Dinamika Pesyarikatan

Dorong Standardisasi Pembelajaran Al-Qur’an, Muhammadiyah Kalibening Ikuti Workshop Metode Ummi

KALIBENING — Muhammadiyah melalui Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kalibening menunjukkan komitmennya dalam memperkuat gerakan pendidikan dan dakwah Al-Qur’an. Komitmen tersebut diwujudkan dengan turut berpartisipasi dalam Sosialisasi dan Workshop Pembelajaran Al-Qur’an Metode Ummi yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPTQ) Kecamatan Kalibening, Ahad (30/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Kalibening tersebut mempertemukan berbagai unsur organisasi keagamaan, lembaga pendidikan Islam, pesantren, serta tokoh agama. PCM Kalibening hadir bersama unsur Muhammadiyah lainnya, termasuk ‘Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Forum Komunikasi Sekolah Muhammadiyah, dan lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Kehadiran Muhammadiyah dalam forum lintas organisasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an di tingkat akar rumput.

Ketua Badko LPTQ Kecamatan Kalibening, Ali Muakif, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang dengan melibatkan berbagai organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan Islam. Sekitar 150 undangan disebarkan untuk menjangkau para pengelola dan pengajar lembaga pendidikan Al-Qur’an di seluruh wilayah Kecamatan Kalibening.

“Mayoritas pengajar TPQ saat ini belum memiliki sertifikat kompetensi resmi. Workshop ini menjadi langkah awal menuju pelatihan bersyahadah atau sertifikasi resmi yang kami targetkan rampung dalam waktu lima hingga enam bulan ke depan, sebelum memasuki bulan Ramadan,” jelasnya.

Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Pendidikan Al-Qur’an

Bagi Muhammadiyah, peningkatan kualitas pendidikan Al-Qur’an merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan dakwah dan pendidikan. Karena itu, kolaborasi lintas organisasi seperti yang dilakukan Badko LPTQ Kalibening dinilai menjadi ruang strategis untuk saling berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas pengajar, sekaligus membangun standar mutu pendidikan Al-Qur’an.

Forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi Muhammadiyah untuk memperkuat jejaring dengan berbagai elemen masyarakat. Selain PCM Kalibening, unsur ‘Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan lembaga pendidikan Muhammadiyah turut hadir bersama MWC NU, Syarikat Islam, Muslimat NU, Fatayat NU, Majelis Ta’lim, pesantren, FKTPQ, FKDT, IGRA, IGBA, serta lembaga PAUD dan TK Islam.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penguatan pendidikan Al-Qur’an membutuhkan kerja bersama. Muhammadiyah memandang kolaborasi semacam ini sebagai bagian dari semangat membangun kemajuan umat melalui pendidikan yang bermutu.

Guru Menjadi Kunci Utama

Workshop menghadirkan trainer Metode Ummi dari Purwokerto, Ustaz M. Saifullah dan Ustaz Aqil. Dalam pemaparannya, Ustaz M. Saifullah menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga kualitas guru dan sistem yang diterapkan lembaga.

Ia menjelaskan tiga pilar utama pembelajaran Al-Qur’an, yakni guru sebesar 60 persen, metode 20 persen, dan sistem 20 persen.

Guru menjadi faktor terbesar karena pengajar tidak hanya dituntut memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memiliki kedisiplinan, kompetensi, serta jiwa dakwah.

“Guru menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an,” jelasnya.

Metode Ummi sendiri mengusung prinsip Mudah, Menyenangkan, dan Menyentuh Hati. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun proses pembelajaran yang sistematis sekaligus memberikan kepastian mutu terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an para santri.

Hingga pertengahan 2026, Metode Ummi disebut telah digunakan oleh lebih dari 846.000 santri secara nasional dan menjadi salah satu pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang terus berkembang di berbagai daerah.

Menuju Guru Al-Qur’an yang Tersertifikasi

Selain penguatan wawasan, workshop juga membahas standardisasi pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an. Di antaranya berkaitan dengan alokasi waktu pembelajaran, rasio guru dan santri, tahapan pembinaan guru, hingga sistem evaluasi.

Metode Ummi memiliki tujuh program dasar penjaminan mutu, yakni Tashih, Tahsin, Sertifikasi, Coaching, Supervisi, Munaqosyah, serta Khotim/Imtihan.

Bagi lembaga pendidikan Muhammadiyah maupun lembaga TPQ lainnya, standardisasi tersebut dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an.

Target sertifikasi guru dalam waktu lima hingga enam bulan ke depan juga diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas. Selain meningkatkan kompetensi pengajar, sertifikasi tersebut dapat mendukung kelengkapan administrasi dalam proses pengajuan izin operasional TPQ melalui aplikasi SIPDAR.

Muhammadiyah dan Gerakan Mencerdaskan Umat

Keikutsertaan Muhammadiyah dalam kegiatan tersebut menegaskan kembali posisi persyarikatan sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang terus berupaya menjawab kebutuhan umat.

Pendidikan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memperbanyak lembaga, tetapi juga membutuhkan guru yang kompeten, metode yang tepat, dan tata kelola yang berkelanjutan.

Karena itu, sinergi antara Muhammadiyah, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, pesantren, pemerintah, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menghadirkan ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang semakin baik di Kalibening.

Melalui kolaborasi tersebut, Muhammadiyah Kalibening berharap gerakan pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut pada peningkatan kualitas guru, penguatan lembaga, dan lahirnya generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, serta memiliki semangat dakwah.

Oleh: Mister Kismadi, SE
MPI PCM Kalibening – KMM PDM Banjarnegara

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button