Khutbah Jum'at

Diantara Tanda Matinya Hati

Oleh : Suratno Abu Musaddad

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِا للّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّي عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَا بِهِ أَجْمَعِيْنْ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْـدُ… فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, إِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, أَعُوْذُبِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah,

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah , Robb yang membolak balikkan hati, yang telah memberikan kita nikmat istiqomah dalam iman Islam dan takwa, sehingga kita dapat melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini, terutama nikmat kekuatan yang menguatkan kita salat lima waktu berjamaah di Masjid.

‎Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi yang Mulia baginda Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

‎Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah . Caranya adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya selagi nyawa masih dikandung badan.

Jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati Allah,

Hati adalah pusat keimanan seorang hamba. Jika hati baik, maka baiklah seluruh amal dan perilakunya. Namun jika hati rusak, maka rusak pula kehidupan seorang manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Bukhari dan Muslim),

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ketahuilah, dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”.

Para ulama salaf sangat memperhatikan keadaan hati, karena keselamatan seseorang di dunia dan akhirat sangat bergantung pada kebersihan dan kehidupan hatinya.

Salah satu nasihat yang sangat terkenal berasal dari Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam:

“Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya rasa sedih atas ketaatan yang terlewatkan, dan tidak adanya rasa sesal atas kesalahan yang dilakukan.”

Kalimat yang singkat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam bagi setiap muslim.

  1. Tidak Sedih Ketika Kehilangan Kesempatan Berbuat Baik

Hati yang hidup akan merasa sedih ketika kehilangan kesempatan untuk beribadah dan beramal saleh. Ia merasa rugi ketika terlambat sholat berjamaah, melewatkan tilawah Al-Qur’an, tidak sempat menghadiri majelis ilmu, atau gagal memanfaatkan waktu untuk kebaikan.

Sebaliknya, hati yang mulai mati tidak lagi merasakan kehilangan tersebut. Hari-harinya berlalu tanpa ibadah yang berarti, namun ia tidak merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Padahal waktu adalah modal utama seorang mukmin. Setiap kesempatan beramal yang terlewat sejatinya adalah kerugian yang tidak dapat dikembalikan lagi.

  1. Tidak Menyesal Ketika Berbuat Dosa

Tanda kedua yang lebih berbahaya adalah hilangnya rasa penyesalan terhadap dosa. Seorang mukmin yang hatinya hidup akan merasa gelisah ketika melakukan kesalahan. Ia segera beristighfar, bertaubat, dan berusaha memperbaiki dirinya.

Namun ketika seseorang melakukan maksiat lalu menganggapnya biasa, bahkan mengulanginya tanpa rasa bersalah, maka itu adalah tanda kerasnya hati.

Dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat akan meninggalkan noda hitam pada hati hingga akhirnya hati menjadi keras dan sulit menerima nasihat.

  1. Mengapa Hati Bisa Mati?

    Di antara penyebab matinya hati adalah:

  • Terlalu banyak melakukan maksiat.
  • Lalai mengingat Allah.
  • Jarang membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
  • Terlalu mencintai dunia.
  • Berkumpul dengan orang-orang yang lalai dari agama.

Ketika hati terus-menerus jauh dari Allah, maka kepekaan spiritualnya akan berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak lagi merasakan manisnya ibadah maupun pahitnya dosa.

  1. Tanda Hati Masih Hidup

Kabar baiknya, selama seseorang masih merasa sedih karena meninggalkan kebaikan dan masih menyesal ketika berbuat dosa, maka itu adalah tanda bahwa hatinya masih hidup.

Hati yang hidup akan:

  • Senang ketika melakukan kebaikan.
  • Sedih ketika lalai beribadah.
  • Menyesal ketika berbuat dosa.
  • Mudah menerima nasihat.
  • Rindu untuk semakin dekat kepada Allah.

Karena itu jangan pernah meremehkan rasa penyesalan. Penyesalan yang tulus adalah pintu menuju taubat dan rahmat Allah.

Cara Menghidupkan Kembali Hati

Agar hati tetap hidup dan lembut, perbanyaklah:

  1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.
  2. Memperbanyak dzikir dan istighfar.
  3. Menjaga salat tepat waktu.
  4. Berkumpul dengan orang-orang saleh.
  5. Muhasabah diri setiap hari.

Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Matinya hati bukanlah ketika tubuh berhenti bernapas, tetapi ketika seseorang tidak lagi sedih karena kehilangan kesempatan beribadah dan tidak lagi menyesal atas dosa yang dilakukan.

Marilah kita selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan hati yang hidup, hati yang lembut, hati yang selalu takut kepada-Nya, dan hati yang senantiasa kembali kepada-Nya dalam taubat.

Untuk itu mari kita amalkan doa doa berikut!

  1. Doa mohon untuk tidak dipalingkan ke jalan kesesatan

Do’a yang di ajarkan Alloh (QS. Ali ‘imron [3] : 8)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٨

“Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

  1. Do’a mohon ditetapkan dalam Agama Alloh,

Sabda Rasululloh ﷺ (H.R. Tirmidzi : 3444, Ahmad : 11664, 13200)

أَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ, ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati saya di atas agama-Mu.

  1. Doa mohon petunjuk dalam Agama Alloh, (H.R. Nasai : 1725)

أَللّٰهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ.

Ya Allah, beri saya petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk.

  1. Do’a mohon akhir amalan yang baik,

أَللّٰهُمَّ جْعَلْ خَوَاتِيمَ أَعْمَالِي خَيْرًا.

Yaa Alloh jadikan akhir amalanku dengan kebaikan.

  1. Do’a mohon wafat dalam keadaan Alloh Ridho,

اَللّٰهُمَّ تَوَفَّنِي وَأَنْتَ رَاضٍ عَنِّي.

Ya Allah, wafatkanlah aku dalam keadaan Engkau ridha kepada aku.

Ingat kapan kematian datang kita tidak tahu! (Q.S. Al-A’rof [7] : 34)

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ٣٤

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Rasulullah ﷺ bersabda (H.R. Bukhori 6012),

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا.

Sesungguhnya (hasil) amalan itu tergantung pada penutupnya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ  رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الْـمُرْسَلِيْنَ, وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِيْنَ, أَمَّـابَعْـدُ… مَعَا شِرَ الْمُسْلِمِنَ,  رَحِمَكُمُ اللّٰهُ, تَّقُوْا ٱللّٰهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُوْا ٱللّٰهَۚ قَالَ اللّٰهُ تَعَـالَى فِيْ كِتَا بِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُبِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, إِنَّ ٱللّٰهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا. ٱلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ, وَالصَّلآةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, وَرْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْ حَمَ لرَّا حِمِيْنَ… أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ, يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، أَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا, وَذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا, وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ, وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا, غِلَّا لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا, رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا, وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْن. أَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ  حَقًّا وَارْزُ قْنَا اتِّبَا عَهُ, وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَرْزُ قْنَا اجْتِنَا بَهُ. أَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ, ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ. أَللّٰهُمَّ اِهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ. أَللّٰهُمَّ جْعَلْ خَوَاتِيمَ أَعْمَالِنَا خَيْرًا. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً, وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوُنَ, وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَلْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْن.

Suratno Abu Musaddad

Pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jumantono, Majelis Tabligh PDM Karanganyar dan Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button