ArtikelIbadahTuntunan

Hakikat Puasa Ramadhan

Oleh: Danusiri ( PDM Kota Semarang)

📅 Ahad, 29 Maret 2026 | 10 Syawal 1447 H

Satu diantara 5 rukun Islam adalah ṣaum Ramaḍân. Kata ṣaum dipadankan dalam Bahasa Indonesia puasa, dalam Bahasa Jawa poso. Ternyata kata puasa terambil dari bahasa Sangsekerta upavasa atau upawasa. Makna istilah yang dimaksud antara ṣaum dan upawasa siwaratri (puasa wajib) ternyata relatif sama, yaitu mencegah makan, minum, dan pelampiasan syahwat sejak matahari terbit hingga tenggelamnya.

Ṣaum dalam Islam dilakukan sebulan penuh, bisa 29 hari atau 30 hari tergantung hasil penghitungan kapan jatuhnya hilal (tanggal satu Ramadhan) atau ru’yah, yaitu menyaksikan langsung di ufuk barat apakah matahari telah mendahului tenggelam dibanding tengelamnya bulan. Mengapa ditentukan pada bulan Ramadhan? Kewajiban puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ditunjukkan oleh banyak hadis. Satu diantaranya adalah hadis:

قَالَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

(Beliau bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mendirikan salat, dan berpuasa pada bulan Ramadlan, maka Allah berkewajiban memasukkannya kedalam surga (HR Bukhari: 6873,2581).

Alquran menjelaskan ketetapan berpuasa seperti umat sebelum Islam (QS al-Baqarah/2: 183). Kemudian Rasulullah menetapkan bahwa kewajiban puasa dilaksanakan pada bulan Ramadhan atas dasar potongan ayat faman syahida mingkumusy-syahra falyashum-hu (QS. al-Baqarah/2: 184). Gugusan ayat tentang puasa mulai ayat 183 sampai 187, terantarai ayat 186 tentang doa-mendoa). Jadi tidak bisa dimaknai bulan lainnya, kecuali puasa sebulan penuh itu dilaksanakan pada bulan Ramadhan.

Pensyariatan puasa Ramadhan dimulai tahun ke dua Hijriah. Selanjutnya, setiap bulan Ramadhan berikutnya seluruh umat Islam di zaman Nabi mesti berpuasa sebulan penuh. Dengan dimikian tambah meyakinkan bahwa puasa sebulan penuh itu dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Mengapa ketentuan puasa ditetapkan bulan Ramadhan? Menentukan puasa sebulan harus di bulan Ramadhan merupakan hak Allah dan Rasulnya. Sebagai umat beriman hanya merespon dengan ungkapan sami’nâ wa atha’nâ, selanjutnya mereka melaksanakan puasa. Artinya akal tidak bisa menjawab secara memuaskan akal itu sendiri mengapa harus di bulan Ramadhan dan bukan bulan-bulan lainnya. Akal hanya melakukan rasionalisasi di balik ketetapan bulan Ramadhan, dengan cara mencari-cari hikmah yang terkandung di dalamnya. Hanya saja, melakukan rasionalisasi terhadap syariat, tidak mesti menghasilkan pemahaman rasional. Angelicano With, peneliti orisinalitas naskah Alquran membanding-bandingkan kitab suci semua agama besar di dunia berkesimpulan bahwa Alquran merupakan kitab suci yang paling orisinal. Paul Tillich menyebutkan Islam adalah agama yang paling rasional. Satu diantara sekian banyak bukti adalah penemuan jasad Fir’aun. Hasil penelitian Maurice Buchail tentang Fir’aun, ternyata telah dikatakan secara akurat oleh Rasulullah1400 tahun sebelum dia menelitinya.

Jika bisa menetapkan rasional suatu ajaran, hati semakin mantap karena rasio menerangi iman. Hati menerima ajaran secara ‘irfani (versi Muhammadiyah) atau ma’rifat (versi NU). Nah, penulis melakukan rasionalisasi mengapa puasa itu dilakukan pada bulan Ramadhan. Kata Ramadhan berasal dari kata Arab Ramadha. Artinya panas terik yang sangat menyengat. Disebutkan: اَرْمَضَ الشَّيْءَ (memanasi sesuatu) berarti اَحْرَقَهُ (membakarnya – Kamus al-Munawwir: 571). Saat bulan Ramadan tiba suhu udara sangat panas dan memerlukan kekuatan dan kesabaran ekstra untuk berpuasa. Dengan demikian makna membakar baik secara ruhani maupun secara praktis adalah membakar dosa selama sebulan penuh. Tentu, dosa itu hangus, alias musnah. Itulah sebabnya Nabi bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR Bukhari: 38, Muslim: 760).

Karena secara praktis makna Ramadhan adalah membakar dosa, caranya bersabar tidak makan, minum, pelampiasan syahwat dan ini amat berat, terutama bagi pengantin baru, maka bulan puasa ini disebut bulan tarbiyah (bulan mendidik) jiwa untuk mensucikan diri dari berbuat dosa. Sebaiknya, pasangan muda mudi jangan menikah pada hari-hari menjelang Ramadhan supaya kuat dalam menahan nafsu birahi di siang hari. Hendaknya, paling akhir pertengahan Rajab untuk melangsungkan pernikahan, sehingga satu setangah bulan kemudian tentu sudah nyaman untuk melakukan puasa karena ibarat makan sudah tondak-tanduk sehingga telah benar-benar kenyang, berpuasa menjadi tenang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button