
Oleh : Ernawati (Guru SD Muhammadiyah Kranggan, Anggota majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)
Guru sering dipersempit maknanya sebagai pengajar di ruang kelas: menyampaikan materi, memberi tugas, lalu menilai hasil belajar. Padahal, peran guru jauh melampaui itu. Guru adalah arsitek peradaban, pembentuk arah bangsa, dan penentu kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Di tangan guru, masa depan negara dirancang—bukan dalam satu hari, tetapi lintas generasi.
Dalam perspektif keilmuan dan keimanan, profesi guru menempati posisi yang sangat mulia. Islam bahkan secara tegas menempatkan orang berilmu pada derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Ilmu dan Kemuliaan Guru dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar alat duniawi, melainkan jalan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah sebab ditinggikannya derajat manusia, dan guru—sebagai pemilik sekaligus penyampai ilmu—menempati posisi yang sangat mulia. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk akhlak, melatih kecakapan hidup, serta membangun karakter generasi penerus bangsa.
Dalam pandangan Islam, mendidik manusia adalah amal jangka panjang yang pahalanya terus mengalir. Oleh karena itu, di mata Allah, derajat seorang guru bukan sekadar profesi, melainkan amanah peradaban.
Tugas Guru: Lebih dari Sekadar Transfer Ilmu
Secara hakikat, tugas guru mencakup tiga dimensi utama. Pertama, mentransfer ilmu pengetahuan sebagai fondasi berpikir rasional dan kritis. Kedua, mendidik kecakapan dan keterampilan agar peserta didik mampu hidup mandiri dan produktif. Ketiga, membangun karakter, moral, dan etika sosial agar ilmu tidak melahirkan kerusakan.
Dengan kata lain, guru membentuk manusia seutuhnya. Dari ruang kelas sederhana, guru sebenarnya sedang menyiapkan dokter, ilmuwan, pemimpin, insinyur, dan pembuat kebijakan masa depan. Guru tidak hanya mencetak lulusan, tetapi menentukan kualitas peradaban.
Paradoks Pendidikan di Indonesia: Guru Dimuliakan Secara Retorika, Dimiskinkan Secara Sistemik
Ironisnya, sistem pendidikan di Indonesia belum menempatkan guru pada derajat yang layak. Secara simbolik guru sering diagungkan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi secara struktural mereka kerap mengalami marginalisasi.
Ilmu diremehkan secara sistemik. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai investasi jangka panjang, melainkan sebagai beban anggaran. Negara cenderung lebih menghargai output instan—yang dapat langsung dikonsumsi—daripada pembangunan fondasi kognitif dan intelektual bangsa.
Akibatnya, tidak sedikit guru yang masih bergulat dengan persoalan ekonomi dasar: gaji yang tidak memadai, kesejahteraan yang timpang, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makan diri dan keluarganya. Di sinilah muncul dikotomi guru di Indonesia: antara guru negeri dan swasta, guru honorer dan ASN, guru kota dan desa, yang semuanya memperlihatkan ketimpangan perlakuan negara terhadap profesi pendidik.
Gaji Guru dan Kontradiksi Kebijakan Konsumtif
Ketimpangan semakin terasa ketika kebijakan negara lebih fokus pada program konsumsi jangka pendek, seperti bantuan makan bergizi gratis, sementara kesejahteraan guru—sebagai fondasi pembangunan SDM—masih tertinggal. Bahkan guru ngaji di negara ini seringkali gratis dalam bekerja.
Makan bergizi memang penting, tetapi dampaknya bersifat sementara. Perut kenyang hanya dirasakan sehari, sementara ilmu pengetahuan membentuk cara berpikir, etos kerja, dan kualitas hidup seseorang sepanjang usia, bahkan lintas generasi. Tanpa guru yang sejahtera dan bermartabat, program apa pun akan kehilangan arah dan keberlanjutan.
Negara membayar mahal, tetapi bukan untuk ilmu. Yang diutamakan adalah urusan perut, bukan kecerdasan.
Guru pada Masa Kejayaan Islam: Dimuliakan dan Didengar Negara
Sejarah peradaban Islam memberikan gambaran kontras. Pada masa kejayaan Islam, guru dan ulama tidak hanya diberi gaji yang layak—bahkan fantastis untuk ukuran zamannya—tetapi juga dihormati secara sosial dan politik. Mereka dijadikan penasihat negara, rujukan kebijakan, dan penjaga moral kekuasaan.
Negara pada masa itu takut pada kebodohan, karena kebodohan dianggap ancaman peradaban. Ilmu dijaga, guru dimuliakan, dan pendidikan menjadi prioritas utama.
Bandingkan dengan kondisi hari ini. Negara justru lebih takut pada biaya pendidikan daripada dampak kebodohan. Ketika guru dimiskinkan, kebodohan akan diwariskan. Ketika ilmu diabaikan, kerusakan akan dilanggengkan.
Mengapa Ilmu dan Guru Harus Dihargai Mahal?
Ilmu seharusnya dihargai mahal karena dampaknya tidak instan, tetapi menentukan arah bangsa. Guru layak mendapat penghargaan tinggi—secara ekonomi, sosial, dan politik—karena mereka bukan sekadar pengajar, melainkan pembentuk arah negara.
Guru menanam benih yang hasilnya baru terlihat puluhan tahun kemudian. Negara yang abai pada guru sedang menabung krisis, bukan kemajuan.
Guru bukan hanya pengisi ruang kelas. Guru adalah fondasi negara. Jika negara ingin maju, bermartabat, dan berdaulat, maka memuliakan guru adalah keharusan, bukan pilihan. Sebab, guru membentuk arah negara, bukan sekadar mengajar di kelas.




