KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada hari Jumat yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa yang sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun kita bernapas. Ketakwaan inilah yang akan menjadi sebaik-baik bekal saat kita kelak berpulang menghadap Sang Pencipta.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pernahkah kita sejenak merenung dan bertanya kepada diri kita sendiri: Sudah berapa lama kita hidup di atas bumi Allah Swt ini? Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun tanpa terasa berganti tahun. Usia yang kita anggap bertambah, pada hakikatnya sedang berkurang. Jatah waktu kita di dunia ini terus berjalan menuju garis akhir yang telah Allah tetapkan.
Fenomena yang sering kita saksikan saat ini, atau bahkan mungkin sedang kita alami sendiri, adalah betapa cepatnya waktu berlalu tanpa ada karya atau amal nyata yang menemaninya. Sibuk dari pagi hingga malam, namun ketika ditanya apa manfaat dari kesibukan itu untuk akhirat kita, kita terdiam. Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah kali ini, mari kita melakukan muhasabah, sebuah introspeksi mendalam mengenai satu nikmat yang sering kali kita abaikan: waktu. Sudahkah kita memanfaatkannya dengan baik?
Pengertian dan Kedudukan Waktu dalam Islam
Dalam pandangan Islam, waktu bukanlah sekadar deretan jam yang berlalu secara mekanis. Waktu adalah modal utama kehidupan. Ia adalah amanah besar dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Kesalahan terbesar manusia adalah menganggap bahwa waktu yang hilang hari ini bisa diganti pada esok hari. Padahal, Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Apabila berlalu satu hari, maka berlalulah sebagian dari dirimu.”
Pembahasan tentang waktu bukanlah hal yang sepele, ia menyangkut keselamatan kita di dunia dan di akhirat.
Landasan Utama dari Al-Qur’an
Begitu pentingnya waktu, hingga Allah Subhanahu wa Ta‘ala bersumpah dengannya di dalam Al-Qur’an.
- Al-‘Asr: 1-3
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Ayat ini memberikan penegasan yang luar biasa. Allah Swt bersumpah demi masa, demi waktu, bahwa pada dasarnya seluruh manusia sedang melangkah menuju kerugian dan kebinasaan. Waktu akan menghancurkan mereka yang tidak mengisinya dengan empat hal: keimanan yang kokoh, amal perbuatan yang nyata dan berlandaskan ikhlas, saling menasihati dalam kebenaran, serta saling menguatkan dalam kesabaran. Pelajaran praktisnya adalah: setiap detik yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah adalah kerugian yang nyata.
Allah juga memerintahkan kita untuk selalu mengevaluasi waktu yang telah lalu sebagai persiapan menghadapi hari esok (akhirat).
- Al-Hasyr: 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Tafsir dari ayat ini sangat jelas, Allah Swt menyuruh kita untuk senantiasa melakukan muhasabah. Apa yang sudah kita kerjakan kemarin? Apakah amal ibadah kita sudah cukup untuk menjadi bekal di akhirat? Ayat ini diapit oleh dua perintah takwa, menunjukkan bahwa orang yang benar-benar bertakwa pasti memiliki kesadaran akan manajemen waktunya untuk akhirat.
Lalu, bagaimana kelak penyesalan orang yang menyia-nyiakan waktu ketika berada di akhirat? Allah Swt merekamnya dalam firman-Nya.
- Al-Mu’minun: 112-114
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ (112) قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ (113) قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (114)
Artinya: Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”
Ayat ini menggambarkan betapa singkatnya kehidupan dunia jika dibandingkan dengan akhirat. Puluhan tahun kita hidup di dunia, kelak akan terasa hanya seperti setengah hari saja. Sungguh ironis jika waktu yang begitu singkat ini kita korbankan hanya untuk memuaskan hawa nafsu sesaat, hingga mengorbankan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Rasulullah ﷺ sebagai teladan kita juga sangat sering memperingatkan umatnya tentang kelalaian terhadap waktu.
Hadis Riwayat Al-Bukhari
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Dua kenikmatan yang sering membuat kebanyakan manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.”
Hadis yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan derajat sahih ini memberikan syarah yang sangat relevan dengan realitas kita. Betapa banyak dari kita ketika sehat dan punya waktu luang, justru enggan melangkahkan kaki ke masjid, malas membaca Al-Qur’an, dan berat untuk menuntut ilmu. Namun, saat sakit menimpa dan kesibukan menyita, barulah muncul penyesalan. Hadis ini mengajarkan agar kita memanfaatkan waktu saat sehat dan luang sebelum kedua nikmat itu dicabut.
Beliau Rasulullah ﷺ juga memberikan panduan manajemen waktu yang luar biasa.
Hadis Riwayat Al-Hakim
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum masa matimu.”
Hadis dari Ibnu Abbas ini disahihkan oleh Al-Hakim. Nabi ﷺ mengingatkan kita untuk agresif dalam beramal saleh (mengambil ghanimah atau keuntungan) saat kita berada pada kondisi yang mendukung. Menunda-nunda amal adalah penyakit hati yang berbahaya.
Ingatlah jamaah sekalian, kelak setiap detik dari waktu kita akan ditanya secara spesifik oleh Allah di Padang Mahsyar.
Hadis Riwayat At-Tirmidzi
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.”
Hadis riwayat At-Tirmidzi dari Abu Barzah Al-Aslami dengan derajat sahih ini adalah peringatan keras. Pertanyaan pertama yang akan ditanyakan berkaitan dengan aset kita di dunia adalah: “Umurmu, masa hidupmu, waktumu, untuk apa engkau habiskan?” Akankah kita mampu menjawab bahwa waktu luang kita lebih banyak dihabiskan untuk menggulir layar ponsel daripada membaca ayat-ayat-Nya?
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika kita menganalisis kehidupan kita di era modern ini, akar persoalan dari hilangnya keberkahan waktu adalah jebakan hubbud dunya (cinta dunia) dan kelalaian (Ghaflah). Penyebab eksternal yang paling kuat hari ini adalah teknologi dan media sosial. Betapa banyak waktu yang tersedot untuk perdebatan yang tidak ada ujungnya, membaca berita yang tidak jelas kebenarannya, melihat aib orang lain, hingga terjebak pada ghibah digital.
Kekeliruan cara berpikir kita adalah memisahkan waktu ibadah dan waktu dunia. Kita menganggap ibadah hanya saat shalat, puasa, atau haji. Padahal, waktu kita bekerja untuk keluarga, waktu kita menyapa tetangga, waktu kita mendidik anak, semuanya bisa bernilai ibadah jika diiringi dengan niat yang benar.
Jika kelalaian terhadap waktu ini terus dibiarkan, dampaknya sangat merusak. Hati menjadi keras, keluarga menjadi tidak harmonis karena ayah dan ibu sibuk dengan dunianya sendiri di rumah, dan kepedulian sosial di masyarakat menjadi pudar. Kita hadir secara fisik, namun pikiran kita melayang ke tempat lain. Ini adalah bentuk kerugian yang nyata sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-‘Asr tadi.
Lalu, bagaimana solusi Islam dalam menghadapi persoalan ini? Islam bukan agama yang sekadar melarang, tetapi juga memberikan jalan keluar yang sangat realistis untuk kita amalkan:
Pertama, perbaiki niat saat bangun tidur. Jadikan niat hari ini lebih baik dari hari kemarin. Niatkan aktivitas kita, entah berniaga, bertani, bekerja di kantor, atau mengurus rumah tangga, semata-mata mencari ridha Allah dan memberikan nafkah yang halal bagi keluarga.
Kedua, tegakkan shalat lima waktu tepat pada waktunya, utamakan berjamaah di masjid bagi laki-laki. Jadikan waktu shalat sebagai poros atau jadwal utama kehidupan kita, bukan sekadar aktivitas selingan di antara jam kerja. Aturlah pekerjaan di sekitar waktu shalat, bukan sebaliknya.
Ketiga, kurangi konsumsi informasi yang tidak bermanfaat. Selektiflah dalam menggunakan media sosial. Jangan biarkan waktu luang berlalu tanpa zikir sekecil apa pun di dalam hati dan lisan.
Keempat, rutinkan muhasabah harian. Sebelum memejamkan mata di malam hari, tanyakan pada diri sendiri: Berapa banyak amal saleh yang aku lakukan hari ini? Berapa banyak dosa yang aku perbuat? Lalu iringilah dengan istighfar.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rahmat Allah Swt selalu terbuka. Pintu taubat belum tertutup. Mungkin selama ini kita telah menyia-nyiakan puluhan tahun usia kita. Namun, perubahan selalu bisa dimulai hari ini, detik ini juga. Amal kecil yang dilakukan dengan istiqamah dan ikhlas, sering kali memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah Swt. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Swt.
Mari kita sadari pula bahwa waktu kita bukan hanya milik kita pribadi. Ada hak keluarga di sana. Sempatkan waktu untuk duduk bersama istri dan anak-anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan mengajarkan mereka agama. Ada hak tetangga di sana. Sempatkan waktu untuk menjenguk tetangga yang sakit atau membantu saudara yang sedang kesulitan ekonomi. Senyum yang Anda berikan, waktu yang Anda luangkan untuk menolong orang fakir dan anak yatim, adalah investasi waktu terbaik yang keuntungannya akan Anda panen di surga kelak. Agama kita mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebelum saya mengakhiri khutbah pertama ini, mari kita menundukkan hati sejenak. Jika hari ini adalah hari Jumat terakhir dalam hidup kita, jika besok pagi matahari terbit dan nama kita sudah tercatat di batu nisan, sudah siapkah kita? Waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa diputar kembali, dan tidak bisa dipinjam.
Mari kita melangkah keluar dari masjid ini nanti dengan satu tekad bulat: kita akan menghargai waktu kita. Kita tidak akan menunda-nunda taubat. Kita akan menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca kalam-Nya, dan kita akan menggunakan sisa usia yang Allah titipkan ini untuk mengabdi kepada-Nya dan menebar manfaat bagi sesama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala melembutkan hati kita, menerangi jiwa kita, dan memberikan taufik agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai mensyukuri dan mengelola waktu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Swt,
Sekali lagi, di mimbar yang mulia ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memelihara ketakwaan kepada Allah, terutama dalam memanfaatkan sisa usia dan waktu yang telah Allah Swt anugerahkan kepada kita.
Inti sari dari apa yang telah khatib sampaikan pada khutbah pertama adalah pengingat bahwa waktu kita sangatlah terbatas. Kelalaian dalam mengisi waktu luang adalah penyakit yang menjauhkan kita dari Allah Swt. Jangan sampai kita menjadi hamba yang menyesal kelak di akhirat, meminta dikembalikan ke dunia meski hanya untuk satu hari demi bersedekah dan berbuat baik, karena sungguh permintaan itu akan ditolak.
Oleh karena itu, sepulang dari ibadah Jumat ini, mari kita mulai perbaikan dari dalam rumah kita sendiri. Hentikan kebiasaan menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak menambah keimanan maupun kelancaran rezeki halal kita. Jadikanlah setiap detik aktivitas kita bernilai pahala dengan meluruskannya hanya untuk Allah Swt. Jika hari ini Anda masih bermusuhan dengan kerabat, bergegaslah untuk memaafkan. Jika Anda memiliki harta berlebih, segeralah bersedekah. Bertindaklah hari ini, karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan benar-benar dihentikan.
Shalawat dan Doa
Sebagai hamba yang beriman, mari kita penuhi perintah Allah Swt untuk bershalawat kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





