setimpal: siapa yang melupakan ayat-ayat Allah di dunia, ia dilupakan dari rahmat-Nya di akhirat.
Bentuk-Bentuk Berpaling dari Dzikir di Zaman Ini
Jamaah sekalian, mari kita bercermin. Berpaling dari dzikir tidak selalu berupa penolakan terang-terangan. Ia sering hadir dalam bentuk yang halus:
- Mushaf tersimpan rapi, tetapi jarang dibuka, sementara layar ponsel digulir berjam-jam.
- Shalat dikerjakan di ujung waktu, atau bahkan ditunda karena pekerjaan dan hiburan.
- Hati sibuk mengejar dunia, sehingga rezeki yang halal pun terasa tak pernah cukup.
- Rumah sepi dari bacaan Al-Qur’an dan doa, tetapi ramai oleh tontonan yang melalaikan.
Bila ini terus dibiarkan, jangan heran jika hati makin sempit, mudah marah, mudah cemas, dan hidup terasa hampa meski segala fasilitas ada.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu bagaimana jalan keluarnya? Pintu taubat selalu terbuka. Berikut langkah-langkah praktis untuk kembali menghidupkan hati:
- Dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Tetapkan waktu harian, meski satu halaman, dan usahakan memahami maknanya.
- Jaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Shalat adalah dzikir yang paling agung.
- Basahi lisan dengan dzikir. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ… قَالُوا: بَلَى، قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالى
“Maukah kalian aku kabarkan amalan terbaik kalian, yang paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi derajatnya, dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak…?” Para sahabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
- Bangun suasana rumah yang hidup dengan dzikir, mulai dari doa bersama, tilawah, dan pembatasan hal-hal yang melalaikan.
- Bersyukur dan qana’ah, karena hati yang merasa cukup adalah hati yang lapang.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan penerang dada kita semua.




