AkhlaqArtikelTuntunan

Manusia dalam Worldview Islam dan Neurosains

Review Buku Islam dan Neurosains: Isu dan Cabaran; diterbitkan oleh IKIM Malaysia

Oleh : Alvin Qodri Lazuardy/ Kader Muhammadiyah, MT PWM Jateng

Upaya mempertautkan Islam dan neurosains berangkat dari kesadaran bahwa manusia tidak dapat dipahami secara terpisah-pisah. Islam sejak awal memandang manusia sebagai kesatuan *jasad, nafs, qalb, ‘aql, dan ruh*, yang saling terikat dalam satu bangunan makna. Pengetahuan tentang kerja otak dan daya pikir manusia hanya akan utuh bila dibaca dalam kerangka *pandangan hidup Islam (ru’yat al-Islam li al-wujud)* yang menempatkan manusia sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Dalam pandangan Islam, *‘aql* bukan sekadar alat berpikir rasional, melainkan daya untuk menangkap kebenaran dan membedakan yang haq dari yang batil. Namun ‘aql tidak bekerja secara mandiri. Ia selalu berhubungan erat dengan *qalb*, pusat kesadaran batin dan tempat bersemayamnya iman. Karena itu, kualitas berpikir manusia sangat ditentukan oleh keadaan qalb-nya. Akal yang terang tetapi qalb yang sakit akan melahirkan pengetahuan yang kering dari petunjuk Ilahi.

Hubungan antara ‘aql, qalb, dan *iman* menunjukkan bahwa pengetahuan (*‘ilm*) tidak otomatis berbuah kebaikan. Islam mengajarkan bahwa pemahaman sejati adalah *Fahmu al-qalb*, yaitu pemahaman yang melibatkan kejernihan batin. Al-Qur’an menegaskan bahwa kebutaan sejati bukan pada mata, melainkan pada hati yang tidak berfungsi untuk memahami. Dengan demikian, kecerdasan dalam Islam selalu berwatak moral dan spiritual, bukan semata kecakapan berpikir.

Kajian tentang otak dan sistem saraf memberi penjelasan tentang bagaimana manusia berpikir, merasa, dan mengambil keputusan. Penjelasan ini bermanfaat selama dipahami sebagai *wasilah* (sarana), bukan sebagai penentu mutlak hakikat manusia. Islam menolak pandangan yang menyempitkan kesadaran manusia hanya pada kerja jasad, sebab manusia juga memiliki dimensi batin yang bersumber dari ruh yang ditiupkan Allah.

Dimensi batin itu tampak jelas dalam konsep *nafs*. Nafs menggambarkan dorongan dan kecenderungan diri yang bergerak dari tingkat rendah hingga mencapai ketenangan. Islam mengenal nafs *ammarah*, *lawwamah*, dan *mutma’innah* sebagai tahapan penyucian diri. Nafs berinteraksi dengan jasad dan ‘aql, membentuk sikap dan tindakan manusia. Karena itu, perilaku tidak pernah berdiri sendiri, melainkan merupakan pantulan dari keadaan batin seseorang.

Islam tidak berhenti pada pemetaan dorongan jiwa, tetapi menawarkan jalan perbaikan melalui *tazkiyatun nafs*. Penyucian jiwa dilakukan dengan penguatan iman, pengendalian hawa nafsu, serta pembiasaan amal saleh. Dalam kerangka ini, pengetahuan tentang mekanisme emosi dan kebiasaan menjadi alat bantu untuk memperkuat mujahadah an-nafs, bukan untuk membenarkan kelemahan moral manusia.

_Khatimah_, perjumpaan Islam dan neurosains diarahkan pada pembentukan *insan kamil*, manusia yang seimbang antara akal yang tercerahkan, qalb yang hidup, nafs yang terdidik, dan jasad yang terarah dalam ketaatan. Islam memberi tujuan dan arah hidup, sementara pengetahuan tentang daya pikir dan perilaku menjadi sarana untuk menapaki jalan itu dengan lebih sadar. Inilah keseimbangan ilmu dan iman yang sejak lama menjadi ruh dalam tradisi keilmuan Islam.

Related Articles

One Comment

  1. ilmu neurosains sangat menarik, khususnya tentang Neurosains Komputasional: Menggunakan matematika dan komputer untuk mensimulasikan cara kerja otak. Ini dunia programming yang sangat menantang, wabil khusus lagi berkaitan dengan akan imitasi.

Tinggalkan Balasan

Back to top button