Resmi Luncurkan Fakultas Kedokteran: UNIMMA Genapkan 23 Kampus Kedokteran Muhammadiyah, Perkuat Ekosistem Kesehatan dari Hulu ke Hilir Sebagai Wujud Dakwah Tauhid

Magelang – Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mencatat sejarah emas dengan meresmikan Fakultas Kedokteran (FK). Peresmian ini bukan sekadar seremonial akademik semata, melainkan sebuah tonggak strategis yang mengukuhkan peran Muhammadiyah sebagai salah satu pilar utama kesehatan nasional. Dengan peluncuran ini, UNIMMA resmi bergabung dan menggenapkan jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang memiliki Fakultas Kedokteran menjadi 23 kampus di seluruh Indonesia. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai organisasi dengan ekosistem kesehatan swasta nirlaba terbesar yang terintegrasi secara mandiri dari hulu hingga ke hilir.
Momentum Bersejarah: Sinergi Tokoh Bangsa
Prosesi peresmian yang berlangsung khidmat ini diwarnai oleh sinergi pandangan dari berbagai tokoh kunci yang menegaskan urgensi kehadiran FK UNIMMA bagi bangsa. Rektor UNIMMA, Dr. Lilik Andriyani, S.E., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendirian FK adalah agenda strategis universitas yang didukung oleh akreditasi institusi “Unggul”, menandakan kesiapan penuh UNIMMA menyelenggarakan pendidikan kedokteran berkualitas demi ketahanan kesehatan nasional. Senada dengan hal tersebut, perwakilan LLDIKTI Wilayah VI memberikan apresiasi tinggi atas perjuangan panjang dan masif UNIMMA dalam membenahi kualitas sarana dan prasarana hingga layak mendapatkan izin pendirian.
Menteri Kesehatan RI, Ir. Budi Gunadi Sadikin, CHFC, CLU, turut hadir menempatkan peresmian ini dalam konteks urgensi nasional yang lebih luas. Ia menyoroti krisis kekurangan tenaga dokter yang mencapai angka 560.000 orang. Menkes menyatakan kepercayaannya kepada Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan terbesar untuk membantu menutup celah tersebut, mengingat kapasitas nasional saat ini baru memenuhi sepertiga dari kebutuhan. Puncak acara ditandai dengan amanat Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang secara resmi meluncurkan FK UNIMMA. Beliau berpesan agar FK ini melahirkan dokter yang “Unggul dan Berkemajuan”, serta menegaskan target ekspansi jaringan kedokteran Muhammadiyah yang akan terus berlanjut demi pemerataan akses kesehatan yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kekuatan Raksasa: Data Jaringan Kesehatan Muhammadiyah
Kehadiran FK UNIMMA semakin memperkokoh jejaring pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh nusantara. Berdasarkan data terkini tahun 2024-2025, Muhammadiyah telah berhasil membangun sistem kesehatan yang mandiri dan terintegrasi. Di sektor hulu, kini terdapat 23 Fakultas Kedokteran di bawah naungan PTMA—termasuk UNIMMA, UMSU, UMY, UMM, hingga UMJ—yang berfungsi sebagai “pabrik” pencetak ribuan dokter Muslim kompeten setiap tahunnya. Sementara di sektor hilir, lulusan-lulusan tersebut disiapkan untuk mengabdi pada jaringan Amal Usaha Kesehatan yang masif, terdiri dari kurang lebih 128 Rumah Sakit (termasuk RS PKU, RS ‘Aisyiyah) serta sekitar 260 Klinik yang menjangkau masyarakat hingga ke pelosok kecamatan. Sinergi antara 23 FK dan ratusan fasilitas kesehatan ini menciptakan siklus kemandirian umat yang luar biasa, mulai dari mendidik calon dokter sendiri hingga menyediakan fasilitas tempat mereka mengabdi untuk rakyat.
Napak Tilas: Tawa yang Menjadi Nyata di Tangan Kyai Sudjak
Di balik kemegahan angka statistik 23 Fakultas Kedokteran dan ratusan rumah sakit hari ini, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang bermula dari “kegilaan” seorang murid KH Ahmad Dahlan bernama Kyai Sudjak. Sejarah mencatat, pada Rapat Anggota Istimewa tahun 1920, Kyai Sudjak yang ditunjuk sebagai Ketua Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO)—cikal bakal PKU—melontarkan gagasan visioner untuk membangun Ziekenhuis (Rumah Sakit), Armhuis (Rumah Miskin), dan Weeshuis (Rumah Yatim). Saat itu, gagasan tersebut disambut gelak tawa oleh para peserta rapat karena dianggap mustahil dilakukan oleh kaum pribumi. Namun, dengan dorongan Kyai Dahlan, Kyai Sudjak tidak untuk merealisasikan mimpinya itu. Tiga tahun kemudian, tepatnya 15 Februari 1923, tawa keraguan itu dijawab dengan berdirinya klinik pertama PKO Muhammadiyah di Jagang, Yogyakarta. Hari ini, visi Kyai Sudjak yang dulu ditertawakan itu telah menjelma menjadi raksasa pelayanan kesehatan yang menaungi bangsa ini.
Filosofi Gerakan: Dari Al-Ma’un hingga Tauhid Sosial
Semangat Kyai Sudjak dan KH Ahmad Dahlan dia atas didasari oleh fondasi teologis yang kuat, yakni pengamalan Surah Al-Ma’un. Cita-cita kesehatan Muhammadiyah melampaui sekadar fisik bangunan, karena pada dasarnya ia adalah gerakan pemurnian tauhid dalam dimensi spiritual dan sosial. Salah satu terobosan revolusioner Kyai Dahlan dan Kyai Sudjak adalah keberaniannya mengadopsi ilmu kedokteran modern di tengah masyarakat yang kala itu masih lekat dengan takhayul dan klenik. Dakwah kesehatan Muhammadiyah bertujuan membersihkan akidah umat dari syirik dengan mengajarkan bahwa penyakit dan kesembuhan berjalan di atas hukum alam ciptaan Allah (Sunnatullah), sehingga sains dan iman menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam ikhtiar manusia.
Selain dimensi akidah, kesehatan dalam Muhammadiyah juga merupakan upaya menegakkan Tauhid Sosial. Berangkat dari Teologi Al-Ma’un, Kyai Dahlan mengajarkan bahwa ibadah ritual hampa tanpa kepedulian sosial, dan di hadapan Allah semua manusia adalah setara. Memberikan layanan kesehatan kepada kaum miskin dan terlantar (mustadh’afin) melalui ratusan klinik dan RS Muhammadiyah berarti mengembalikan martabat mereka sebagai manusia (khalifah) yang mulia. Lebih jauh lagi, layanan kesehatan ini berfungsi sebagai benteng keimanan (Hifz ad-Din), agar umat Islam tidak perlu menggadaikan keyakinannya demi mendapatkan pengobatan. Pada akhirnya, kehadiran FK UNIMMA adalah jawaban konkret atas visi kemandirian bangsa yang diimpikan Kyai Dahlan; jika dahulu pada tahun 1923 Muhammadiyah harus bekerjasama dengan dokter Belanda, kini dengan 23 Fakultas Kedokteran, Muhammadiyah telah mampu memproduksi dokternya sendiri.
Penutup
Peresmian Fakultas Kedokteran UNIMMA adalah pertemuan indah antara kebutuhan pragmatis masa kini dan visi teologis masa lalu. Ia adalah jawaban atas tantangan kekurangan dokter nasional yang dikeluhkan Menteri Kesehatan, sekaligus pembuktian bahwa cita-cita KH Ahmad Dahlan dan Kyai Sudjak untuk memurnikan tauhid melalui amal nyata (Dakwah bil Hal), terus hidup dan semakin membesar di tangan generasi penerus. Dan Video terkait peresmian Fakultas Kedokteran ini dapat dilihat pada tautan berikut: [UNIMMA Siapkan Fakultas Kedokteran](https://www.youtube.com/watch?v=GxJRLm98uB0)
Ditulis oleh Agus Miswanto, MA
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jateng, Anggota Pleno PDM Kab Magelang.




