KH AR Fakhruddin : Teladan Kepemimpinan Sederhana dan Pengabadian pada Amal Usaha Muhammadiyah
KH AR Fakhruddin: Teladan Kepemimpinan Sederhana dan Pengabadian pada Amal Usaha Muhammadiyah
Oleh : Legiman, S.Pd.,M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Ketua Umum PCPM Cawas)
Dalam sejarah perjalanan Muhammadiyah, terdapat sosok pemimpin yang namanya mungkin tidak sepopuler pendirinya, KH Ahmad Dahlan, namun kontribusinya dalam membangun ketahanan dan kemajuan organisasi ini sungguh luar biasa. Dialah KH AR Fakhruddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang memimpin organisasi ini selama 22 tahun (1968–1990), periode krusial pasca transisi politik nasional. Sosoknya dikenang bukan karena kharisma yang menggemparkan, tetapi justru karena kesederhanaan, ketekunan, dan dedikasinya yang tak kenal lelah untuk mengembangkan amal usaha, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan.
Awal Perjalanan Hidup dan Kaderisasi
Lahir di Yogyakarta pada 1916,Abdul Razak Fakhruddin telah bersentuhan dengan nilai-nilai Muhammadiyah sejak dini. Ayahnya, KH Fakhruddin, adalah salah satu murid langsung dan menantu KH Ahmad Dahlan. Semangat berdakwah melalui tindakan nyata (amal shaleh) tertanam kuat dalam dirinya. Sebelum memimpin pusat, karier organisasinya dimulai dan ditempa di akar rumput, antara lain sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kedu dan berbagai pos penting lainnya. Proses kaderisasi yang panjang ini membentuknya menjadi pemimpin yang memahami benar denyut nadi organisasi dari tingkat bawah.
Memimpin di Masa Transisi dan Konsolidasi
KH AR Fakhruddin memegang tampuk kepemimpinan di era yang penuh tantangan.Muhammadiyah baru saja melewati masa sulit di akhir Orde Lama dan awal Orde Baru, sebuah periode yang menguji ketahanan organisasi. Dengan sikapnya yang bijaksana, tenang, dan berwawasan ke dalam, Fakhruddin berhasil melakukan konsolidasi organisasi. Kepemimpinannya fokus pada penguatan internal, menghindari konfrontasi politik yang tidak perlu, dan lebih mengedepankan pembangunan secara substansial. Prinsipnya, Muhammadiyah harus kuat dari dalam melalui amal usaha yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Pencetus Modernisasi Amal Usaha Kesehatan
Salah satu warisan terbesar KH AR Fakhruddin adalah visinya dalam memodernisasi layanan kesehatan Muhammadiyah.Beliau menyadari bahwa pelayanan kesehatan yang modern dan terjangkau adalah bentuk dakwah bil-hal yang sangat nyata. Atas prakarsanya, Rumah Sakit PKU (Penolong Kesengsaraan Oemoem) Muhammadiyah Yogyakarta dikembangkan menjadi rumah sakit modern. Gagasan dan model ini kemudian direplikasi di berbagai daerah, melahirkan jaringan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah yang kini tersebar di seluruh Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya menyelamatkan banyak nyawa tetapi juga menegaskan komitmen Muhammadiyah pada kesejahteraan umat yang holistik.
Kesederhanaan yang Menjadi Teladan: Kisah-Kisah yang Melegenda
Di balik jabatannya yang tinggi,kehidupan sehari-hari KH AR Fakhruddin adalah manifestasi nyata dari kesederhanaan dan kerendahan hati. Banyak kisah tentangnya yang masih diceritakan dengan takjub:
1. Pemimpin yang Naik Angkutan Umum: Meski sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, beliau sering terlihat naik bis kota atau becak untuk menghadiri rapat atau kegiatan. Tidak jarang petugas keamanan di lokasi acara tidak mengenalinya dan menghalanginya masuk, sampai akhirnya panitia berlari menyambutnya.
2. Mengantri di Bank: Suatu ketika, beliau mengantri seperti nasabah lainnya di bank untuk keperluan organisasi. Seorang kenalan yang melihatnya menawarkan bantuan untuk memprioritaskan antrian, namun dengan halus ditolaknya. “Kita harus menghormati antrian orang lain,” katanya.
3. Rumah yang Sangat Sederhana: Rumah tinggalnya di Yogyakarta sangat sederhana, tidak berbeda dengan rumah kebanyakan warga. Bahkan, ketika ada tamu penting dari dalam dan luar negeri, mereka diterima di rumah itu dengan segala kesahajaannya. Hal ini menjadi kesaksian langsung tentang integritasnya.
4. Tidak Suka Dikultuskan: Beliau selalu menolak jika namanya diusulkan untuk menjadi nama jalan, rumah sakit, atau gedung. Baginya, semua yang dikerjakan adalah untuk Muhammadiyah dan atas nama organisasi, bukan pribadinya.
5. Peduli pada Hal Kecil: Suatu hari, beliau melihat ada paku yang menancap di dinding masjid. Khawatir melukai jamaah, beliau sendiri yang mencabut dan membengkokkannya. Perhatian pada detail dan keselamatan umat ini mencerminkan kepeduliannya yang mendalam.
Warisan Nilai dan Relevansi Masa Kini
KH AR Fakhruddin wafat pada 15 Maret 1995,meninggalkan warisan yang tidak ternilai: kepemimpinan yang berintegritas, berorientasi pelayanan, dan visioner dalam membangun institusi. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh godaan kekuasaan, teladan Fakhruddin mengingatkan kita bahwa esensi kepemimpinan ada pada keikhlasan mengabdi dan kemampuan menghasilkan karya nyata yang berkelanjutan.
Jaringan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah yang terus berkembang hingga hari ini adalah bukti nyata dari kerja keras dan visinya. KH AR Fakhruddin membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak perlu gemerlap; ia cukup diukur dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk umat dan organisasi. Kisah-kisah kesederhanaannya bukan tentang kemiskinan, tetapi tentang kekayaan hati dan keteguhan prinsip. Dalam ketekunan dan kerendahan hatinya, tersimpan kekuatan yang mampu membawa Muhammadiyah melewati zaman, tetap relevan, dan terus berkarya untuk kemaslahatan bangsa. Ia adalah pemimpin sejati yang memimpin dengan memberi contoh, bukan sekadar perintah.




