Artikel

Jangan Berlebihan Menghormati Kyai

Oleh : Didi Eko Ristanto

📅 Rabu, 14 Mei 2026 | 26 Zulkaidah 1447 H

Islam mengajarkan adab kepada ulama dan guru. Menghormati kyai adalah bagian dari akhlak yang baik. Namun Islam juga melarang sikap berlebihan dalam mengagungkan manusia hingga menutup mata dari kesalahan dan penyimpangan.

Timbangan kita bukan perasaan, bukan fanatik kelompok, bukan ketokohan seseorang. Timbangan kita adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Maka sebesar apa pun kedudukan seseorang, jika mengajak kepada kemaksiatan, penyimpangan, pelecehan, zina, perbuatan mesum, bahkan homoseksual, maka wajib ditolak dengan tegas dan dijauhi.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.”
(HR. Ahmad)

Rasulullah ﷺ adalah standar kebenaran.
Jadikan Rasulullah ﷺ sebagai ukuran. Lihat bagaimana beliau menjaga diri dari fitnah wanita, menjaga pandangan, menjaga kehormatan, dan menjaga hati.

Tentang menyentuh wanita non-mahram, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
(HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh sebagian ulama)

Dan ketika para wanita membaiat Nabi ﷺ, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal beliau adalah manusia paling suci hatinya. Namun tetap menjaga batas.
Lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengaku pewaris nabi, tetapi justru bermain-main dengan sentuhan, pelukan, rayuan, bahkan menjadikan agama sebagai alat memuaskan syahwat?
Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah ilmu.

Wahai Santriwati, jagalah dirimu. Jangan mudah tertipu dengan bungkus agama. Jangan merasa bahwa semua yang dilakukan tokoh agama pasti benar. Jangan mau dimanfaatkan karena rasa hormat, takut, sungkan, atau fanatik.

Jika ada kyai, ustadz, guru, atau pemimpin agama yang mengajak kepada hal yang melanggar syariat, maka tolak dengan tegas.

Tidak perlu bangga bisa bersalaman, disentuh, dipeluk, atau “diperhatikan khusus” oleh tokoh agama. Barokah bukan dengan bisa menyentuh kyai, tapi mengamalkan ilmunya. Ketakwaan bukan diukur dari dekatnya fisik dengan guru, tetapi dekatnya hati kepada Allah.

Bahkan sebagian ulama sangat berhati-hati dalam masalah sentuhan dan fitnah wanita.
Allah berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
(QS. An-Nur: 30)

Dan Allah juga berfirman:
“Janganlah kalian mendekati zina.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Perhatikan, Allah tidak hanya melarang zina, tetapi melarang segala jalan yang mengarah kepadanya.

Wahai Para Pemimpin Agama, Jagalah Amanah. Ilmu adalah amanah. Jangan jadikan kedudukan, ketundukan santri, dan penghormatan umat sebagai kesempatan untuk memuaskan hawa nafsu.

Jangan bermain dengan dalil untuk membenarkan syahwat. Jangan memanfaatkan rasa hormat murid untuk melakukan pelecehan. Takutlah kepada Allah.

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi hidupnya penuh kerendahan hati. Beliau tidak meminta diagungkan seperti raja-raja.

Beliau bersabda:
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam.”
(HR. Bukhari)

Beliau duduk bersama orang miskin, membantu pekerjaan rumah, menambal sandal sendiri, melayani umat, dan hidup sederhana.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah ﷺ membantu pekerjaan keluarganya di rumah.”
(HR. Bukhari)

Inilah pemimpin sejati. Bukan yang menuntut dilayani. Tidak meminta dita’dzimi secara berlebihan. Tidak membuat jarak dengan umat. Tidak marah ketika tidak dicium tangannya. Bukan yang merasa dirinya paling suci dan tidak boleh dikritik.

Jadilah pelayan umat. Kemuliaan seorang alim bukan pada banyaknya pengikut, tetapi pada ketakwaannya. Bukan pada penghormatan manusia, tetapi pada rasa takutnya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”
(HR. Abu Nu’aim, maknanya shahih)

Maka wahai para pemimpin agama:
Rendahkanlah hatimu. Jagalah pandanganmu. Jagalah hatimu. Jagalah nafsumu.

Wakafkan hidupmu untuk membimbing umat menuju jalan Allah, bukan untuk mencari penghormatan dunia.

Umat ini membutuhkan ulama yang tulus, bukan yang haus pujian. Membutuhkan pembimbing yang takut kepada Allah, bukan yang menjadikan agama sebagai topeng hawa nafsu.

Semoga Allah menjaga para ulama yang ikhlas, melindungi para santri dan umat Islam dari fitnah, serta menuntun kita semua agar mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dengan benar. Aamiin.

Cilacap, 07 Mei 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button