Mubaligh Muhammadiyah “Garis Lucu” Hidupkan Ahad Pagi, Jamaah Masjid At-Taqwa Enggan Beranjak

Suruh- Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Suruh di Masjid At-Taqwa Sanggrahan, Ahad (1/3), berlangsung hangat dan penuh gelak tawa.
Hadir sebagai penceramah, Ustadz Dr. Ibnu Sholeh,MA, MPI, dari Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah, yang dikenal sebagai mubaligh Muhammadiyah “garis lucu” — tegas dalam prinsip, namun renyah dalam penyampaian.
Sejak awal tausiyah, suasana masjid sudah terasa hidup.
Dengan gaya khas yang santai namun berbobot, Ustadz Ibnu mengajak jamaah memahami hakikat dakwah yang menyejukkan. Ia menekankan bahwa dakwah bukanlah ajang merasa paling benar, melainkan proses mengajak dengan hikmah dan kasih sayang.
“Dakwah itu harus merangkul, bukan memukul. Mengajak, bukan mengejek,” tegasnya, disambut anggukan dan senyum para jamaah.
Menurutnya, dinamika dakwah di tengah masyarakat memang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Perbedaan karakter, latar belakang, dan tingkat pemahaman menjadi tantangan tersendiri.
Namun, ia mengingatkan agar para dai dan aktivis persyarikatan tetap mengedepankan kesabaran.
“Kalau belum sesuai dengan kehendak kita, jangan marah. Doakan. Karena yang punya hidayah itu Allah, bukan kita,” ujarnya.
Beliau menegaskan bahwa tugas manusia hanyalah menyampaikan, bukan menentukan hasil.
Antusiasme jamaah terlihat hingga akhir acara. Meski waktu telah menunjukkan pukul 06.00 WIB, banyak jamaah enggan beranjak, berharap kajian diperpanjang.
Gelak tawa yang berpadu dengan pesan-pesan serius menjadikan suasana Ahad pagi itu terasa segar dan berkesan.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Ibnu berpesan agar para orang tua dan kader Muhammadiyah menyiapkan generasi penerus sebagai pejuang dakwah.
“Jadikan anak-anak kita pejuang dakwah, apa pun profesinya.
Dokter bisa berdakwah, guru bisa berdakwah, pengusaha pun bisa berdakwah. Dakwah itu bukan soal mimbar saja, tapi soal kebermanfaatan,” pesannya.
Kajian Ahad pagi PCM Suruh ini kembali menegaskan bahwa dakwah yang menggembirakan dan merangkul menjadi kebutuhan umat hari ini — menghadirkan Islam sebagai rahmat, bukan sebagai ancaman.
Kontributor: Satrya Zidni Prasetyo (Medkom KMM PWM Jawa Tengah)




